Senin, H / 02 Februari 2026

What Matters Most

Jumat 30 Jan 2026 13:48 WIB

Author :Iwan Pramana, ST, MM, PCC

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

ESQNews.id, JAKARTA - Soekarno - Hamka



Siapa yang tak kenal Soekarno, Proklamator Kemerdekaan RI yang terkenal dengan gaya orasinya yang gegap gempita yang bisa mengispirasi para pendengarnya. Namanya menggelegar ke seantero dunia. 

Siapa pula yang tak kenal HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), ulama dan cendekiawan asal Sumatera Barat. Kedua-duanya tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya tahun 1938, Buya Hamka dipertemukan dengan Soekarno oleh aktivis muslim Tionghoa Abdul Karim Oei di Bengkulu (1). 

Waktu itu Buya Hamka datang ke Bengkulu dalam rangka kegiatan Muhammadiyah. Sedangkan Bung Karno baru dipindahkan dari Ende oleh Belanda sebagai tahanan politik.

Ketika Indonesia telah merdeka, pada tahun 1946 Soekarno mengajak Hamka untuk pindah dari Medan ke Jakarta. Namun sempat tertunda karena Agresi Militer Belanda tahun 1947. 

Tahun 1950, Hamka membawa keluarganya ke Jakarta. Bung Karno juga sering mengundang Hamka untuk berceramah di Istana Negara dalam rangka memperingati hari besar keagamaan.

Hamka kemudian terjun di dunia politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka terpilih duduk di Konstituante mewakili Masyumi, partai kedua pemenang Pemilu. 

Namun seiring dengan memanasnya kondisi politik kala itu, hubungan keduanya mulai merenggang. Hal itu tidak lepas dari pengaruh PKI yang mulai memperalat secara politik posisi Bung Karno, karena Hamka aktif di Masyumi, partai yang paling dibenci PKI (2).

Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. 

Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Hamka ditangkap saat memberikan pengajian di bulan Ramadhan dan dijebloskan ke tahanan di Sukabumi pada tahun 1964 (2). 

Ia ditahan karena dianggap melanggar UU Anti-Subversif Perpres No. 11. Ia dituding terlibat dalam upaya pembunuhan Sukarno dan Menteri Agama saat itu, Syaifuddin Zuhri. 

Namanya dihancurkan, perekonomiannya dimiskinkan, kariernya dimatikan dan buku-bukunya dilarang beredar sejak itu.

Ia di penjara selama 2 tahun 4 bulan. Hikmah terbesar dari hal ini adalah, ia berhasil menyelesaikan Tafsir 30 Juz Al Quran di dalam penjara.

Setelah G30S PKI kehidupan Soekarno sebagai presiden pun tak mudah. Kesehatannya pun menurun karena penyakit ginjal yang dideritanya sejak 1961. 

Ia juga menolak saran dokter dari Wina untuk mengangkat ginjal kirinya. Kondisi politik pun tak menentu. Pada tahun 1967 MPRS mencabut mandatnya sebagai presiden. Ia wafat pada 21 Juni 1970 (3).

Di hari wafatnya Soekarno, datanglah utusan ke rumah Hamka yang mengabarkan bahwa Soekarno sudah wafat. Mereka membawa pesan dari almarhum agar Hamka dapat mengimami shalat jenazahnya. 

Meski pernah dipenjara, Hamka tak mendendam pada sahabatnya. Hamka bahkan memuji Soekarno yang membangun Masjid Baitul Rahim di Istana Negara dan Masjid Istiqlal. 

Ia pun menyelesaikan tafsir Al-Azhar berkat andil Soekarno. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. 

Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. 

Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu (4).

Ketika Shizuka Memilih



Jika Anda seseorang yang sedang mencari pasangan, mana yang akan Anda pilih sebagai calon pendamping hidup Anda di antara kriteria berikut:

A. Good looking, pintar

B. Bisa diandalkan, tangguh

C. Tajir belum melintir

D. Lawan kata dari semua di atas

Mana yang Anda pilih? A, B, atau C? Ada yang pilih D? (tidak good looking, tidak pintar, tidak bisa diandalkan, tidak Tajir, tidak tangguh).

Dalam animasi Stand By Me Doraemon (5) dikisahkan awal mula bagaimana Doraemon didatangkan oleh cicitnya dari masa depan, saat Nobita duduk di kelas 4 untuk memperbaiki keadaan di masa depan. 

Misi Doraemon menjadi penting karena jika ia gagal, masa depan Nobita akan suram. Jika keadaannya membaik, kata Doraemon, salah satu tandanya Nobita akan menikah dengan Shizuka, cewek yang jadi gebetannya. 

Maka dimulailah petualangan Doraemon untuk memperbaiki masa depan dengan membantu Nobita dengan segala alat-alat dari masa depan yang dimilikinya.

Meski Doraemon tidak menganjurkan untuk sering-sering bergantung pada alat-alat yang dibawanya, namun begitulah Nobita, Anda tahu sendiri kan: cengeng, tidak bisa diandalkan, seenaknya sendiri, malas, maunya apa-apa cepet, mudah menyerah, dll.

Dengan adanya Doraemon, Nobita menjadi semangat belajar, sebentar tapi, karena ia melihat hal yang menghancurkan masa depannya. 

Ia melihat Dekisugi, teman sekelasnya yang serba lebih dari dirinya, lebih pintar, lebih ganteng, sering bersama Shizuka. 

Dan ia melihat Shizuka juga senang saat ngobrol dengan Dekisugi. Mereka kalo ngobrol nyambung. 

Ini bikin Nobita frustasi. Ia ngerasa gak mungkin bersaing dengan Dekisugi. Ia kalah dalam segala hal.
Singkat cerita, di masa depan, ternyata entah bagaimana caranya Nobita sudah meminta Shizuka menjadi istrinya, tapi belum dijawab. 

Dekisugi juga pernah meminta hal yang sama. Gian & Suneo juga (tidak digambarkan dalam film).

Akhirnya, dari semua cowok-cowok itu, Shizuka menjawab permintaan Nobita. Ia memilihnya sebagai calon pendampingnya (ketika Nobita datang menyelamatkannya dari badai salju), bukan cowok-cowok yang lain. 

Dalam acara makan-makan di rumah Gian, kepada Nobita Dekisugi berkata,"Kita semua pernah menyukainya. Tapi dia jatuh cinta padamu. Buat dia bahagia, oke? Kuharap aku yang akan menikahinya. Tapi dia mengatakan aku bisa melakukan segalanya sendiri."

Tampaknya, kacamata yang dipakai Shizuka berbeda dengan wanita pada umumnya. Dia memilih opsi D. Ia tidak memilih:

A. Good looking, pintar (Dekisugi)
B. Bisa diandalkan, tangguh (Gian)
C. Tajir belum melintir (Suneo)

Tapi ia memilih D. Lawan kata dari semua di atas (Nobita). Tentu ada pertimbangan sendiri mengapa ia melepaskan atribut-atribut 'mewah' yang tidak dimiliki Nobita. Buatnya, yang paling penting -the most matter- bukanlah A, B, atau C. Hmm.. apa itu? 

Penyebabnya baru diketahui di akhir film saat Shizuka ngobrol dengan Ayahnya. Kata ayah Shizuka, "Kau tepat telah memilihnya. Dia hanya pria biasa tanpa bakat khusus. Tapi dia ingin orang lain bahagia. 

Ia bisa merasakan kesedihan orang. Itulah yang menjadikan manusia baik. Ayah yakin dia akan membuatmu bahagia, dan ayah bangga akan pilihanmu."

Jika Anda laki-laki / wanita yang merasa tidak punya atribut A, B dan C, tenang.. ada seseorang di luar sana yang tidak perlu itu. Yang dilihatnya hanyalah kebaikan hatimu. Berdoalah..

Memilih What Matters Most

Pertanyaan sederhananya adalah: Bagaimana caranya kita menentukan apa yang paling utama buat kita? 

Hal ini menjadi penting karena tiap orang punya kriteria yang berbeda tentang hal ini. Hyrum W Smith (6) mengatakan bahwa ada tiga hal utama yang menentukan dalam memilih hal-hal yang paling utama.

Ketiganya sama penting, ibarat kursi berkaki tiga yang jika salah satunya tidak ada, akan oleng ke kanan dan ke kiri. Tiga hal itu adalah:

1. Peran
2. Nilai
3. Misi

Peran

Tiap orang dalam hidup ini pasti punya peran. Peran ini keseharian kita. Ada peran sebagai anak, orang tua, karyawan, atasan, anggota komunitas, dan lain-lain. Bahkan ada peran yang tiba-tiba melekat tanpa kita sadari. 

Tiap peran akan punya prioritas. Dan dengan semakin banyaknya peran, akan semakin banyak hal-hal yang akan dipertimbangkan ketika memilih prioritas.

Nilai

Secara sederhana Nilai adalah hal-hal prinsip / dasar yang kita yakini kebenarannya dan menjadi pemandu hidup kita. 

Misal: Nilai kita adalah jujur. Maka dalam hidup kita akan hidup dengan jujur. Jujur buat kita adalah hal yang utama.

Misi

Secara sederhana Misi adalah apa yang ingin kita capai dalam kehidupan ini. Sifatnya bisa panjang (seluruh kehidupan) atau juga pendek (untuk meraih sesuatu). 

Namun, apa pun itu, misi ditulis untuk menginsipirasi diri kita sendiri agar mencapai apa yang kita inginkan dan bukan untuk mengesankan orang lain.

Jadi, di awal tahun baru 2026 ini, sudahkan Anda menentukan prioritas tahun ini? Berikut beberapa pertanyaan reflektif yang bisa Anda gunakan untuk berdialog dengan diri Anda. Jika membutuhkan teman diskusi, silahkan DM saya ya.. :)

Peran: Apa peran utama Anda saat ini? Apakah peran itu sudah sesuai dengan yang Anda inginkan? Jika iya, mengapa? Jika belum, mengapa belum? Dari skala 1-10, 1 sangat bukan saya, dan 10 itu gue banget, di angka berapa posisi Anda saat ini? Jika belum maksimal, apa yang akan Anda lakukan? Apa kira-kira tantangan untuk mewujudkannya? Apa yang akan Anda lakukan untuk meminimalkan tantangan itu? Bagaimana memastikan bahwa Anda akan memperjuangkan peran ini?

Nilai: Nilai apa saja yang Anda anut yang membawa Anda sampai ke hari ini? Seberapa besar nilai itu dalam memandu hidup Anda? Dalam skala 1-10, 1 tidak berpengaruh, 10 sangat berpengaruh. Seberapa besar tantangan dalam menjalankan nilai itu? Jika belum maksimal, bagaimana Anda akan mengatasi tantangan itu? Siapa / apa yang akan menjadi supporter Anda untuk memastikan nilai itu bisa terimplementasi?

Misi: Apa misi hidup Anda? Mengapa itu yang dipilih? Apakah saat ini sudah terwujud? Berapa %? Bagaimana dengan hal yang belum tercapai, bagaimana Anda mencapainya? Apa tantangan terbesar dalam mencapainya? Apakah Anda sudah punya rencana untuk mengatasi tantangan itu? Bantuan apa / siapa yang Anda butuhkan untuk menghadapi tantangan itu? Apa yang Anda lihat jika misi itu sudah tercapai?



Selamat tahun baru 2026. Selamat menyelami diri sendiri.

Sumber: Iwan Pramana, Bertempurlah tapi Dengan Gagah 2, Insan Mandiri Cendekia, 2020. ISBN: 978-623-93948-3-7

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA