Senin, H / 08 Agustus 2022

Marhaban ya Ramadhan 1440 H, Resolusi Pasca Idul Fitri

Sabtu 30 Jun 2018 11:14 WIB

Annis Diniyati

ilustrasi

Foto: @betyal_4

Oleh : Annis Diniyati*

ESQNews.id - Apaan sih, Syawalan saja belum tuntas, undangan Halal Bihalal masih berantai, sudah welcoming Ramadhan berikutnya?

Justru. Mumpung kenangan dan peninggalan Ramadhan 1439 H. masih kental, kini jadi saat tepat menyiapkan Ramadhan berikutnya.

Diawali dengan membuka catatan rencana jelang Ramadhan kemarin yang seperti lagu Doraemon, ingin ini ingin itu banyak sekali. Bagaimana realisasinya? Berapa banyak yang terwujud? Apa saja yang tak tercapai? Mengapa?
Kemudian, kita tuliskan lagi target capaian Ramadhan yang akan datang. Jika kemarin kita tulis sebulan, seminggu, atau bahkan mungkin sehari jelang Ramadhan, kali ini kita tuliskan setahun sebelumnya.

Dari pengalaman terakhir, kita susun rencana sekarang untuk dijalankan kemudian. Basisnya bisa pakai bulan-bulan penanggalan  Syamsiah atau Komariah, atau berdasar minggu. Terserah mana yang lebih nyaman dan mudah diterapkan masing-masing. Kebetulan hari ini tanggal 30 Juni dan hari Sabtu. Rencana bisa kita buat hari ini untuk mulai diaplikasikan per bulan Juli atau per hari Senin. Atau dibuat selama sisa  Syawal untuk diaplikasikan tepat selama 10 bulan ke depan, sampai bertemu Ramadhan lagi.

Mengapa target kemarin tidak tetcapai? Kadang kita terlalu semangat menyambut Ramadhan sampai melupakan bahwa selama Ramadhan pun ada urusan sehari-hari yang tetap harus dijalankan, dan itu berarti penggunaan waktu. Rentang 30 hari x 24 jam  tidak serta merta murni bisa diisi urusan ibadah  ritual saja. Ada, bahkan banyak, waktu yang tidak dijadwalkan tapi terpakai. Misalnya, perjalanan. Semakin tahun kemacetan di bulan puasa meningkat. Macet membuat lelah, sehingga kebutuhan istirahat bertambah. Berantai. Belum lagi urusan pekerjaan, anak, dll.

Jadi, persiapan yang akan kita lakukan dalam 10 bulan ke depan ini utamanya untuk mengatur ritme, mengenal kapasitas, mereduksi urusan, mengoptimalkan aset, sehingga Ramadhan nanti bisa lebih sukses.

Urusan  besar seputar Ramadhan dan Lebaran yang bisa kita siapkan dari sekarang, waktu dan dana. 10 bulan ini kita bisa melatih ritme ibadah dan mengatur pembiayaan.

Tadarus. Target khatam Al Qur'an 1x, misalnya. Ini bukan hal mudah. Butuh persiapan. Praktikum dulu, bertahap, meningkat. Hitung mundur, dengan patokan Ramadhan jatuh di bulan ke-11 yad.
Bulan ke-10 kita sudah gladi bersih, 1 bulan khatam 1x.
Sebelumnya, bulan ke-8 dan ke-9, 2 bulan khatam 1x.
Sebelumnya lagi, 3 bulan khatam 1x.
Sebelum itu, khatam 4 bulan 1x.
Berarti, mulai setelah Syawal habis dua minggu lagi, kita  membiasakan ngaji sehari 2,5 lembar (5 halaman), sampai khatam 4 bulan kemudian. Setelah itu, ditingkatkan sedikit, sehari 3,5 lembar. Akan khatam dalam 3 bulan. Bulan ke-8 dan ke-9, sehari setengah juz atau 5 lembar. Barulah bulan ke-10, sehari satu juz. Peningkatan bertahap ini membuat kebiasaan terbentuk tanpa terkejut.

Pembiasaan juga bisa kita lakukan pada kemampuan berjaga. Perempuan, terutama, selama Ramadhan bangun paling pagi, tidur paling malam. Jika mendadak, kadang stamina mulai turun di minggu kedua. Untuk itu bisa dilakukan adaptasi dari sekarang. Pukul berapa kita biasa bangun untuk menyiapkan sahur, jam segitulah kita usahakan bangun. Setiap hari. Sepanjang tahun. Jam tidurnya yang kita atur. Dipercepat, atau sisipkan jatah tidur siang harinya. Bangun malam juga bisa sambil sekalian membiasakan shalat sunnah. 

Tentang sahur, strategi bisa diterapkan juga ke pengubahan menu sahur yang lengkap gizi tapi irit preparasi. Untuk ini, pembiasaan yang perlu dilakukan adalah edukasi anggota keluarga. Misalnya, merutinkan shaum Senin-Kamis dengan menu sahur dan buka ramah ibu rumah tangga.

Ibadah besar lain di bulan Ramadhan adalah ZIS. Zakat bisa kita cicil dengan menyisihkan 2,5% penghasilan, berapapun besarnya penghasilan. Pembiasaannya yang penting. Jika kita menunggu sampai nishab untuk mulai menyisihkan zakat maal, percayalah, itu akan terasa sangat berat. Berat mengikhlaskan dana sebesar itu untuk zakat. Kalau dicicil, selain kecil, juga membuat kita terbiasa melepas sebagian rezeki yang sejatinya memang hak orang lain. Terlalu besar jatohnya dari jatah zakat? Masukkan ke point sedekah atau infaq kita.
Sedangkan untuk zakat fitrah, seringkali lebih nyaman memberi beras sesuai yang kita makan daripada menitipkan uang. Untuk itu, perlu antisipasi. Misal, belanja berasnya sebelum Ramadhan. Apalagi jika di pasar. Dijamin macet.

Pakaian. Kembali, mau apa? Dari 5-6 bulan sebelum Ramadhan, setidaknya 1-2 bulan sebelumnya, kita bisa evaluasi koleksi. Apakah baju di lemari masih layak untuk lebaran? Jika ya, aman. Jika tidak, saat tepat untuk belanja
Begitu Ramadhan, urusan pakaian sudah beres. Pakaian disini termasuk sepatu dan saudara- saudaranya.

Mudik. Nah, ini dia urusan paling ajaib. Bukan ibadah resmi tapi ritualnya lebih memberi dampak nama baik daripada ngaji. 😀.
Persiapan mudik bisa fokus pada dua hal. Transportasi akomodasi, dan dana. Kapan mau mudik, pakai apa, menginap dimana. Jika mau pakai kereta, booking ticket sudah siap dari 3 bulan sebelumnya, begitu juga hotel atau tempat lain.

Jika pakai kendaraan pribadi, sebelum
Ramadhan sudah selesai urusan STNK, tune-up, ban,  dll.
Selain itu, mudik brarti angpau bagi orang- orang tertentu.
Apa yang utama dari ini semua? Dana! Ya. Darimana? Coba kita ingat, kemarin dapat THR berapa?  Jadi apa? Berapa penghasilan bulanan? Berapa biaya lebaran (angpau, oleh-oleh, mudik, parcel, dll.)

Jika kita akan mulai belanja 5 bulan sebelum Ramadhan, berarti 5 bulan ini kita sisihkan sebagian penghasilan untuk ijon THR. Dana ini kita belanjakan pakaian, bahan makanan, servis kendaraan, tiket, dan pelengkap ramadhan-lebaran-mudik lainnya. Termasuk budget THR ART. Anggap saja ini tabungan yang tertunda. Jangan lupa, saat terima THRnya, ini bukan untuk lebaran lagi, tapi langsung masukkan untuk tabungan. Minimal setengahnyalah. Hafal kan...urusan dana lebaran nyaris tak pernah cukup. 😅.

Rumah, ini juga sering luput. Jika kita ingin rapi pas lebaran, aktivitas bisa dicicil dari 1-2 bulan sebelumnya. Terutama urusan besar. Mengecat, cuci tirai, dll.

Dari contoh- contoh di atas, semoga kita bisa menerapkan upayanya sesuai karakteristik dan kebutuhan ibadah maupun gaya hidip masing-masing.

Rencana ini, utamanya,  upaya saya menyiapkan diri sendiri. Semoga Allah meridhoi niat, dan memberi ruang dan waktu. AamiinYRA.


*Penulis adalah seorang Ibu Rumah Tangga yang gemar meng-organize.

Ingin juga tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA