Rabu, H / 01 April 2026

HOT TOPICS

#AI

#IQ

#EQ

#BI

#SQ

#AS

#HK

#MA

#3M

#UI

#BK

#NU

#MK

#RS

#GM

#SD

#IT

#bi

#MU

#

#MC

#QX

#Ti

#CC

#DJ

#S1

#as

#Pa

#LG

#UN

#8

#3A

#HC

#\

#US

#BU

#PS

#Hu

#DO

#qx

#KB

#5P

#HP

#K3

#Ke

#Wo

#01

#02

#VW

#U

#RT

#PK

# M

#5G

#TJ

#FK

# t

#UU

# P

#Em

#VR

#WA

#Al

TERKINI

NASIONAL

 

BRIN dan Universitas Ary Ginanjar Teken Kolaborasi Strategis untuk Perkuat Manajemen Talenta Riset Nasional

ESQNews.id, JAKARTA – Sebuah langkah besar dalam dunia riset dan inovasi Indonesia kembali tertoreh. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Universitas Ary Ginanjar (UAG University) melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (NK) yang berlangsung khidmat pada Rabu 25 Maret 2026 bertempat di Ruang Rapat Besar Lt. 24, Gedung BRIN Thamrin, Jakarta Pusat.Kolaborasi ini menjadi momentum krusial bagi penguatan manajemen talenta riset di tanah air. Di tengah persaingan global yang kian kompetitif, kedua lembaga sepakat bahwa riset yang unggul tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual (IQ), namun juga fondasi karakter yang kokoh melalui kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ).Founder UAG University sekaligus ESQ, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, yang hadir langsung dalam prosesi tersebut, menekankan bahwa lahirnya penemuan besar sering kali bermula dari kondisi mental yang tepat. Ia menjelaskan pentingnya mencapai kondisi "Gelombang Otak Alpha" sebuah keadaan pikiran yang tenang dan jernih di mana kreativitas manusia justru bekerja berlipat ganda lebih aktif."Melalui momentum bulan Syawal, kita berharap Nota Kesepahaman ini menjadi titik nol lahirnya terobosan besar. Saat para peneliti bekerja dalam kondisi tenang dan fokus, di sanalah inovasi yang mengakselerasi Indonesia Emas 2045 akan tercipta," ujar Ary Ginanjar.Lebih lanjut, Ary menyoroti tantangan besar dalam memperkuat pilar hilirisasi inovasi, khususnya di sektor pangan, energi, dan air, sebagaimana yang dicanangkan oleh Presiden RI. Beliau memaparkan data benchmarking yang cukup kontras: Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 300 peneliti per satu juta penduduk, tertinggal jauh dari Malaysia (2.300 peneliti) dan Korea Selatan (4.000 peneliti). Sementara itu, target Indonesia Emas menuntut ketersediaan 4.000 talenta IPTEK per satu juta penduduk.Guna menutup celah tersebut, Universitas Ary Ginanjar membawa solusi nyata berupa program Manajemen Talenta berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui platform TalentDNA. Teknologi ini dirancang untuk memetakan potensi dan karakter peneliti secara akurat, sehingga penempatan dan pengembangan talenta riset menjadi lebih efektif dan terukur."Impian besar kami adalah melihat BRIN pada tahun 2030 bukan sekadar menjadi sebuah badan riset, melainkan bertransformasi menjadi Lokomotif Riset Indonesia. Kami memimpikan BRIN menjadi sebuah Powerhouse riset yang mendorong hilirisasi secara masif, menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis riset yang disegani dunia, dan melahirkan aset-aset intelektual serta investasi strategis bagi masa depan bangsa," pungkasnya dengan optimis.Senada dengan hal tersebut, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Prof. Ary Ginanjar dalam memperkuat manajemen talenta di tubuh BRIN.Menurutnya, di era disrupsi saat ini, keahlian dalam mengelola talenta (talent management) adalah kunci utama untuk melahirkan sosok periset yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki dedikasi dan jiwa riset yang murni.Beliau memandang bahwa integrasi metodologi pembangunan karakter ke dalam ekosistem riset akan mempercepat terciptanya lingkungan inovasi yang sehat dan berdampak luas bagi masyarakat.Ia juga menilai bahwa riset unggul tidak hanya dibangun dari kecerdasan intelektual, tetapi juga fondasi karakter yang kuat. Di sinilah pendekatan ESQ menjadi relevan untuk membentuk periset yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berdaya tahan."Kita membutuhkan periset yang tangguh dan memiliki jiwa yang benar-benar menyatu dengan risetnya. Manajemen talenta adalah jalan terbaik dan paling tepat untuk meningkatkan kualitas human capital di BRIN. Kami ingin mencetak periset kelas dunia yang impactful, periset yang karyanya membawa kemajuan nyata, bukan sekadar melakukan aktivitas riset biasa," tegas Prof. Arif Satria.Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan ekonomi dunia sangat ditentukan oleh kekuatan riset suatu bangsa. Oleh karena itu, BRIN harus memposisikan diri sebagai pilot sekaligus pilar utama kemajuan ekonomi Indonesia melalui hasil inovasi seperti varietas unggul, paten hebat, hingga ilmuwan papan atas. Meski diakui membutuhkan upaya (effort) yang besar, Prof. Arif optimis keterbatasan sumber daya manusia dapat diatasi melalui pemetaan talenta yang presisi."Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Riset harus berdampak dan membawa manfaat. Semangat yang kita dorong kepada para periset BRIN adalah semangat 'Khairunnas' menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain melalui riset dan inovasi," tambahnya.Terkait tantangan selama ini, Prof. Arif mengakui bahwa sinergi antara hasil riset dengan dunia industri masih perlu dimaksimalkan. Melalui kolaborasi ini, BRIN berupaya memastikan inovasi yang dihasilkan dapat diserap secara massal oleh industri sebagai teknologi yang memperkuat bisnis mereka.Selain penguatan manajemen talenta sebagai target jangka pendek, kerja sama ini juga membuka pintu lebar bagi mahasiswa dan dosen Universitas Ary Ginanjar untuk memanfaatkan berbagai fasilitas di BRIN, mulai dari program Degree by Research, fasilitas laboratorium, hingga program magang."Dengan manajemen talenta yang kuat, kita bisa meminimalkan hambatan sumber daya dan mempercepat lahirnya para ilmuwan top yang akan membawa Indonesia disegani di kancah global," pungkasnya.Diketahui, acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua belah pihak. Dari pihak Universitas Ary Ginanjar, hadir mendampingi Prof. Ary Ginanjar antara lain Andi Purnomo, S.Kom., M.Kom. (Wakil Rektor 1 UAG University), Hesti Herminati (Chief of Corp Engagement ESQ), Nurul Fitrianis (Deputy Director of ESQ Corp).Sementara itu, dari pihak BRIN, hadir memperkuat barisan sinergi: Nur Tri Aries Suestiningtyas (Sestama BRIN), Edy Giri Rachman Putra (Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Dadan Moh. Nurjaman (Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi), Agus Haryono (Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi), Tri Sundari (Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama), Ratih Retno Wulandari (Kepala Biro Organisasi, dan Sumber Daya Manusia), Andi Irman Pattiroy (Tenaga Ahli Utama)Kerja sama ini diharapkan menjadi "katalisator" dalam menciptakan ekosistem manajemen talenta yang komprehensif. Dengan pengalaman panjang Prof. Ary Ginanjar dalam membangun kepemimpinan berbasis nilai, kolaborasi dengan BRIN diharapkan mampu melahirkan generasi periset Indonesia yang adaptif, berkarakter, dan siap menjawab tantangan global.Langkah ini bukan sekadar seremoni di atas kertas, melainkan wujud nyata komitmen UAG University dan BRIN dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul secara intelektual dan mulia secara karakter menuju Indonesia Emas 2045.

5 hari yang lalu

HAJI UMROH

 

Kereta Cepat Haramain vs Bus: Menghitung Waktu Door to Door Perjalanan Jemaah Haji Umrah

Oleh: Muhammad SolihinESQNews.id, JAKARTA - Beberapa tahun terakhir, Arab Saudi melakukan transformasi besar dalam infrastruktur transportasi yang melayani jemaah haji dan umrah. Salah satu proyek paling monumental adalah Haramain High Speed Railway (HHR) atau kereta cepat Haramain yang menghubungkan kota-kota utama di wilayah barat Saudi, yaitu Makkah, Jeddah, Bandara King Abdul Aziz, dan Madinah.Kereta ini mampu melaju hingga 300 kilometer per jam dan menjadi salah satu kereta tercepat di kawasan Timur Tengah. Dengan kecepatan tersebut, perjalanan Madinah–Makkah yang berjarak sekitar 450 kilometer dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar dua jam.Secara sekilas, ini tampak sebagai solusi transportasi yang ideal bagi jemaah haji. Banyak calon jemaah kemudian beranggapan bahwa perjalanan menggunakan kereta cepat pasti lebih nyaman, lebih cepat, dan lebih efisien dibandingkan menggunakan bus.Namun dalam praktik operasional penyelenggaraan haji, realitasnya tidak selalu sesederhana itu.Transportasi dalam perjalanan haji tidak hanya dinilai dari kecepatan kendaraan, tetapi dari keseluruhan waktu perjalanan dari hotel ke hotel serta tingkat kemudahan bagi jemaah, yang mayoritas merupakan kelompok usia lanjut.Persepsi bahwa kereta cepat selalu lebih baik memang muncul karena waktu perjalanan di rel jauh lebih singkat. Perjalanan Madinah ke Makkah yang biasanya memakan waktu lima hingga enam jam dengan bus dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam hingga dua jam dua puluh menit dengan kereta cepat.Selain itu, kereta memiliki perjalanan yang stabil, bebas dari kemacetan jalan raya, dan menawarkan pengalaman transportasi yang modern. Bagi sebagian penumpang, perjalanan dengan kereta memang terasa lebih nyaman.Namun jika dilihat lebih mendalam, terdapat beberapa aspek operasional yang sering luput dari perhatian.Sebagai contoh, perjalanan jemaah dari hotel di Madinah menuju hotel di Makkah menggunakan kereta cepat tidak dimulai langsung dari stasiun. Jemaah terlebih dahulu harus naik bus dari hotel menuju stasiun kereta Madinah yang berjarak sekitar 8 hingga 12 kilometer dari kawasan Masjid Nabawi.Perjalanan menuju stasiun ini biasanya memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit tergantung kondisi lalu lintas.Setelah tiba di stasiun, jemaah harus melalui beberapa tahapan seperti pemeriksaan tiket, pemeriksaan keamanan, serta pemeriksaan bagasi menggunakan X-ray, mirip dengan proses di bandara.Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.Selanjutnya, jemaah harus menunggu di ruang tunggu sebelum waktu keberangkatan. Untuk menghindari keterlambatan, jemaah biasanya diminta hadir lebih awal sehingga waktu menunggu bisa mencapai 30 hingga 45 menit.Setelah itu, jemaah berjalan menuju peron kereta. Stasiun Haramain memiliki area yang cukup luas sehingga jarak berjalan bisa mencapai 200 hingga 400 meter.Perjalanan kereta sendiri memakan waktu sekitar dua jam lebih. Namun setelah tiba di stasiun Makkah, perjalanan belum selesai.Jemaah masih harus berjalan menuju area keluar stasiun dan parkir bus dengan jarak yang bisa mencapai 300 hingga 500 meter.Jika seluruh tahapan ini dihitung secara keseluruhan, maka perjalanan door to door dari hotel Madinah ke hotel Makkah menggunakan kereta cepat dapat memakan waktu sekitar empat setengah hingga lima jam.Sebaliknya, jika menggunakan bus, jemaah hanya perlu naik bus di depan hotel di Madinah dan perjalanan langsung menuju Makkah tanpa perlu berpindah moda transportasi.Memang perjalanan bus biasanya memakan waktu sekitar lima hingga enam jam, namun prosesnya jauh lebih sederhana.Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah karakteristik jemaah haji Indonesia yang sebagian besar berasal dari kelompok usia lanjut.Dalam kondisi seperti ini, perjalanan yang terlalu banyak melibatkan naik turun kendaraan dan berjalan kaki jauh dapat menimbulkan kelelahan tambahan.Karena itu dalam operasional penyelenggaraan haji, pertimbangan utama bukan hanya kecepatan perjalanan tetapi juga kemudahan dan kenyamanan bagi jemaah.Kereta cepat Haramain adalah simbol kemajuan infrastruktur transportasi yang patut diapresiasi. Namun penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa transportasi haji tidak hanya soal kecepatan kendaraan, tetapi juga manajemen perjalanan secara keseluruhan.

2026-03-12 21:32:00

HAJI UMROH

 

Jangan Berangkat Haji Tanpa Menghitung Uang Saku

Berapa Uang Saku Minimal Haji 2026?Oleh: Muhammad SolihinESQNews.id, JAKARTA - Setiap musim manasik haji, ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul dari calon jemaah.Pertanyaannya sederhana namun sangat penting: "Berapa uang saku yang sebaiknya dibawa saat berhaji?"Sebagian jemaah khawatir membawa uang terlalu sedikit sehingga takut kesulitan selama berada di Tanah Suci. Sebaliknya, ada juga yang membawa uang terlalu banyak karena merasa lebih aman memiliki cadangan dana besar.Padahal sebenarnya kebutuhan uang saku haji bisa dihitung secara cukup rasional.Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa sebagian besar kebutuhan jemaah selama di Tanah Suci sebenarnya sudah termasuk dalam biaya perjalanan haji. Hotel, konsumsi utama, transportasi bus selama operasional haji, serta layanan ibadah lainnya telah disediakan dalam paket penyelenggaraan haji.Artinya uang saku yang dibawa jemaah pada dasarnya hanya digunakan untuk kebutuhan tambahan pribadi, bukan kebutuhan utama.Karena itu penting bagi jemaah untuk memahami komponen pengeluaran selama di Tanah Suci.Komponen Pengeluaran JemaahDalam pengalaman penyelenggaraan haji selama ini, uang saku jemaah biasanya digunakan untuk beberapa kebutuhan tambahan.Pertama adalah konsumsi tambahan. Walaupun makanan utama telah disediakan, jemaah sering membeli minuman atau makanan ringan setelah selesai thawaf atau sa’i, seperti jus buah, kopi, atau roti.Kedua adalah transportasi tambahan. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika kondisi tubuh lelah, jemaah kadang menggunakan taxi atau shuttle tambahan untuk kembali ke hotel.Ketiga adalah sedekah atau infaq. Banyak jemaah yang memanfaatkan kesempatan berada di Tanah Suci untuk memperbanyak amal, termasuk bersedekah kepada petugas kebersihan atau membantu sesama jemaah.Keempat adalah oleh-oleh untuk keluarga di rumah, seperti kurma, coklat Arab, sajadah, tasbih, atau air zamzam tambahan.Kelima adalah dana darurat, yang digunakan untuk kebutuhan tak terduga seperti membeli obat tambahan atau mencuci pakaian.Namun ada satu komponen penting yang sering terlupakan oleh jemaah, yaitu persiapan dana untuk dam.Persiapan Dam yang Sering TerlupakanSebagian besar jemaah Indonesia melaksanakan Haji Tamattu’, yaitu melaksanakan umrah terlebih dahulu kemudian melaksanakan haji pada musim yang sama.Dalam skema ibadah ini terdapat kewajiban membayar dam, yang biasanya berupa penyembelihan satu ekor kambing.Pembayaran dam umumnya dilakukan melalui program resmi penyembelihan hewan yang diselenggarakan di Arab Saudi.Dalam beberapa tahun terakhir harga dam berada pada kisaran 700 hingga 800 riyal Saudi.Karena itu jemaah sebaiknya menyiapkan dana dam sejak dari tanah air agar tidak kebingungan ketika sudah berada di Tanah Suci.Simulasi Uang Saku MinimalJika dihitung secara sederhana, kebutuhan uang saku jemaah selama sekitar 40 hari perjalanan haji dapat diperkirakan sebagai berikut:- Konsumsi tambahan sekitar 400 riyal- Transportasi tambahan sekitar 150 riyal- Sedekah sekitar 100 riyal- Oleh-oleh sederhana sekitar 350 riyal- Dana darurat sekitar 200 riyal- Dam haji tamattu’ sekitar 800 riyalJika dijumlahkan, total kebutuhan uang saku minimal sekitar 2.000 riyal Saudi.Jika dikonversikan dengan kurs sekitar Rp4.200 per riyal, maka jumlah tersebut berkisar Rp8–9 juta.Angka ini tentu bukan angka mutlak, karena setiap jemaah memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun angka tersebut bisa menjadi gambaran realistis bagi calon jemaah dalam mempersiapkan perjalanan haji.Aturan Membawa Uang TunaiSelain menghitung kebutuhan uang saku, jemaah juga perlu memahami aturan membawa uang tunai ketika bepergian ke luar negeri.Pemerintah Arab Saudi melalui otoritas bea cukainya menetapkan bahwa setiap orang yang masuk ke wilayah Arab Saudi boleh membawa uang tunai dalam berbagai mata uang, seperti riyal Saudi, dollar Amerika, maupun mata uang lainnya.Namun jika jumlah uang tunai yang dibawa melebihi 60.000 riyal Saudi, maka wajib dideklarasikan kepada petugas bea cukai saat kedatangan.Jumlah tersebut setara dengan sekitar 16.000 dollar Amerika atau kurang lebih Rp250 juta, tergantung nilai tukar.Indonesia juga memiliki aturan serupa. Jika seseorang keluar dari Indonesia membawa uang tunai lebih dari Rp100 juta, maka wajib melaporkannya kepada Bea Cukai sebelum keberangkatan.Namun jika melihat kebutuhan uang saku haji yang hanya sekitar 2.000 riyal, sebenarnya jemaah tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.Mata Uang yang DisarankanDalam praktiknya, mata uang yang paling praktis untuk dibawa adalah Riyal Saudi (SAR).Karena hampir semua transaksi di Makkah dan Madinah menggunakan riyal, mulai dari membeli makanan, minuman, taxi hingga oleh-oleh.Jemaah biasanya cukup membawa sekitar 1.000 hingga 1.500 riyal dalam bentuk tunai, sementara sisanya dapat menggunakan kartu debit internasional.Cara ini jauh lebih aman dibandingkan membawa uang tunai dalam jumlah besar.Ibadah, Bukan Perjalanan BelanjaPada akhirnya, tujuan utama berhaji bukanlah membawa uang sebanyak-banyaknya, tetapi membawa niat ibadah yang sebesar-besarnya.Persiapan keuangan memang penting agar jemaah dapat menjalankan ibadah dengan tenang.Namun yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan diri secara spiritual, fisik, dan mental.Karena haji bukan sekadar perjalanan ke luar negeri.Haji adalah perjalanan spiritual menuju Allah SWT.Semoga setiap jemaah yang dipanggil menjadi tamu Allah diberikan kemudahan, kesehatan, dan dikaruniai haji yang mabrur.

2026-03-12 21:08:00

NEWS

TRAINING

 

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Perkuat Kapasitas Pemimpin melalui Program Ambidextrous Leadership

ESQNews.id, JAKARTA - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk menyelenggarakan program JAPFA Leadership Development sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas para pemimpin dalam menghadapi dinamika bisnis yang semakin kompleks. Program pengembangan kepemimpinan ini dirancang untuk membentuk pemimpin yang adaptif, visioner, serta mampu mengelola perubahan sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan yang berkelanjutan bagi perusahaan.Program ini menghadirkan tiga modul utama yang menjadi fondasi pembelajaran. Modul Ambidextrous Leadership membekali peserta dengan kemampuan menyeimbangkan fokus pada kinerja bisnis saat ini sekaligus mengeksplorasi peluang baru di masa depan.Modul Leading Through Crisis memberikan pemahaman mengenai pentingnya ketangguhan, empati, serta kelincahan dalam memimpin tim ketika menghadapi situasi krisis global. Sementara itu, modul From Strategy to Execution in Turbulent Times mengajarkan bagaimana strategi dapat diterjemahkan menjadi langkah eksekusi yang nyata melalui analisis portofolio bisnis, penentuan prioritas inovasi, hingga pengembangan prototipe solusi.Rangkaian program diawali dengan individual assessment TalentDNA untuk memetakan potensi kepemimpinan para peserta. Setelah proses asesmen, peserta mengikuti sesi pelatihan yang dilaksanakan pada 27 hingga 28 Agustus 2025 di kawasan Megamendung, Bogor, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Sesi pelatihan tersebut memberikan ruang pembelajaran yang intensif melalui diskusi, refleksi kepemimpinan, serta penguatan perspektif strategis.Program kemudian dilanjutkan dengan sesi Discover Your Spark yang difasilitasi oleh ACT Consulting International. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada 8 September 2025 pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Sesi ini bertujuan membantu peserta menggali potensi diri, memperkuat motivasi kepemimpinan, serta menyelaraskan nilai personal dengan peran strategis di dalam organisasi.Melalui rangkaian program ini, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk berharap dapat melahirkan pemimpin yang mampu membaca perubahan, mengambil keputusan strategis, serta menggerakkan organisasi menuju pertumbuhan yang lebih kuat di masa depan.Bagi perusahaan yang ingin membangun kepemimpinan yang tangguh dan relevan dengan tantangan bisnis saat ini, ACT Consulting menghadirkan berbagai program Leadership Development Program yang dirancang secara komprehensif dan aplikatif. Program ini membantu organisasi menyiapkan pemimpin yang siap membawa perubahan sekaligus menciptakan dampak positif bagi perkembangan perusahaan.

2026-03-12 20:38:00

TRAINING

 

PT Sarinah Gelar Executive Leadership Development Program untuk Perkuat Kepemimpinan Strategis

ESQNews.id, JAKARTA - PT Sarinah menyelenggarakan Executive Leadership Development Program (ELDP) sebagai langkah strategis dalam memperkuat kapabilitas kepemimpinan para eksekutif di tengah dinamika bisnis yang terus berkembang.Program pengembangan ini dirancang untuk membekali para pemimpin dengan perspektif strategis, kemampuan pengambilan keputusan, serta kesiapan menghadapi transformasi organisasi.Program ELDP berlangsung selama kurang lebih dua bulan dengan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan teori, praktik, serta pendampingan berkelanjutan. Melalui proses tersebut, para peserta diharapkan mampu memahami tantangan bisnis secara lebih komprehensif sekaligus mengembangkan strategi yang relevan dengan kebutuhan perusahaan.Rangkaian program diawali dengan personal assessment dan sesi self learning yang bertujuan membantu peserta memahami potensi diri serta area pengembangan kepemimpinan yang perlu diperkuat.Setelah tahap awal tersebut, peserta mengikuti sesi kelas tatap muka yang membahas berbagai topik penting dalam kepemimpinan dan manajemen strategis. Materi yang dipelajari meliputi analisis industri dan pasar, kepemimpinan perubahan, penyusunan dan eksekusi strategi, kolaborasi organisasi, serta pemahaman keuangan bagi para eksekutif.Proses pembelajaran dirancang interaktif melalui berbagai metode seperti studi kasus, diskusi kelompok, role play, serta presentasi.Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengasah kemampuan analisis sekaligus memperdalam pemahaman terhadap situasi bisnis nyata.Untuk memastikan pembelajaran dapat diterapkan secara konkret, program ini dilengkapi dengan sesi coaching yang berfokus pada pengembangan Business Plan.Para peserta juga mendapatkan wawasan strategis melalui sesi Power Talk bersama jajaran Direksi. Pada akhir program, setiap peserta mempresentasikan Business Plan di hadapan panel Direksi sebagai bagian dari evaluasi sekaligus implementasi pembelajaran yang telah dijalani.Melalui pendekatan pembelajaran 70-20-10, Executive Leadership Development Program diharapkan mampu melahirkan pemimpin yang strategis, adaptif, serta siap menjadi penggerak transformasi organisasi.Bagi perusahaan yang ingin memperkuat kualitas kepemimpinan di berbagai level organisasi, ACT Consulting menghadirkan program Leadership Development Program yang dirancang komprehensif dan aplikatif.Program ini membantu organisasi menyiapkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan bisnis sekaligus membawa perusahaan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

2026-03-12 20:03:00

TRAINING

 

STAR Leadership Development Program Bara Indah Sinergi Group Perkuat Kompetensi Kepemimpinan Karyawan

ESQNews.id, JAKARTA - Bara Indah Sinergi Group bekerja sama dengan ACT Consulting International menyelenggarakan program pengembangan kepemimpinan bertajuk STAR Leadership Development Program.Program ini dirancang untuk memperkuat kompetensi para pemimpin di lingkungan perusahaan sekaligus menyiapkan calon pemimpin masa depan yang mampu membawa organisasi mencapai target dan visi strategisnya. Dalam dunia kerja yang semakin dinamis, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan jabatan, melainkan kemampuan mempengaruhi, mengarahkan, dan membangun kolaborasi tim agar tujuan bersama dapat tercapai. Melalui program ini, peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan leadership yang lebih matang sehingga siap menghadapi tantangan organisasi serta mengambil peran kepemimpinan pada level yang lebih tinggi.Rangkaian program diawali dengan individual assessment Pre Degree 360 untuk memetakan potensi serta area pengembangan setiap peserta. Setelah proses asesmen, peserta mengikuti sesi pelatihan intensif yang dilaksanakan pada 22 hingga 24 April 2025.Program pengembangan ini kemudian berlanjut dalam bentuk pendampingan dan implementasi pembelajaran selama satu tahun penuh.Sebagai penutup rangkaian program, seluruh peserta akan mengikuti Final Presentation yang menjadi ruang bagi mereka untuk mempresentasikan pembelajaran, pengalaman, serta rencana pengembangan kepemimpinan yang telah dijalankan selama program berlangsung.Kegiatan ini difasilitasi oleh ACT Consulting International bersama manajemen Bara Indah Sinergi Group dengan pendekatan akademis yang dipadukan dengan pengalaman praktis di dunia bisnis.Program pengembangan kepemimpinan seperti ini menjadi langkah strategis bagi perusahaan yang ingin membangun budaya kepemimpinan yang kuat dan berkelanjutan.ACT Consulting International juga membuka kesempatan bagi organisasi lain yang ingin memperkuat kualitas pemimpin di dalam perusahaan melalui Leadership Development Program yang dirancang secara komprehensif dan aplikatif untuk menjawab tantangan bisnis masa kini.

2026-03-12 14:04:00

LIFESTYLE

 

Gen Z Sibuk Riset, Gen X Sudah Jalan: Potret Wirausaha Lintas Generasi

ESQNews.id, JAKARTA - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa peningkatan rasio kewirausahaan merupakan salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.Instansi tersebut menargetkan rasio kewirausahaan Indonesia dapat mencapai 3,6% pada tahun 2029, meningkat dari angka saat ini yang berada di posisi 3,29%.Sejalan dengan upaya tersebut, Jakpat melakukan survei untuk mendalami tren kewirausahaan, khususnya di kalangan calon pelaku bisnis maupun mereka yang sudah menjalankan usaha. Laporan yang disusun berdasarkan respons dari 1.387 partisipan ini memetakan motivasi, strategi, serta tantangan dalam mengadopsi teknologi Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) yang dihadapi oleh para wirausahawan saat ini maupun calon wirausahawan.Data survei menyebutkan 32% responden adalah pemilik bisnis, 59% berencana berwirausaha dan sisanya, 9%, tidak berminat dengan bidang tersebut. Lebih detail, 1 dari 3 Gen X sudah memiliki bisnis selama lebih dari tiga tahun dan sebanyak 46% Gen Z berniat membuka bisnis meski belum tahu kapan.Alasan terbesar untuk memulai bisnisPendapatan tak terbatas adalah alasan paling umum mengapa orang menjadi wirausahawan, dikonfirmasi oleh 46% calon atau pemilik bisnis. Motivasi lainnya adalah ingin bisa bekerja dari mana saja (37%) dan menilai membangun aset sendiri lebih aman secara jangka panjang daripada jadi pekerja (33%).Spesifik pada generasi, 35% Gen Z berniat membuka usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan 36% Gen X ingin menjadi bos bagi diri sendiri. Sementara, kontrol penuh atas jadwal kerja menjadi alasan bagi 3 dari 10 Milenial untuk merintis bisnis sendiri."Temuan ini menunjukkan bahwa alasan orang berwirausaha tidak hanya soal penghasilan. Banyak yang juga mencari kemandirian serta kendali atas waktu dan pilihan kariernya. Karena itu, pendekatan dalam mendorong kewirausahaan perlu lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan tiap generasi," tutur Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna.Makanan dan minuman menjadi sektor bisnis yang paling diminati oleh 45% responden, baik calon maupun pemilik bisnis. Namun, calon wirausaha menunjukkan preferensi yang jauh lebih kuat terhadap kebutuhan pokok seperti sembako (34%) dan produk pertanian, peternakan & perikanan (22%). Sebaliknya, pebisnis yang sudah mapan lebih aktif di bidang telekomunikasi dan produk digital (13%). Hal ini menunjukkan pergeseran menuju model modern yang berbasis teknologi seiring bertambahnya pengalaman.Usaha menjadi wirausahaPara responden aktif mempelajari berbagai topik untuk menunjang wirausaha. Survei Jakpat menunjukkan 3 dari 5 orang sudah fokus pada riset pasar dan pencarian ide, yang didominasi oleh Gen Z. Pembelajaran lain yang juga populer adalah mengenai strategi menentukan harga (45%) dan pengelolaan keuangan (42%). Satu dari 3 responden mempelajari cara membangun nama brand.Melihat hal ini, Hasna menyimpulkan, "Meski Gen X lebih matang dari sisi pengalaman, Gen Z terlihat lebih serius di tahap persiapan dengan aktif mempelajari riset pasar dan mencari ide bisnis. Hal ini ditopang oleh kemampuan adopsi teknologi yang lebih tinggi."Bagaimana persiapan modal membangun bisnis? Sejauh mana AI membantu para pemilik bisnis? Dapatkan hasilnya dengan data mendetail dalam laporan Jakpat “Trends in Modern Entrepreneurship” pada tautan berikut: https://insight.jakpat.net/trends-in-modern-entrepreneurship/ 

2026-03-12 12:38:00

INTERNASIONAL

 

YDEI dan Aspire Sustainable Malaysia Bersinergi dalam Program "Indonesia Terbebas Sekali Pakai"

ESQNews.id, JAKARTA – Menindaklanjuti nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada November 2025 lalu, Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI) dan Aspire Sustainable (Malaysia) kini tengah mematangkan detail kolaborasi strategis dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program bertajuk "Indonesia Terbebas Sekali Pakai" (Indonesia’s Zero Disposable Program) ini dirancang sebagai inisiatif strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus mengatasi tantangan limbah domestik.Sebagai langkah nyata, pada 6 Maret 2026, telah dilaksanakan presentasi program oleh pihak Aspire Sustainable kepada jajaran Yayasan Desa Emas Indonesia melalui zoom meeting. Presentasi tersebut dipaparkan langsung oleh Fazlina Ahmad Fuad (Chief Executive Officer, Aspire Sustainable Sdn. Bhd.) dan Jaklin Juanis (Senior Consultant, Aspire Sustainable Sdn. Bhd.).Mengubah Tantangan Menjadi Peluang melalui Creating Shared Value (CSV)Indonesia saat ini menghadapi tantangan limbah produk kebersihan sekali pakai yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, namun juga menjadi beban finansial bagi banyak keluarga prasejahtera. Biaya rutin untuk produk sekali pakai seringkali berkontribusi pada siklus kemiskinan dan mengurangi stabilitas keuangan rumah tangga.Program ini mengadopsi kerangka kerja Creating Shared Value (CSV) yang memposisikan keberlanjutan sebagai investasi. Dengan mengalihkan kebiasaan masyarakat ke arah produk yang lebih hemat dan berkelanjutan, program ini secara langsung menghasilkan data dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang berkualitas tinggi serta dapat diaudit sesuai standar global.Diketahui, kolaborasi ini menyatukan keunggulan masing-masing pihak: YDEI berperan sebagai jangkar komunitas melalui pilar Bina Karakter, Bina Saudara, dan Bina Sinergi. Aspire Sustainable memberikan desain strategis dan operasional berbasis standar profesional yang tinggi.Mengapa ini penting? Karena sekilas info, program ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden No. 111 tahun 2022 tentang Pelaksanaan Pencapaian dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, khususnya di bidang kesehatan, kesetaraan gender, dan aksi iklim.Melalui inisiatif ini, YDEI dan Aspire Sustainable berkomitmen untuk membangun Indonesia yang lebih tangguh, bebas dari limbah sekali pakai, sekaligus menciptakan nilai bersama bagi masa depan yang lebih baik.Dalam pemaparannya, Fazlina Ahmad Fuad menekankan bahwa inisiatif ini bukanlah sekadar teori, melainkan aksi nyata yang telah teruji selama satu dekade di Malaysia. Sebagai perusahaan sosial (social enterprise), Aspire Sustainable mengintegrasikan misi sosial dalam setiap lini bisnisnya, dengan fokus utama pada edukasi dan transisi penggunaan pembalut sekali pakai ke pembalut kain yang dapat dicuci (washable sanitary pads)."Kami membawa pengalaman selama sepuluh tahun menjalankan lebih dari seratus program dan menjangkau lebih dari tiga ribu perempuan. Kami tidak sekadar memberikan edukasi melalui presentasi satu arah, tetapi juga menyediakan rencana aksi yang dapat langsung diterapkan oleh masyarakat," jelas Fazlina.Ia menyoroti urgensi dari inisiatif ini dengan data yang mencengangkan: seorang wanita rata-rata menghasilkan sekitar 150 hingga 200 kilogram limbah pembalut sekali pakai di tempat pembuangan akhir (landfill) sepanjang masa reproduksinya.Dengan kesadaran ini, Aspire Sustainable bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan korporasi di Malaysia untuk mengedukasi masyarakat agar beralih ke solusi yang lebih ramah lingkungan.Kini, melalui kemitraan dengan YDEI dan Aspire Sustainable bertekad membawa model keberlanjutan yang sama ke Indonesia. "Kami ingin berbagi pengalaman, kesadaran, dan hasil nyata yang telah kami capai di Malaysia kepada rekan-rekan di Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan," pungkasnya.Kemudian, dalam sesinya, Jaklin Juanis memperkenalkan program "Indonesia Terbebas Sekali Pakai" sebagai inisiatif berbasis komunitas yang dirancang untuk menjawab tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi secara simultan. Program ini menyoroti tiga problematika utama masyarakat, yaitu tingginya akumulasi limbah sekali pakai, prevalensi kemiskinan menstruasi (period poverty), serta rendahnya literasi keberlanjutan."Kami tidak hanya mengampanyekan kesadaran, tetapi memberikan intervensi praktis. Tujuan kami adalah memastikan masyarakat memahami dampak dari perilaku mereka dan beralih ke solusi yang lebih berkelanjutan," ujar Jaklin.Menurutnya, keberhasilan program ini bertumpu pada kolaborasi struktural antara tiga entitas utama yang memiliki peran spesifik: * Aspire Sustainable sebagai Arsitek Metodologi: Berperan sebagai mitra teknis, Aspire menyumbangkan kekayaan intelektual berupa metodologi game-based learning dan kerangka kerja implementasi. Aspire memastikan program memiliki standar kualitas yang konsisten serta kemampuan untuk menghasilkan data dampak yang valid. * Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI) sebagai Hub Lokal: YDEI bertindak sebagai platform eksekusi di lapangan. YDEI berperan krusial dalam menerjemahkan konsep keberlanjutan ke dalam perilaku praktis yang relevan dengan budaya setempat, serta memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi aktif dalam program.Untuk memastikan dampak yang terukur, program ini dibagi menjadi tiga fase strategis: * Fase 1: Train the Trainer: Berupa pelatihan peningkatan kapasitas Patriot Desa yang akan ditunjuk menjadi Sustainable Champions. Melalui metodologi simulasi yang dikembangkan selama hampir dua dekade, konsep keberlanjutan yang kompleks disederhanakan menjadi langkah-langkah praktis bagi masyarakat. * Fase 2: Pilot Proyek di Garut, yang direncanakan di Desa Karamatwangi sebagai pembuktian konsep. Fokus utamanya mencakup lokakarya komunitas, penyediaan solusi kebersihan reusable, serta pengukuran dampak kualitatif dan kuantitatif terhadap 700 penerima manfaat. * Fase 3: Social Factory (Opsional): Jalur pengembangan pemberdayaan ekonomi. Komunitas dibimbing untuk memproduksi solusi kebersihan secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan sirkulasi modal tetap terjaga di tingkat desa.Program ini mengadopsi kerangka Creating Shared Value (CSV) dengan pendekatan Triple Bottom Line (Manusia, Planet, Profit): * Dimensi Manusia: Berfokus pada peningkatan kesehatan, martabat perempuan, dan pengetahuan praktis. * Dimensi Planet: Penekanan pada pengurangan limbah secara sistematis dan edukasi konsumsi bertanggung jawab. * Dimensi Profit: Mengalihkan pengeluaran rutin rumah tangga untuk produk sekali pakai menjadi tabungan atau modal usaha.*Menuju Skalabilitas dan Keberlanjutan Jangka Panjang*Untuk menjaga keberlangsungan, Aspire dan YDEI membentuk entitas kolaboratif formal yang memungkinkan transparansi operasional dan kepatuhan terhadap regulasi lokal. Pendekatan ini juga didukung oleh model kolaborasi Hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi (melalui analisis Social Return on Investment - SROI), serta media untuk membangun narasi positif di tingkat nasional.Bagi YDEI, partisipasi dalam inisiatif ini membawa transformasi dari pengelola yayasan menjadi katalisator perusahaan sosial. Dengan data yang divalidasi oleh SROI, YDEI mendapatkan kredibilitas tinggi untuk menarik pendanaan hibah atau investasi dampak (impact investment) baik di skala lokal maupun internasional."Melalui struktur kolaboratif ini, kita tidak hanya mengedukasi masyarakat, tetapi juga membangun sistem yang tersokong, tervalidasi, dan mampu bertahan dalam jangka panjang," pungkas Jaklin.Inisiatif ini diproyeksikan sebagai cetak biru (blueprint) inovasi sosial yang dapat direplikasi di seluruh pelosok Indonesia, menyatukan misi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai fondasi utama masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

2026-03-11 13:23:00

NEWS

 

Gratis! Korwil FKA ESQ Jabar Gelar Training ESQ Peduli Pendidikan untuk 1000 Guru di Pusdiklat STIKes DHB

ESQNews.id, BANDUNG - Sebagai komitmen nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter unggul, Korwil Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Jawa Barat menggelar Training Peduli Pendidikan bagi 1000 Guru se-Jabar secara gratis. Pelatihan di buka oleh Sekjen FKA ESQ yakni Gita A. Fadilla serta sambutan dari Ahmad Asikin Spd. M Mpd. selaku Kabid P3TK yang mewakili Kadisdik.Apresiasi tinggi datang langsung dari pendiri ESQ Corp, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian. Ia menyebut bahwa Korwil FKA ESQ Jawa Barat merupakan sosok korwil teladan di Indonesia. Hal ini didasari atas konsistensi mereka dalam menjaga dan menjalankan nilai-nilai Asmaul Husna serta prinsip 165 (1: Ihsan, 6: Iman, 5: Islam) secara istiqomah.Ary Ginanjar memandang bahwa gerakan membekali 1000 guru ini merupakan langkah krusial untuk menjaga nilai-nilai luhur di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan. Menurutnya, program pelatihan karakter gratis bagi para pejuang pendidikan ini bagaikan sebuah cahaya atau mutiara yang bersinar di tengah situasi yang kompleks."Ini adalah upaya tulus untuk menjaga ilmu 165. Di tengah suasana seperti saat ini, gerakan ini hadir seperti cahaya. Kami kembali menghidupkan program training gratis bagi para guru, sebagaimana yang pernah kita rintis sebelumnya, sebagai bentuk dedikasi untuk masa depan bangsa," ungkap Ary Ginanjar penuh rasa bangga.Menggandeng berbagai mitra strategis, program ini bertujuan memperkuat aspek spiritual dan mental para pendidik agar mampu melahirkan generasi emas yang berakhlak mulia.Rangkaian kegiatan ini terbagi dalam tiga batch. Batch pertama telah sukses dilaksanakan pada 27-28 Februari 2026 bertempat di Pusdiklat STIKes Dharma Husada Bandung. Sebanyak 250 peserta yang terdiri dari Guru SD hingga SMA/SMK se-Jawa Barat hadir dengan antusiasme tinggi untuk menyelami pengalaman spiritual dan emosional yang mendalam.Dipandu oleh Coach Ramdhani, Trainer ESQ berlisensi dari Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, para peserta tidak sekadar duduk mendengarkan teori. Mereka dibawa dalam sebuah experience training yang dikemas layaknya sebuah pertunjukan yang menggugah jiwa.Coach Ramdhani berbagi pandangan mendalam mengenai urgensi pelatihan ini. Ia menegaskan bahwa batch pertama untuk guru-guru se-Bandung Raya ini hanyalah awal dari rangkaian tiga batch besar yang direncanakan untuk memperkokoh fondasi pendidikan karakter.Di tengah gempuran era digital, Coach Ramdhani menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, aspek intelektual kini sangat mudah diakses oleh siswa melalui teknologi seperti Google, ChatGPT, hingga DeepSeek.Namun, ada satu dimensi yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, yakni dimensi emosional dan spiritual."Kita tidak cukup hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat intelektual kepada anak-anak kita. Ada hal yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari teknologi, yaitu bagaimana memiliki kesopanan, bagaimana mampu menempatkan diri, dan yang paling utama adalah dimensi spiritual," ungkap Coach Ramdhani.Selama dua hari pelatihan, para guru diajak untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan dan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah. Suasana religius dan spiritual terasa begitu kental, apalagi dengan hadirnya banyak guru agama dalam barisan peserta. Coach Ramdhani menyebut momentum ini sebagai titik balik untuk tidak sekadar mengajarkan ritual agama, tetapi menghidupkan nilai spiritualitas yang nyata."Tujuannya agar anak-anak didik kita memiliki ketangguhan mental karena landasan cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah. Inilah esensi dari Training ESQ 165 yang kami tanamkan," pungkasnya.Menjelang sesi terakhir, Korwil FKA ESQ Jawa Barat, Yusuf Haryasa, menyambut hangat kehadiran para peserta dan secara resmi menerima mereka sebagai bagian dari keluarga besar FKA ESQ. "Anda semua adalah pejuang yang akan mendampingi putra-putri Kota Bandung. Di tengah kabar memprihatinkan mengenai tingginya angka gangguan kesehatan mental di kalangan siswa, kita tidak perlu banyak berteori. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan memberikan energi dan keyakinan yang kuat," tegas Yusuf.Yusuf juga memberikan apresiasi khusus kepada jajaran Pengawas Kota Bandung yang turut mengawal program ini, serta kolaborasi solid dengan berbagai pihak seperti PGRI Kota Bandung. Ia berkisah tentang keberhasilan transformasi karakter yang telah terlihat nyata di sekolah-sekolah seperti SMPN 44 Bandung sebagai bukti bahwa pendidikan yang menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu melahirkan perubahan tanpa paksaan.TestimoniDukungan penuh datang dari jajaran birokrasi pendidikan yang diwakili oleh Nurbani, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung. Ia menegaskan bahwa program ESQ Peduli Pendidikan: Seribu Guru ini merupakan langkah yang sangat krusial dan mendesak (urgent). Menurutnya, sektor pendidikan dipilih sebagai prioritas utama karena para pendidiklah yang berada di garis depan dan bersentuhan langsung dengan nasib generasi masa depan bangsa."Dulu kita mungkin menghadapi krisis ekonomi, namun hari ini kita menghadapi tantangan yang tak kalah berat, yaitu krisis mental. Di era globalisasi dan digitalisasi ini, kita tidak bisa membendung arus informasi. Oleh karena itu, kompetensi guru harus di-upgrade, tidak hanya melek teknologi, tetapi juga melek terhadap kondisi psikologis siswa generasi Z dan generasi Alpha," paparnya.Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap metode ESQ yang menggabungkan teknik audio-visual dan kinestetik untuk menyentuh aspek IQ, EQ, dan SQ secara bersamaan. Ini menunjukkan bahwa program ESQ bukan sekadar training biasa, melainkan gerakan yang selaras dengan program pemerintah dalam menangani isu kesehatan mental dan karakter siswa.Nurbani menyoroti keberhasilan pembiasaan karakter yang telah dirintis sejak tahun 2006 di sekolah-sekolah seperti SMPN 44 Bandung, yang kemudian menyebar ke seluruh Kota Bandung.Program seperti Shalat Dhuha bersama, pembacaan Asmaul Husna, hingga budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) terbukti efektif meredam percikan kenakalan remaja dan potensi perilaku negatif lainnya."Ketika anak-anak dibiasakan dengan Asmaul Husna, hati mereka akan lebih tenang dan mereka akan merasa malu jika berbuat jahat setelah melakukan ibadah bersama. Inilah bentuk muhasabah dan refleksi diri yang sesungguhnya," tambahnya.Untuk itu, ia berharap para guru yang telah mendapatkan pelatihan ini dapat melakukan diseminasi ilmu kepada rekan-rekan lainnya, sehingga setiap siswa di Kota Bandung dapat tersentuh hatinya dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.Nada antusiasme juga datang dari Lilim, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengikuti jalannya batch pertama. Baginya, pengalaman selama dua hari ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menyentuh relung hati terdalam."Kita mungkin sering membaca Al-Qur'an, namun melalui pengalaman di ESQ ini, maknanya terasa sangat meresap. Saya dibawa kembali untuk merenungkan masa lalu, mengingat orang tua, orang-orang terkasih, hingga menyadari kekhilafan yang telah dilalui. Ini adalah momentum penting bagi kami untuk memperkuat keyakinan diri dan memanage emosional dengan lebih baik," ungkap Lilim.Sebagai seorang pengawas, Lilim menekankan pentingnya diseminasi ilmu. Mengingat tidak semua guru bisa hadir secara langsung, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menularkan semangat dan metode manajemen stres yang didapatnya kepada rekan sejawat dan para siswa. Ia meyakini bahwa jika seorang pendidik memiliki mental yang kuat dan stabil, maka ia akan mampu menangani berbagai kasus siswa dengan pendekatan yang lebih menyentuh hati."Pendidikan adalah fondasi utama. Dari pendidikanlah pola pikir dilatih, yang kemudian merambat ke bidang kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan. Melalui ESQ, guru dibekali manajemen emosi dan spiritual. Jadi, saat menghadapi siswa yang bermasalah, kita tidak hanya memberikan instruksi, tetapi hadir dengan pendekatan spiritual dan manajemen emosi yang tepat sesuai tuntunan Al-Qur'an," tambahnya.Terinspirasi dari materi yang disampaikan, Lilim mengaku kini jauh lebih bersemangat dan memiliki kepastian diri dalam merencanakan masa depan. Ia berharap program ini terus berlanjut agar semakin banyak guru yang ter-upgrade kompetensinya dalam memahami psikologi siswa."Siswa adalah subjek pendidikan kita, mereka perlu dorongan dan perlakuan yang tepat. Ilmu yang saya dapatkan dari ESQ ini menjadi inspirasi besar bagi saya untuk mengubah model pembelajaran dan cara memperlakukan anak didik dengan jauh lebih baik lagi," pungkasnya.Kemudian, pengalaman perdana mengikuti Training ESQ juga memberikan kesan mendalam bagi Fauziah, pendidik dari SDN 063 Kebon Gedang Kota Bandung.Ia mengaku terkejut karena pelatihan yang diikutinya jauh melampaui ekspektasi awal—sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus sarat akan pelajaran berharga tentang titik tertinggi pencapaian manusia, yaitu cinta kepada Sang Pencipta."Pelajaran paling berharga yang saya petik adalah bagaimana kita harus selalu mengutamakan keridaan Allah dalam setiap langkah. Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa niat mengajar harus benar-benar ditanamkan di dalam hati hanya karena Allah, agar ilmu yang diberikan menjadi berkah dan bermanfaat bagi para murid," ungkap Fauziah.Fauziah menyadari sepenuhnya bahwa seorang guru adalah role model atau teladan bagi siswa-siswinya. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk terus memperbaiki diri dan perilaku sehari-hari agar dapat dicontoh dengan baik oleh para peserta didik. Tantangan mengajar Generasi Alpha yang memiliki perbedaan karakter lintas generasi pun menjadi perhatian khususnya."Menghadapi Generasi Alpha menuntut kita sebagai guru untuk berani masuk ke dunia mereka. Kita harus mempelajari apa yang mereka alami dan sukai setiap harinya. Dengan mendalami dunia mereka, kita dapat melakukan pendekatan yang jauh lebih baik dan efektif, sehingga pesan serta ilmu yang kita sampaikan dapat diterima dan diikuti oleh mereka dengan sukacita," tutupnya.Diketahui, kesuksesan acara ini merupakan buah dari kolaborasi harmonis antara: ESQ, UPZ Baznas STIKes Dharma Husada Bandung, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Quran Cordoba, Nano Bank Syariah, PGRI.Program ESQ Peduli Pendidikan merupakan bentuk CSR yang fokus utamanya adalah membekali guru agar memiliki Mental 165 (1 Ihsan, 6 Rukun Iman, 5 Rukun Islam). Nilai-nilai ini sejatinya sudah ada dalam diri setiap manusia, namun perlu dibangkitkan kembali agar para guru mampu bekerja lebih produktif dan penuh pengabdian.Setelah sukses di batch pertama, perjalanan transformasi ini akan dilanjutkan pada: Batch 2: 6 – 7 Maret 2026 dan Batch 3: 12 – 13 Maret 2026.Hingga saat ini, program ESQ Peduli Pendidikan telah menjangkau ratusan ribu guru di seluruh Indonesia. Dengan pelatihan ini, diharapkan para guru di Jawa Barat dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di sekolah masing-masing, menyebarkan nilai adab dan akhlakul karimah kepada peserta didik demi menyongsong Indonesia Emas.

2026-02-28 23:48:00

IN PICTURES