Senin, H / 15 Juli 2024

Mengasuh Anak Lelaki Tanpa Ayah

Rabu 13 Sep 2023 12:07 WIB

Author :Ida S Widayanti

Ibu dan Anak (Ilustrasi)

Foto: Freepik


Pengasuh Rubrik: Ida S Widayanti*


Bu Ida saya single parent, suami saya sudah 6 tahun lalu meninggal. Anak saya hanya satu-satunya laki-laki. Karena saya merasa kesepian sendirian, jadi saya tidur bersama anak lelaki saya sampai dia kuliah. Saya melihat anak saya sangat rapi dan memperhatikan penampilan. Minggu kemarin anak saya bilang ingin facial ke salon. Saya khawatir melihat kecenderungan anak saya yang terlihat feminin. Bagaimana menurut bu Ida?


Arni

Jawaban:


Waalaikumsalam bu Arni. Saya paham dengan situasi yang ibu alami. Ibu ditinggal oleh pasangan sendirian sehingga merasa perlu teman untuk membuat ibu tidak merasa kesepian. Di sisi lain ibu juga anak yang ibu sayangi sehingga membiarkannya tidur bersama ibu sampai ia kuliah.


Anak adalah titipan Allah yang menjadi tanggung jawab kita untuk mendidiknya. Kita sebagai orangtua perlu memikirkan betul apa akibat dari setiap perlakuan kita saat ini bagi masa depan anak. Apa yang kita lakukan harus memiliki tujuan untuk kebaikan anak bukan untuk kepentingan diri kita saat ini.


Anak laki-laki dan perempuan beda karakteristiknya, beda tugasnya, juga dalam pola mendidiknya. Idealnya anak lelaki perlu banyak berinteraksi secara positif dengan ayah agar tumbuh berkembang sesuai fitrahnya. Dengan berinteraksi secara langsung ia akan melihat semua gerak gerik, gestur, cara jalan, cara bicara, cara berpakaian dan lain-lain. Karena pada hakikatnya apa yang anak lihat, dengar, dan rasakan akan membentuk alam bawah sadarnya sehingga akhirnya membentuk perilakunya.


Ketika anak lelaki banyak berinteraksi dengan ibu maka semua gerak-gerik, cara ibu bicara,  berdandan, berpakaian pun akan mempengaruhinya. Ada seorang anak yang dibesarkan oleh ibunya, karena sang ayah sudah bercerai dengan sang ibu. Di rumah ada nenek, tante dan dua saudara kandung perempuan kakak dan adik. Ketika si anak yang satu-satunya lelaki di rumah itu tumbuh besar, keluarga tersebut baru menyadari bahwa gerakan dan perilaku si anak mirip perempuan. Jika sedang berfoto sekeluarga maka cara dia berdiri dan bergaya sangat mirip perempuan.


Kecenderungan anak yang berpenampilan dan perilaku feminin perlu diwaspadai karena dapat mengarah pada apa yang saat ini dikenal dengan istilah SSA atau Same Sex Attraction. SSA adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki kecenderungan tertarik  pada yang berjenis kelamin sama. Jika masih sebatas kecenderungan itu dinamakan SSA namun jika sudah menjadi pelaku penyimpangan seksual sudah dinamakan LGBT.


Saat ini fenomena SSA makin meningkat tajam, tampak dari maraknya media sosial komunitas penyuka sesama yang dengan mudah dapat diakses siapa saja. Grup media sosial di Indonesia yang anggotanya sebagian para istri memiliki pasangan SSA juga banyak sampai jumlahnya per grup bisa lebih dari 10.000.


Oleh karena itu ibu harus segera meminta anak untuk tidur terpisah. Memberi pengertian tentang fitrah laki-laki dan perempuan.


Seorang ibu yang membesarkan anak sendirian tanpa pasangan baik karena bercerai maupun meninggal, sebaiknya segera mencari peran pengganti ayah bagi anaknya. Peran pengganti ayah ini selain ayah tiri, bisa juga kakek, paman, atau saudara lainnya. Anak pelu memiliki figur pengganti yang bisa ia jadikan teladan.


Hal ini berlaku baik pada anak lelaki maupun perempuan. Keduanya perlu dekat dengan ayah atau pengganti ayah. Perbedaanya terletak pada kuantitas waktu untuk berinteraksi dengan ayah lebih banyak banyak dibutuhkan oleh anak laki-laki. Anak perempuan memerlukan ayah yang menyayangi, melindungi, agar kelak mereka tidak mudah tergoda pergaulan bebas. Sedangkan anak lelaki perlu ayah memang untuk dia tiru dalam berbagai aspek.


Tentu ibu masih ingat dengan sirah Rasulullah SAW. Beliau bahkan lahir tanpa ayah karena sang ayah sudah meninggal sejak beliau di dalam kandungan. Lalu apa yang dilakukan oleh sang Ibu? Sejak bayi beliau dititipkan pada seorang wanita yang memiliki suami. Saat sudah berusia 5 tahun diasuh oleh sang kakek. Sedangkan selepas kakeknya meninggal beliau dibesarkan oleh sang paman.


Penelitian menunjukkan banyaknya SSA saat ini banyak disebabkan oleh pola asuh. Dalam kasus SSA lelaki, ada beberapa penyebab yang bersumber dari pola asuh. Pertama, ayah yang terlalu otoriter sehingga disiplin diajarkan dengan kekerasan, lalu anak menjadi dendam. Kedua, bisa karena anak lelaki terlalu dekat dan terlalu banyak berinteraksi dengan ibu, seperti dalam kasus Ibu Arni. Ketiga, tidak ada batasan dalam menggunakan gadget. Anak menelusuri berbagai konten yang bermuatan pornografi baik melalui games maupun media sosial komunitas pen. Saat ini telah terbukti grup-grup di media sosial baik facebook, whatsapp komunitas penyuka sesama. Keempat, lingkungan pergaulan. Hati-hati bergaul dengan teman yang memiliki kecenderungan ke arah SSA. Begitu juga dengan organisasi dan tempat yang disinyalir banyak para SSA. Anak remaja mudah terpengaruh dan mengikuti teman.


Oleh karena itu, ajak putra Anda berdialog untuk menggali pemikirannya, perasaannya, dan kecenderungannya. Sampaikan ajaran dan batasan dalam agama. Jika perlu ajak konseling. Saat ini banya lembaga konseling yang membantu para orangtua atau remaja yang ingin tumbuh kembang sesuai fitrah.


Sebaiknya segera ubah pola interaksi khususnya saat tidur jangan lagi bersama ibu. Mohon bantuan pihak keluarga atau saudara laki-laki dewasa seperti paman, kakek, atau kerabat lainnya agar berinteraksi dan membimbing putra Anda. Sampaikan permasalahannya semoga mereka peduli dan dapat membantu Anda. Selamat berjuang.


*Penulis best seller buku serial parenting Mendidik Karakter dengan Karakter.

**Artikel pernah dimuat di majalah ESQ Magz edisi 7, November 2018


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA