ESQNews.id, JAKARTA - Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Adin melongok keluar jendela.
“Yah, masih hujan…,” gumamnya.
Dari semalam hujan turun deras. Komplit dengan petir dan gelegar suaranya - cukup membuatnya bergegas mematikan TV dan komputer.
Takut kena efek petir. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Dua hari lalu, Pak Sunu, pas ngobrol-ngobrol santai, bilang bahwa Depok adalah kota terpetir se-Indonesia.
“Ah, yang bener, Pak?!”
“Coba gugling deh,” ujar Pak Sunu.
“Ternyata…” Adin menunjukkan layar HP-nya ke Pak Sunu.
“Bener kan?” kata Pak Sunu.
“Saya bacain ya, Pak. Kota Depok disebut sebagai kota petir, dikarenakan kota ini memiliki petir yang paling berbahaya di dunia dan paling sering terjadi.
Dahsyatnya sambaran petir yang kerap terjadi di Depok membuat kota ini terdaftar dalam Guinness Book of World Record.”
Dan pagi ini, ia harus sampai di Jakarta jam delapan untuk bertemu klien. Ia menyeruput teh hangat sambil berharap hujan yang tak begitu deras ini mereda. Iseng, ia membuka pintu rumah.
“Weeeerrrr…” udara pagi yang segar berebutan masuk.
Ia terkejut ketika mendapati ternyata hujan sudah berhenti.
Hore! Bergegas ia mengorder ojek online untuk berangkat ke stasiun kereta terdekat. Sayup-sayup lagu Dewa 19 dari TV yang menyala di ruang tengah merambat memasuki telinganya, entah apa judulnya.
Tak lama, ia sampai di stasiun kereta. Sekilas ia melihat jam di stasiun: 05.30. Pengeras suara mengumumkan kereta tujuan Jakarta akan datang.
Waduh! Ia ingin berlari mengikuti orang lain. Tapi apa daya, lutut kanannya tiga bulan ini sakit. Jika kumat, nyerinya tak tertahankan. Ia hanya bisa meringis sambil menahan sakit.
Sambil memaksakan diri, ia bergegas melewati jalur bawah tanah. Ketika sampai di ujung menaiki deretan anak tangga terakhir, ia melihat kereta belum berangkat.
Sambil menahan nyeri, ia naik kereta dan menjadi orang terakhir yang naik pagi itu dari Stasiun Depok. Dengan napas tersengal, ia bersyukur bisa keangkut di kereta itu.
Dalam hatinya, Adin bertanya-tanya… Tumbenn… Biasanya nggak sampai 10 detik sudah berangkat…
Di perjalanan, hujan mulai turun lagi. Deras, ras… ras…
Sampai di Stasiun Manggarai ternyata masih pagi, masih dengan langit yang sama gelapnya saat ia berangkat tadi.
Namun tidak hujan. Feeling-nya mengatakan ia harus segera pergi ke TKP, sebelum hujan turun lagi.
“Bang! Bundaran Kuningan,” ia memanggil ojek.
Sampai di gedung tempat klien masih pagi. Amaan…Namun, dugaannya benar.
Tak berapa lama kemudian, hujan turun dengan air yang berlimpah. Deras, ras… ras… ras… ras. Lengkap dengan angin kencang, sampai air yang turun membentuk sudut 45 derajat, membuat pengendara motor harus segera berteduh, orang - orang berlarian masuk gedung.
Tapi di mata Adin, angin seperti ini… rasanya menyegarkan!
Ia keluar ke dekat pintu, menikmati hempasan angin sambil memejamkan mata. Suara angin yang berdesing di telinga, bintik-bintik air yang beterbangan ke wajahnya… membuatnya merasa hidup ini layak dinikmati.
Hujan menemani siapa saja yang beraktivitas di luar. Untungnya, sepanjang pagi itu Adin ada di kantor klien.
Namun, ketika ia melihat dari jendela di lantai 22, hujan tak berhenti dan tak bosan ia menyapa Jakarta - kota yang beberapa puluh tahun lalu membuat Koes Plus, grup kondang kala itu, berjanji ingin kembali.
Ke Jakarta aku kan kembali… Walau pun apa yang kan terjadi…
Menjelang jam dua belas siang, pertemuannya selesai. Hujan masih deras. Tiba-tiba ia merasa perutnya lapar. Setelah melahap mi bakso, ia kembali ke lobi.
“Wah! Hujan sudah berhenti!” Segera ia mengorder ojek online, kembali ke Stasiun Manggarai.
Saat ia menaiki kereta, hujan turun lagi. Butir-butir air keras menampar kaca kereta yang melaju kencang.
Adin berdiri di dekat pintu, mengamati langit yang masih mendung dan hujan yang kembali turun.
Ia bersyukur perjalanan hari ini dimudahkan. Mulai naik ojek dari rumah, kereta pagi tadi yang menunggunya, ketika ia butuh naik ojek, tidak hujan. Ketika sudah sampai, barulah hujan turun. Ia menebak-nebak lagi dalam hati.
“Jangan-jangan sampai Depok hujannya berhenti…”
Tiba-tiba ia merasa GR pada Tuhan. Merasa spesial. Seperti rasa martabak dengan empat telur: Martabak Spesial.
“Coba pikir, Din, mana ada kebetulan yang terus-menerus sepanjang setengah hari?” Ia berdialog dengan dirinya sendiri.
“Iya ya, bener juga.” Dirinya yang lain mengiyakan.
“Tapi… bisa juga sih. Doa abang ojolnya kali.”
Ketika ia turun di Stasiun Depok, dugaannya ternyata tepat, hujan berhenti. Dan ia tersenyum sendiri. Sambil melihat langit, ia berkata dalam hati,
“Terima kasih untuk hujan yang berhenti setiap aku naik ojek. Terima kasih atas angin yang luar biasa dan sesejuk ini, terima kasih… Akhirnya aku bisa GR pada-Mu hari ini.”
Buat orang lain, mungkin ini kejadian biasa. Namun buat Adin, hari itu beda. Sambil berjalan menuju pangkalan ojek, sayup-sayup ia mendengar lagu Dewa yang tadi pagi ada di TV…
Sumber: Iwan Pramana, Bertempurlah tapi Dengan Gagah 2, Insan Mandiri Cendekia, 2020. ISBN: 978-623-93948-3-7