Senin, H / 02 Februari 2026

Saat Asa Berakhir Duka (Chapter 1)

Sabtu 31 Jan 2026 09:00 WIB

Author :Satir Wahidah

Ilustrasi

Foto: freepik

“Tidak ada yang perlu disalahkan”


ESQNews.id, JAKARTA - Sosok gadis yang tengah terbaring di kasur pesakitan perlahan membuka mata sayunya. Satu tangannya secara reflek mengucek mata yang terasa tidak nyaman. Dia menatap bingung ke setiap sudut ruangan yang tidak lain adalah ruang rawat. 


"Hanya ada aku." Valeska berusaha mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Kaivandra.


"Kok bisa ya, anaknya lagi sakit, malah nggak dijenguk?" tanya Valeska entah pada siapa. 


Bang, Kaivandra


|Bang, kapan pulang? Adek nggak mau di ruangan sendiri, takut bang.


Di tempat lain, Kaivandra terkejut saat membaca pesan dari adiknya. 


|Lho, mama sama papa memangnya belum ke sana? Abang kira, mereka udah nyampe rumah sakit.


|Kayak nggak tau aja, mereka sibuk, mana ada nyempetin waktu buat adek.


Masih di dalam kelas, Kaivandra meraup wajahnya kesal.


|Astaga, yaudah Abang ke sana sekarang. Adek jangan khawatir, di sini ada Abang, ok?


|Siap, hati-hati ya, jangan ngebut.


Kaivandra ingat betul dengan pesan yang dia kirim pada kedua orang tuanya. Tidak mungkin mereka tidak membaca, orang tanda bacanya sudah terlihat.


Harapan Kaivandra, sewaktu dia masuk kuliah hari ini, ada yang menemani adiknya, tapi ternyata tidak. Mereka benar-benar memprioritaskan pekerjaan daripada anaknya. 


“Tahu gitu, gue jagain Valeska. Nggak usah masuk kuliah sekalian!" umpat Kaivandra dalam hati. 


Mamaku


|Send a pictures.


|Sudah dua hari adek demam tinggi, dan dirawat inap. Bisa ke sini sekarang?


|Yaampun, Kai. Maafin mama,


|Mama bisa ke sini sekarang? Kasihan adek,


|Aduh gimana ya, masalahnya mama lagi ada kerjaan di kantor.


Lagi dan lagi soal kerjaan, rasanya Kaivandra ingin marah saat sebuah kerjaan dijadikan alasan agar tidak menemui anak-anaknya. 


|Ke sini sebentar, nggak bisa? Lagian rumah sakitnya nggak jauh dari apartemen Abang. Ma, please. Ini adek sakit lho, Abang udah minta papa buat ke sini, tapi nggak bisa juga,


|Kai, mama juga lagi sibuk. Ini mama lagi di luar kota,


|Sebentar aja nggak bisa? 


|Nggak bisa, sayang.


|Nomor rekening kamu, masih sama'kan? Biar mama transfer uang, buat kamu dan adek,


Kaivandra semakin di buat emosi ketika mama nya berkata demikian. 


|Nggak butuh. Uang Abang masih banyak, kita hanya butuh kehadiran kalian aja.


Di tempat lain, Delina yang merupakan ibu kandung Kaivandra dan Valeska, sedang berjalan menuju ruang meeting. Dia benar-benar tidak peduli pada anaknya. 


***


"Begitu mudahnya, para orang tua berkata seperti itu. Seakan-akan semua bisa diselesaikan dengan materi." Lirih Kaivandra, sebelum keluar dari dalam kelas.


Tubuhnya sudah sangat lelah, ditambah dengan rasa bersalah karena seharian adiknya di rumah sakit seorang diri. 


Kaivandra masih ingat betul dengan sumpah serapah yang dikeluarkannya untuk seorang papa.


Dia tidak peduli terhadap dosa yang telah diperbuatnya, karena dirinya lebih peduli terhadap perasaan Valeska. Dengan berat hati, dia mengemis soal perhatian pada papanya.

 

Papa


|Pa, tadi pagi abang nyuruh papa ke rumah sakit, kenapa nggak datang?


|Papa nggak ada waktu, memangnya kamu nggak bisa nemenin Valeska?


|Abang kan ada kelas pagi nyampe sore, mana bisa pa,


|Kai, Valeska sudah besar, biarkan dia mandiri. Ini bukan masalah kecil yang harus diperdebatkan.


|Dia sudah besar, tapi dia lagi sakit!

|Pa, adik lagi butuh papa. Coba luangkan waktunya sebentar, meskipun sudah besar, tapi peran seorang ayah masih harus dipenuhi. Papa jadi orang tua jangan egois, jangan mementingkan urusan sendiri. Valeska butuh papa,


|Kaivandra girga! Sekali lagi kamu bicara seperti itu, papa nggak akan kasih uang bulanan buat kamu!


Di depan kelas, Kaivandra terkekeh ringan saat membaca pesan dari Girga, papanya.


|Kenapa? Kok marah? Merasa gagal ya jadi orang tua?


Karena merasa kesal setelah membaca pesan dari putranya. Tanpa banyak mikir, Girga pun menelpon Kaivandra, tapi naasnya diabaikan oleh anak sulungnya. 


|Papa nggak pernah mengajarkan kamu untuk seperti itu pada orang tua. Pesan hanya di baca.


Kaivandra berpamitan pada teman-teman satu circle nya, dia melangkah tergesa-gesa hingga sampai di parkiran.


Dia tidak sempat menjawab satu persatu pertanyaan temannya, kunci motor sudah berada di genggamannya.


Kebetulan malam ini kondisi jalan tidak begitu ramai, hanya ada suara motor miliknya melaju kencang menerjang waktu. 


20 menit kemudian, Kaivandra sampai di lobby rumah sakit. Keringat membasahi pelipis, begitupun dengan napasnya yang masih tersengal saat melepaskan helm full face. 


Tanpa menunggu lama, dia langsung masuk ke dalam lift menuju lantai tiga. Melewati tangga rasanya lebih lambat untuk hati yang sedang kalut.


Langkahnya beradu dengan suara detak jantung bersamaan dengan emosi yang mulai naik saat mengingat orang tuanya tidak datang. 


Pintu kamar didorong dengan cemas. Di sana, hanya ada tubuh kecil Valeska yang sedang terbaring lemah, wajahnya masih terlihat pucat dengan selang infus menggantung di samping tempat tidur.


Sesekali, Valeska mendesah pelan, karena merasa jenuh dengan segala notifikasi yang terus berdatangan di ponsel abangnya.


Namun, Valeska memilih diam daripada menegur. Di sofa, Kaivandra hanya diam menatap layar ponsel dengan mata sendu, seakan bertanya tanpa suara.  


"Kenapa jadi seperti ini?" 


Hingga akhirnya, kesunyian terpecah saat Valeska bertanya pada Kaivandra. "Bang, Mama sama Papa nggak bisa ke sini?"


"Lagi pada sibuk, Dek. Gapapa, kan di sini masih ada abang," 


Valeska mengangkat kepala perlahan dan pandangannya bertemu dengan mata Kaivandra.


Dalam tatapannya ada lelah, tapi juga ada kasih yang tak pernah berubah. Relung hati Valeska tersentak. Tangannya terulur kemudian meraih tangan sang abang, lalu menggenggamnya erat. 


"Maaf, Bang ..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. Kaivandra hanya tersenyum tipis, seolah ingin mengatakan bahwa semua sudah dimaafkan sejak awal—karena bagi Kaivandra, kehadiran Valeska di sisinya saja sudah lebih dari cukup.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA