NEWS
ESQNews.id, BANDUNG - Sebagai komitmen nyata dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter unggul, Korwil Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Jawa Barat menggelar Training Peduli Pendidikan bagi 1000 Guru se-Jabar secara gratis. Pelatihan di buka oleh Sekjen FKA ESQ yakni Gita A. Fadilla serta sambutan dari Ahmad Asikin Spd. M Mpd. selaku Kabid P3TK yang mewakili Kadisdik.Apresiasi tinggi datang langsung dari pendiri ESQ Corp, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian. Ia menyebut bahwa Korwil FKA ESQ Jawa Barat merupakan sosok korwil teladan di Indonesia. Hal ini didasari atas konsistensi mereka dalam menjaga dan menjalankan nilai-nilai Asmaul Husna serta prinsip 165 (1: Ihsan, 6: Iman, 5: Islam) secara istiqomah.Ary Ginanjar memandang bahwa gerakan membekali 1000 guru ini merupakan langkah krusial untuk menjaga nilai-nilai luhur di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan. Menurutnya, program pelatihan karakter gratis bagi para pejuang pendidikan ini bagaikan sebuah cahaya atau mutiara yang bersinar di tengah situasi yang kompleks."Ini adalah upaya tulus untuk menjaga ilmu 165. Di tengah suasana seperti saat ini, gerakan ini hadir seperti cahaya. Kami kembali menghidupkan program training gratis bagi para guru, sebagaimana yang pernah kita rintis sebelumnya, sebagai bentuk dedikasi untuk masa depan bangsa," ungkap Ary Ginanjar penuh rasa bangga.Menggandeng berbagai mitra strategis, program ini bertujuan memperkuat aspek spiritual dan mental para pendidik agar mampu melahirkan generasi emas yang berakhlak mulia.Rangkaian kegiatan ini terbagi dalam tiga batch. Batch pertama telah sukses dilaksanakan pada 27-28 Februari 2026 bertempat di Pusdiklat STIKes Dharma Husada Bandung. Sebanyak 250 peserta yang terdiri dari Guru SD hingga SMA/SMK se-Jawa Barat hadir dengan antusiasme tinggi untuk menyelami pengalaman spiritual dan emosional yang mendalam.Dipandu oleh Coach Ramdhani, Trainer ESQ berlisensi dari Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, para peserta tidak sekadar duduk mendengarkan teori. Mereka dibawa dalam sebuah experience training yang dikemas layaknya sebuah pertunjukan yang menggugah jiwa.Coach Ramdhani berbagi pandangan mendalam mengenai urgensi pelatihan ini. Ia menegaskan bahwa batch pertama untuk guru-guru se-Bandung Raya ini hanyalah awal dari rangkaian tiga batch besar yang direncanakan untuk memperkokoh fondasi pendidikan karakter.Di tengah gempuran era digital, Coach Ramdhani menyoroti tantangan besar yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Menurutnya, aspek intelektual kini sangat mudah diakses oleh siswa melalui teknologi seperti Google, ChatGPT, hingga DeepSeek.Namun, ada satu dimensi yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan, yakni dimensi emosional dan spiritual."Kita tidak cukup hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat intelektual kepada anak-anak kita. Ada hal yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari teknologi, yaitu bagaimana memiliki kesopanan, bagaimana mampu menempatkan diri, dan yang paling utama adalah dimensi spiritual," ungkap Coach Ramdhani.Selama dua hari pelatihan, para guru diajak untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan dan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah. Suasana religius dan spiritual terasa begitu kental, apalagi dengan hadirnya banyak guru agama dalam barisan peserta. Coach Ramdhani menyebut momentum ini sebagai titik balik untuk tidak sekadar mengajarkan ritual agama, tetapi menghidupkan nilai spiritualitas yang nyata."Tujuannya agar anak-anak didik kita memiliki ketangguhan mental karena landasan cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah. Inilah esensi dari Training ESQ 165 yang kami tanamkan," pungkasnya.Menjelang sesi terakhir, Korwil FKA ESQ Jawa Barat, Yusuf Haryasa, menyambut hangat kehadiran para peserta dan secara resmi menerima mereka sebagai bagian dari keluarga besar FKA ESQ. "Anda semua adalah pejuang yang akan mendampingi putra-putri Kota Bandung. Di tengah kabar memprihatinkan mengenai tingginya angka gangguan kesehatan mental di kalangan siswa, kita tidak perlu banyak berteori. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan memberikan energi dan keyakinan yang kuat," tegas Yusuf.Yusuf juga memberikan apresiasi khusus kepada jajaran Pengawas Kota Bandung yang turut mengawal program ini, serta kolaborasi solid dengan berbagai pihak seperti PGRI Kota Bandung. Ia berkisah tentang keberhasilan transformasi karakter yang telah terlihat nyata di sekolah-sekolah seperti SMPN 44 Bandung sebagai bukti bahwa pendidikan yang menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya mampu melahirkan perubahan tanpa paksaan.TestimoniDukungan penuh datang dari jajaran birokrasi pendidikan yang diwakili oleh Nurbani, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Bandung. Ia menegaskan bahwa program ESQ Peduli Pendidikan: Seribu Guru ini merupakan langkah yang sangat krusial dan mendesak (urgent). Menurutnya, sektor pendidikan dipilih sebagai prioritas utama karena para pendidiklah yang berada di garis depan dan bersentuhan langsung dengan nasib generasi masa depan bangsa."Dulu kita mungkin menghadapi krisis ekonomi, namun hari ini kita menghadapi tantangan yang tak kalah berat, yaitu krisis mental. Di era globalisasi dan digitalisasi ini, kita tidak bisa membendung arus informasi. Oleh karena itu, kompetensi guru harus di-upgrade, tidak hanya melek teknologi, tetapi juga melek terhadap kondisi psikologis siswa generasi Z dan generasi Alpha," paparnya.Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap metode ESQ yang menggabungkan teknik audio-visual dan kinestetik untuk menyentuh aspek IQ, EQ, dan SQ secara bersamaan. Ini menunjukkan bahwa program ESQ bukan sekadar training biasa, melainkan gerakan yang selaras dengan program pemerintah dalam menangani isu kesehatan mental dan karakter siswa.Nurbani menyoroti keberhasilan pembiasaan karakter yang telah dirintis sejak tahun 2006 di sekolah-sekolah seperti SMPN 44 Bandung, yang kemudian menyebar ke seluruh Kota Bandung.Program seperti Shalat Dhuha bersama, pembacaan Asmaul Husna, hingga budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) terbukti efektif meredam percikan kenakalan remaja dan potensi perilaku negatif lainnya."Ketika anak-anak dibiasakan dengan Asmaul Husna, hati mereka akan lebih tenang dan mereka akan merasa malu jika berbuat jahat setelah melakukan ibadah bersama. Inilah bentuk muhasabah dan refleksi diri yang sesungguhnya," tambahnya.Untuk itu, ia berharap para guru yang telah mendapatkan pelatihan ini dapat melakukan diseminasi ilmu kepada rekan-rekan lainnya, sehingga setiap siswa di Kota Bandung dapat tersentuh hatinya dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.Nada antusiasme juga datang dari Lilim, Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengikuti jalannya batch pertama. Baginya, pengalaman selama dua hari ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang menyentuh relung hati terdalam."Kita mungkin sering membaca Al-Qur'an, namun melalui pengalaman di ESQ ini, maknanya terasa sangat meresap. Saya dibawa kembali untuk merenungkan masa lalu, mengingat orang tua, orang-orang terkasih, hingga menyadari kekhilafan yang telah dilalui. Ini adalah momentum penting bagi kami untuk memperkuat keyakinan diri dan memanage emosional dengan lebih baik," ungkap Lilim.Sebagai seorang pengawas, Lilim menekankan pentingnya diseminasi ilmu. Mengingat tidak semua guru bisa hadir secara langsung, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menularkan semangat dan metode manajemen stres yang didapatnya kepada rekan sejawat dan para siswa. Ia meyakini bahwa jika seorang pendidik memiliki mental yang kuat dan stabil, maka ia akan mampu menangani berbagai kasus siswa dengan pendekatan yang lebih menyentuh hati."Pendidikan adalah fondasi utama. Dari pendidikanlah pola pikir dilatih, yang kemudian merambat ke bidang kesehatan, ekonomi, hingga lingkungan. Melalui ESQ, guru dibekali manajemen emosi dan spiritual. Jadi, saat menghadapi siswa yang bermasalah, kita tidak hanya memberikan instruksi, tetapi hadir dengan pendekatan spiritual dan manajemen emosi yang tepat sesuai tuntunan Al-Qur'an," tambahnya.Terinspirasi dari materi yang disampaikan, Lilim mengaku kini jauh lebih bersemangat dan memiliki kepastian diri dalam merencanakan masa depan. Ia berharap program ini terus berlanjut agar semakin banyak guru yang ter-upgrade kompetensinya dalam memahami psikologi siswa."Siswa adalah subjek pendidikan kita, mereka perlu dorongan dan perlakuan yang tepat. Ilmu yang saya dapatkan dari ESQ ini menjadi inspirasi besar bagi saya untuk mengubah model pembelajaran dan cara memperlakukan anak didik dengan jauh lebih baik lagi," pungkasnya.Kemudian, pengalaman perdana mengikuti Training ESQ juga memberikan kesan mendalam bagi Fauziah, pendidik dari SDN 063 Kebon Gedang Kota Bandung.Ia mengaku terkejut karena pelatihan yang diikutinya jauh melampaui ekspektasi awal—sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus sarat akan pelajaran berharga tentang titik tertinggi pencapaian manusia, yaitu cinta kepada Sang Pencipta."Pelajaran paling berharga yang saya petik adalah bagaimana kita harus selalu mengutamakan keridaan Allah dalam setiap langkah. Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa niat mengajar harus benar-benar ditanamkan di dalam hati hanya karena Allah, agar ilmu yang diberikan menjadi berkah dan bermanfaat bagi para murid," ungkap Fauziah.Fauziah menyadari sepenuhnya bahwa seorang guru adalah role model atau teladan bagi siswa-siswinya. Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk terus memperbaiki diri dan perilaku sehari-hari agar dapat dicontoh dengan baik oleh para peserta didik. Tantangan mengajar Generasi Alpha yang memiliki perbedaan karakter lintas generasi pun menjadi perhatian khususnya."Menghadapi Generasi Alpha menuntut kita sebagai guru untuk berani masuk ke dunia mereka. Kita harus mempelajari apa yang mereka alami dan sukai setiap harinya. Dengan mendalami dunia mereka, kita dapat melakukan pendekatan yang jauh lebih baik dan efektif, sehingga pesan serta ilmu yang kita sampaikan dapat diterima dan diikuti oleh mereka dengan sukacita," tutupnya.Diketahui, kesuksesan acara ini merupakan buah dari kolaborasi harmonis antara: ESQ, UPZ Baznas STIKes Dharma Husada Bandung, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Quran Cordoba, Nano Bank Syariah, PGRI.Program ESQ Peduli Pendidikan merupakan bentuk CSR yang fokus utamanya adalah membekali guru agar memiliki Mental 165 (1 Ihsan, 6 Rukun Iman, 5 Rukun Islam). Nilai-nilai ini sejatinya sudah ada dalam diri setiap manusia, namun perlu dibangkitkan kembali agar para guru mampu bekerja lebih produktif dan penuh pengabdian.Setelah sukses di batch pertama, perjalanan transformasi ini akan dilanjutkan pada: Batch 2: 6 – 7 Maret 2026 dan Batch 3: 12 – 13 Maret 2026.Hingga saat ini, program ESQ Peduli Pendidikan telah menjangkau ratusan ribu guru di seluruh Indonesia. Dengan pelatihan ini, diharapkan para guru di Jawa Barat dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di sekolah masing-masing, menyebarkan nilai adab dan akhlakul karimah kepada peserta didik demi menyongsong Indonesia Emas.