#CeritaHK
ESQNews.id, JAKARTA - Aku adalah atasan mereka. Di atas kertas, aku memimpin sebuah tim yang solid dan produktif. Target tercapai, laporan rapi, jadwal terpenuhi. Namun di balik semua itu, ada ketegangan yang tak tertulis.
Aku bisa merasakannya dari cara mereka menjawab singkat, dari senyum yang hanya formalitas. Aku jengkel. Aku marah dalam diam.
Mengapa semua terasa dingin padahal hasilnya baik?
Aku menuntut lebih.
Kupikir tekanan adalah cara terbaik untuk menjaga standar. Nada suaraku meninggi, kata-kataku tajam, semua atas nama profesionalisme.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada yang resign. Mereka tetap bekerja. Justru itulah yang membuatku semakin gelisah. Sunyi mereka lebih keras dari bantahan.
Di suatu malam yang panjang, aku pulang dengan dada sesak.
Aku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku membentuk tim, atau hanya membentuk ketakutan?” Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku menyadari, selama ini aku fokus membentuk hasil, tapi lupa membentuk manusia. Aku ingin dihormati, tapi lupa memberi rasa aman.
Keesokan harinya, aku memilih diam sebelum bicara.
Aku mulai bertanya, lalu mendengar. Aku menahan keinginan untuk selalu benar. Tidak ada drama. Tidak ada pembelaan. Perlahan, suasana berubah.
Ada tawa kecil yang kembali muncul, ada mata yang lebih berani menatap. Di situ aku merasakan haru, ternyata perubahan dimulai dari dalam diriku sendiri.
Aku belajar, proses yang berat sering kali datang bukan untuk menghancurkan, tapi untuk membentuk. Konflik ini bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang siapa yang mau bertumbuh. Dan aku memilih bertumbuh.
Kepemimpinan sejati dibentuk oleh kesadaran diri, bukan oleh kekuasaan.
Mari kita jalani setiap proses dengan hati terbuka. Karena saat kita mau bercermin dan belajar, setiap tekanan bisa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih bijak.
"Karakter seseorang tidak dibentuk oleh kenyamanan, tetapi oleh cobaan dan kesulitan.” — Helen Keller
https://www.instagram.com/reel/DTlJR8bkmNq/?igsh=MWI1cDl6a2p3MGY5Zw==
