ESQNews.id, JAKARTA - “Bunda, katanya Allah sayang kita,
tapi mengapa kita disuruh puasa, kan jadinya lapar?” ujar seorang anak.
Pertanyaan tentang puasa sering kali diajukan anak-anak. Jawaban
orangtua pun tentu beragam. Ada yang sebatas memuaskan anak, ada juga yang serius
menjawabnya secara ilmiah, baik dari tinjauan kesehatan, ajaran agama, maupun
dari sisi kejiwaan.
Kualitas jawaban orangtua ini sangat menentukan seberapa jauh pemaknaan anak akan arti puasa.

Tak hanya jawaban, pola kebiasaan orangtua selama Ramadhan pun menentukan makna apa yang diserap anak tentang arti puasa.
Ketika orangtua selama bulan puasa sibuk berbelanja dan memilih baju baru, mengecat rumah, mengganti sofa dan gorden, serta mengisi penuh toples-toples, maka yang tertanam dalam benak anak bahwa puasa identik dengan hal-hal yang bersifat kesenangan fisik/duniawi.
(Melansir dari Buku Mendidik Karakter dengan Karakter karya Ida S Widayanti)




