ESQNews.id, ARAB SAUDI - Bagi jemaah haji, memperbanyak tawaf dan shalat sunnah di Tanah Suci menjadi amalan utama untuk meraih kemabruran. Hal ini disampaikan Pembimbing Haji ESQ Tours Travel, KH. Dr. Abdul Adzim Irsad, di Makkah, Selasa (13/5/2026).
Menurutnya, tawaf memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam ibadah haji. Rasulullah SAW bahkan menyamakan tawaf dengan shalat.
“Tawaf itu ibarat shalat, hanya saja Allah membolehkan berbicara di dalamnya. Barang siapa yang berbicara, hendaklah hanya berbicara yang baik,” ujar KH. Abdul Adzim mengutip HR. Al-Tirmidzi dan Al-Hakim.
Ia menjelaskan, setiap putaran tawaf mengandung pahala besar dan penghapusan dosa.
Rasulullah SAW bersabda, barang siapa yang tawaf di Kakbah tujuh putaran dan menyempurnakannya, maka pahalanya seperti memerdekakan seorang budak.
Setiap langkahnya menghapus satu dosa dan mencatat satu kebaikan.
“Semakin banyak langkah kaki mengelilingi rumah suci, akan semakin besar pahala dan semakin banyak dosa yang terhapus,” katanya.
Shalat dan Tawaf, Dua Ibadah yang Saling Menguatkan
KH. Abdul Adzim, Pembimbing Haji ESQ Tours Travel menekankan bahwa shalat dan tawaf tidak bisa dipisahkan.
Setelah tawaf, Rasulullah SAW menganjurkan shalat sunnah dua rakaat. Keduanya sama-sama bentuk penghambaan kepada Allah SWT, hanya saja syaratnya sedikit berbeda.
“Jika tawaf boleh berbicara, maka shalat tidak boleh. Jika berbicara dalam shalat, maka shalatnya batal,” jelasnya.
Ia menyarankan jamaah haji Indonesia untuk memanfaatkan waktu di Makkah dengan memperbanyak shalat berjamaah dan tawaf sunnah.
Kesempatan ini menurutnya sangat istimewa karena pahala ibadah di Masjidil Haram dilipatgandakan hingga 100.000 kali.
“Tidak aneh jika ada jamaah yang umrah berkali-kali selama di Makkah. Karena satu sujud saja lebih baik dari dunia dan isinya,” ujarnya mengutip hadis HR. Al-Tirmidzi, melansir dari media massa.
Meski begitu, ia mengingatkan agar semangat ibadah sunnah tidak sampai mengorbankan kesehatan dan ibadah pokok haji.
Jaga Shalat Berjamaah, Tanda Haji Mabrur
KH. Abdul Adzim menyebut, salah satu tanda haji mabrur adalah kebiasaan menjaga shalat lima waktu berjamaah dan rajin tawaf sunnah selama di Makkah.
Kebiasaan baik ini diharapkan terbawa hingga kembali ke Indonesia.
Ia juga mengutip hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat adalah sebaik-baik perkara, maka barangsiapa mampu untuk memperbanyak, maka hendaknya dia memperbanyak” (HR. At-Tabrani).
Menjaga shalat dengan baik, menurutnya, bukan hanya membuat fisik sehat dan hati tenang, tetapi juga menjadi jaminan masuk surga.
“Barangsiapa menjaga shalat lima waktu dengan rukuk, sujud, dan thuma’ninah pada waktunya, dan ia yakin ini perintah Allah, maka ia akan masuk surga,” jelas KH. Abdul Adzim, Pembimbing Haji ESQ Tours Travel, mengutip HR. Ahmad.