Rabu, H / 17 April 2024

Hikmah di Tengah Kebakaran Hutan di Hobart (2)

Rabu 29 May 2019 15:15 WIB

Author :Fiya Azwia

Indahnya Penghijauan di Alam ini

Foto: ESQ Media

Beberapa kawan dekat yang tahu bahwa saya muslim, terlihat begitu mengkhawatirkan saya. Kalaulah saat itu bukan Marshall yang menjadi dosen penguji tetapi Barbara, keadaan mungkin akan lebih baik, karena saya sudah merasa dekat dengan Barbara.  Dosen saya yang satu itu mengetahui bahwa saya seorang muslim dan tengah menjalankan puasa Ramadhan. Saya yakin, dia pasti akan membantu saya menetralisir suasana. Ketidakhadiran Nicole pun membuat posisi saya semakin sulit, karena saya harus melakukan responsi saya sebaik mungkin.


Dalam keadaan puasa dan dengan diiringi cuaca yang begitu panas, saya seorang diri di hadapan sekian banyak teman-teman yang berlainan bangsa dan agama. Saya  harus memberikan responsi kepada Luke yang begitu menyudutkan agama saya yang Rahmatan lil alamiin, bukanlah hal yang mudah. Dengan mengucap basmallah di dalam hati dan memohon petunjuk dan bimbingan Allah Ar-Rosyid Yang Maha Cerdas, mulailah saya menanggapi presentasi Luke dengan sangat hati-hati.


Atas pernyataan dia bahwa Islam akan mengambilalih pemerintahan dan mengadakan Islamisasi secara besar-besaran, saya menjawab secara halus bahwa itu semua tidak benar. Saya uraikan dengan jelas, lugas dan ramah, bahwa Islam tidak pernah memaksakan kehendak terhadap saudara-saudaranya yang berbeda agama, apalagi bertujuan mengambilalih pemerintahan dan menguasai Indonesia. Saya sampaikan bahwa dalam Islam ada sebuah statement yang sangat mendasar yaitu, "Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.”


Di sini saya merasa Allah sedang menguji keimanan saya untuk mampu menjelaskan tentang kemuliaan Islam di hadapan mereka. Begitu pun saat saya dipojokkan dengan kata-kata jihad yang dikaitkan dengan peristiwa WTC, saya mencoba menjelaskannya dengan hati-hati.


Pendeknya, saya berkata bahwa saya mengerti bahwa isu ini seringkali dikaitkan dengan religious concern, tapi alangkah bijaknya seandainya kita tidak menutup kemungkinan adanya faktor lain yang memengaruhi isu tersebut, dan menghimbau agar tidak langsung mengadili gambaran kaum muslimin hanya dari gambar-gambar tadi.


Kemudian Marshall mengatakan bahwa responsi saya sangat baik. Setelah Video Link terputus, Luke menyalami saya seraya meminta maaf karena sudah menyingung perasaan saya dan memojokan agama saya. Saya pun menjawab, tidak apa-apa, saya sangat menghargai pendapat kamu, dan saya sangat terbuka dengan opini teman-teman terhadap agama saya. Teman-teman sekelas pun ikut tersenyum dan menyalami saya. Mereka banyak bertanya tentang Islam dan apa yang terjadi sebenarnya di Indonesia, lalu kami pun melanjutkan diskusi sambil berjalan.


Yang paling membahagiakan saya, syukur Alhamdulillah dalam keadaan sulit seperti itu saya mampu menyinergikan kecerdasan intelektual, keceradasan emosi dan kecerdasan spiritual yang telah saya peroleh pelatihannya di ESQ pada training Eksekutif Angkatan Ke-7. Karenanya, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Om Ary yang telah membekali saya dengan materi-materi ESQ yang begitu built-in di hati saya. Rasa terimakasih ini juga saya haturkan kepada mama, papa dan kakak saya Reggy Latif yang selalu meng-up-date saya dengan berita-berita seputar ESQ.


Ketika saya mendapatkan kesempatan dari Allah untuk menyampaikan walau hanya satu ayat di depan masyarakat yang belum memahami Islam, saya bisa melakukannya. Saya berusaha memberikan yang terbaik, walau berada jauh dari Tanah Air dan dalam kondisi nyaris dehidrasi.  Pada keadaan belum berbuka sampai pukul 9 malam, suara hati saya berkata, ya Allah hamba bersyukur atas kesempatan yang Engkau berikan ini ya Allah, Engkau pilih hamba-Mu yang dhoif ini untuk menjelaskan kemuliaan agamaku di bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan. Dan tanpa terasa, air mataku menitik saat aku membayangkan betapa Rasulullah teladanku sedang tersenyum memandangku di keabadian sana.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA