ESQNews.id, JAKARTA - Aisha dan Zaidan baru pindah rumah. Mereka belum mempunyai
teman. Di antara tetangga mereka ada adik-kakak yang ayahnya berprofesi sebagai
pemulung.
Rumah mereka terbuat dari triplek dan berada di pinggiran
kali bersama para pemulung lain yang masih keluarga mereka.
Anak pemulung itu bernama Dudi dan Dini. Mereka dijauhi
tetangga karena suka bermain dengan anjing. Seorang tetangga menyebut mereka “orang
kafir” karena hanya kafir yang suka bermain dan memelihara binatang najis.
Ada juga yang menjulukinya “anak gembel” karena pakaian mereka lusuh dan amat sederhana.

Aisha dan Zaidan berteman dengan siapa saja, termasuk dengan Dudi dan Dini. Tak jarang pula kedua anak itu makan bersama di keluarga tersebut.
Karena kedua anak pemulung itu tidak bisa membaca al-Qur’an, maka ibu Aisha mengajari mereka mengaji, juga tentang tata cara kehidupan seorang Muslim.
(Mengutip dari Buku Mendidik Karakter dengan Karakter karya Ida S Widayanti)



