#NarasiHafasa
ESQNews.id, JAKARTA - Aku dulu mengira cinta harus selalu gaduh. Harus penuh kejutan, emosi naik turun, dan kata-kata manis yang diulang setiap waktu. Aku pikir, jika tidak ada pertengkaran, berarti tidak ada rasa.
Jika tidak ada drama, berarti cinta itu hambar. Pandangan itu menemaniku cukup lama, sampai hidup pelan-pelan mengajarkanku arti yang berbeda.
Dalam keseharian, cinta hadir tanpa sorotan. Ia ada saat lelah setelah hari panjang, ketika percakapan tak selalu seru tapi tetap jujur. Ada hari kami diam lebih banyak, bukan karena marah, tapi karena saling mengerti.
Awalnya aku jengkel. Apakah ini tanda cinta mulai pudar? pikirku. Namun di balik sunyi itu, ada rasa aman yang tumbuh perlahan.
Aku belajar bahwa cinta yang dewasa tidak selalu keras terdengar. Ia tidak menuntut untuk selalu dipahami, tapi mau belajar memahami.
Ia tidak mencari menang, tapi menjaga tenang. Ada haru saat kusadari, orang yang tetap tinggal tanpa banyak drama adalah orang yang benar-benar berjuang.
Di tengah dinamika hidup, pekerjaan, tanggung jawab, dan kelelahan, cinta diuji bukan oleh pertengkaran besar, tapi oleh kesabaran kecil yang konsisten. Aku melihat cinta bertahan bukan karena janji berlebihan, tapi karena pilihan untuk hadir, hari demi hari.
Kini aku tidak lagi mencari gejolak. Aku mensyukuri ketenangan. Aku memilih komunikasi yang jujur, adab yang dijaga, dan ego yang diredam.
Aku bahagia, bukan karena segalanya sempurna, tapi karena kami belajar tumbuh bersama, tanpa perlu drama untuk membuktikan rasa.
Mungkin hari ini kita sedang belajar mencintai dengan cara yang lebih sunyi. Mari kita rawat cinta dengan kesadaran, bukan sensasi. Karena cinta yang bertahan lama bukan yang paling ribut, tapi yang paling setia menjaga.
“Cinta yang dewasa tidak mencari panggung, ia memilih bertahan dalam kesadaran.” - Hafasa Academy
https://www.instagram.com/reel/DTlLwq-EnYt/?igsh=ODNiM2ZianoydG5j
