ESQNews.id, SURABAYA - Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Jawa Timur berlangsung penuh makna. Dalam upacara yang digelar di Halaman Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (4/5/2026), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menganugerahkan Lencana Emas Jer Basuki Mawa Beya kepada Ary Ginanjar Agustian, pendiri ESQ.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Ary Ginanjar dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM), khususnya melalui pendekatan berbasis talenta, teknologi, dan karakter.
Peringatan Hardiknas tahun ini mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, yang menegaskan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun pendidikan berkualitas.
Dalam sambutannya, Ary Ginanjar menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menilai penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan personal, melainkan bentuk apresiasi terhadap upaya kolektif dalam mendorong transformasi pendidikan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
“Alhamdulillah, dengan segala kerendahan hati, saya menerima penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi kecil ESQ dalam pengembangan SDM berbasis talenta, teknologi, dan karakter,” ujar Ary, dalam keterangannya kepada media massa.
Ary menjelaskan, melalui platform TalentDNA, ESQ telah melakukan pemetaan talenta secara masif di Jawa Timur.
Program ini menjangkau berbagai elemen pendidikan, mulai dari tenaga pendidik hingga peserta didik.
Tercatat, lebih dari 4.400 kepala sekolah, 40.440 guru, serta 404.400 siswa dari jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta telah terlibat dalam program tersebut.
Pemetaan ini bertujuan mengidentifikasi potensi individu secara lebih presisi, sehingga pengembangan pendidikan tidak hanya bertumpu pada aspek akademik semata.
Menurut Ary, pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Pendidikan ke depan tidak cukup hanya berfokus pada nilai akademik. Kita harus mampu menggali potensi terdalam setiap individu agar mereka siap menghadapi tantangan global,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan karakter menjadi bagian penting dalam pembangunan SDM. Tanpa karakter yang kuat, talenta dan kemampuan teknis tidak akan mampu memberikan kontribusi maksimal bagi bangsa.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam menjadikan Jawa Timur sebagai pusat pengembangan talenta nasional.
Menurutnya, kebutuhan terhadap SDM unggul akan terus meningkat, baik di sektor pemerintahan, dunia usaha, hingga tingkat global.
Oleh karena itu, Jawa Timur harus mampu menyiapkan talenta berkualitas sebagai bagian dari proses pembangunan jangka panjang.
“Jawa Timur insyaallah bersiap menjadi lumbung talenta nasional. Ke depan, berbagai sektor akan membutuhkan talenta terbaik, dan kita harus mampu menyediakannya,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa penguatan SDM tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pengembangan talenta secara berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi kontribusi ESQ dalam membantu percepatan transformasi pendidikan di Jawa Timur melalui pendekatan berbasis teknologi dan karakter.
Pengembangan SDM berbasis talenta dinilai menjadi salah satu kunci utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Dalam konteks ini, Jawa Timur diharapkan dapat menjadi model nasional dalam penerapan manajemen talenta yang terintegrasi.
Ary Ginanjar berharap apa yang telah dilakukan di Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan sistem pendidikan yang lebih modern dan relevan.
“Semoga Jawa Timur dapat menjadi model nasional dalam manajemen talenta yang dilakukan secara masif, presisi, dan real time,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tantangan global yang semakin kompleks menuntut sistem pendidikan yang adaptif, inovatif, dan berbasis data.
Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pendidikan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Penganugerahan Lencana Emas Jer Basuki Mawa Beya kepada Ary Ginanjar tidak hanya menjadi simbol penghargaan, tetapi juga penegasan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun SDM unggul.
Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat terus bersinergi untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan.
Dengan langkah tersebut, Jawa Timur diyakini mampu memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pengembangan talenta di Indonesia, sekaligus berkontribusi dalam mencetak generasi yang siap menghadapi dinamika global.
Momentum Hardiknas 2026 pun menjadi pengingat bahwa investasi terbesar suatu bangsa terletak pada kualitas manusianya. Dan melalui penguatan pendidikan berbasis talenta dan karakter, harapan menuju Indonesia Emas 2045 semakin nyata untuk diwujudkan.
