Senin, H / 15 Juli 2024

Cinta yang Salah

Rabu 18 Aug 2021 11:00 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Ilustrasi

Foto: shutterstock.com

Oleh: Faqih Al Fadlil

(Guru di MILBoS Internasional)



 

ESQNews.id, JAKARTA - Salah satu hal yang diinginkan seorang pengantin adalah anak. Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang sudah berumur, namun belum juga dikaruniai anak. Juga Nabi Zakaria yang mengalami hal sama. Namun akhirnya mereka mendapatkan buah hati yang sudah diidam-idamkan bertahun-tahun lamanya. Tentu saja mereka sangat bahagia dan senang bukan kepalang dengan kehadiran sang buah hati.

 

Pun sama dengan orang-orang di sekitar kita yang sangat sulit sekali mendapatkan anak. Walau sudah berusaha dengan banyak cara, tapi belum juga dapat hasilnya. Kadang membuat mereka frustrasi dan galau karena hal tersebut. Hingga mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Walau bukan darah dagingnya, akan tetapi cukup membuat rumah tangga mereka lebih berwarna.


Di sisi lain, banyak orang yang tidak menginginkan kehadirannya. Mereka membuang anak mereka secara cuma-cuma. Hanya karena takut menghadapi dunia yang penuh fitnah. Padahal Allah sudah menentukan rezekinya. Atau mungkin karena malu, sebab berasal dari kecelakaan yang “disengaja."



Ada juga pasangan pengantin yang memang sengaja tidak ingin mendapatkan seorang anak. Mereka memiliki prinsip yang tidak jelas ujung pangkalnya. Beranggapan bahwa anak hanya membuat susah hidup mereka. Mereka juga yang nanti bakal menyengsarakan orang tua. Bisa juga mereka tidak peduli sama sekali dengan orang yang melahirkan dan merawatnya.





 

Ya, banyak sekali macam orang di dunia. Yang jelas, kebanyakan orang sangat menanti seorang anak yang selalu bikin ramai dan meriah. Hingga timbul rasa cinta kepada mereka, sebab kepada merekalah tongkat estafet akan diberikan. Kepada merekalah reputasi keluarga akan dilanjutkan dan diteruskan. Maka apa saja akan dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.


Cinta itu baik asalnya. Dan cinta itulah yang mendatangkan rasa senang dan bahagia. Cinta orang tua kepada anak adalah contohnya. Apa saja kebaikan yang dilakukan, diraih, dirasakan oleh sang anak, orang tua pun akan gembira dan bahagia. Sebaliknya, bila keburukan dilakukan, dirasakan, didapatkan oleh sang anak, maka orang tua pun akan merasakan kesedihan hingga mendalam. Itulah cinta.


Akan tetapi, kadang terjadi salah kaprah dalam urusan ini. Karena cinta, orang tua menuruti apa saja yang diinginkan oleh sang anak. Beli HP buat main PUBG, oke. Beli makanan junkfood setiap saat, oke. Beli motor untuk bisa nongkrong bersama teman-teman, oke. Izin pacaran dengan lawan jenis, oke. Semuanya oke, hingga tak sadar bahwa itu telah merusak masa depan sang anak.


Cinta telah membutakan mata dan hati orang tua. Menuruti apa saja yang diinginkan oleh sang anak hanya karena ingin mendapat balasan cinta. Padahal itu adalah fitnah. Sebuah tindakan yang tidak pernah diajarkan oleh nabi kita. Melewati batas kata cinta itu hingga buta. Tak terasa diri sudah menjadi budak manusia.


Mungkin tak semua orang tua setuju dengan kata “kekerasan”. Naik suara dianggap keras dan kejam. Memberi hukuman disebut bar-bar. Memukul dikatakan mengerikan. Sehingga orang tua tidak pernah sama sekali memarahi atau menghukum sang anak bila melakukan kesalahan. Mereka hanya membiarkan atau mencegahnya saja agar tidak diteruskan. Namun di hari-hari berikutnya tetap saja dilakukan. Dan orang tua tidak mau marah karena takut akan dibenci oleh sang anak.


Hasilnya adalah anak manja. Mereka tidak bisa hidup mandiri dan selalu tergantung pada orang tua. Mudah menangis dan sakit hati. Mereka tidak bisa survive dengan kehidupan yang keras. Makanya yang tercipta adalah mental yang lemah dan payah.


Hingga suatu saat nanti orang tua akan merasakan bagaimana punya anak yang selalu membuntut pada mereka. Tidak bisa lepas dari “ketek” mereka. Bahkan mungkin suatu saat nanti mereka membuat masalah sehingga membuat kita susah. Sedangkan umur sudah tua.


Saya sangat ingat sekali dengan perkataan Cak Nun dalam salah satu ceramahnya. Ada 4 hal yang perlu kita tanamkan kepada anak. Pertama, akhlak. Ini adalah hal yang sangat penting. Akhlak di sini maksudnya sudah mencakup aqidah dan ibadah. Karena akhlak, aqidah, dan ibadah tidak bisa terpisah. Ibarat buah, aqidah adalah biji. Ibadah adalah daging. Dan kulit adalah akhlak. Tanpa itu semua, yang lainnya jadi nggak penting. Bisa ini bisa itu, kalau tidak punya akhlak, semuanya ambyar.


Kedua, militer. Maksudnya bagaimana kita mendidik anak menjadi disiplin, tangkas, dan kuat. Apakah harus dengan mukul? Tidak harus. Namun bila itu sangat dibutuhkan, maka tak masalah. Bahkan nabi pun memerintahkan kita bila seorang anak ketika sudah berumur 10 tahun dan tidak mau shalat, kita bisa memberinya “pukulan”. Asalkan tidak melukai dan menyakitkan. Paling tidak membuat jerah. Dan itu adalah pilihan terakhir bila semua ajakan, nasihat, motivasi sudah tidak bisa didengarkan lagi.


Ketiga, hitungan. Yang dimaksud di sini bukan hanya matematika. Segala macam yang berhubungan dengan hitungan. Yang intinya adalah dalam bertindak, kita harus selalu memperhitungkan. Bila ngobrol dengan orang ini harus bagaimana. Dengan orang itu perlu bagaimana. Kalau mau pergi ke sana harus bawa apa saja. Semuanya perlu diperhitungkan dengan baik. Karena itu sangat mempengaruhi feedback di masyarakat.


Yang terakhir adalah IT. Karena di zaman kita sekarang sudah sangat modern. Segala sesuatu sudah berhubungan dengan teknologi. Maka sulit sekali bisa hidup di zaman sekarang tanpa mengenal semua ini. Bahkan di masa pandemi ini anak-anak sekolah menggunakan IT untuk belajar. Karena sekolah di tutup untuk sementara.


<more>


Naik suara itu bukan benci. Tidak menuruti anak bukan berarti tidak sayang. Memukul itu tidak bermakna kesal. Itu adalah bukti nyata bahwa kita perhatian kepada anak. Walau itu semua, tindakan yang mungkin agak keras, adalah jalan terakhir bila anak memang sudah sangat susah untuk dikendalikan. Sekali lagi, itu jalan terakhir.


Maka seharusnya kita hanya perlu melakukan apa yang sebenarnya harus dan perlu untuk dilakukan. Kita tidak bisa menuruti kemauan anak yang liar dan tak ada batas. Pendidikan tidak mengajarkan seperti itu.


Dan itu pun sama dengan yang dilakukan nabi. Kepada anaknya pun tegas. Ketika anak beliau menginginkan seorang pembantu untuk mengurusi rumahnya, yang dilakukan Rasulullah bukan memberinya budak. Malah beliau mengajarkan dzikir agar dicukupkan hidupnya.


Intinya, cinta itu harus dilandasi dengan iman dan ilmu. Ketika cinta hanya sekadar cinta, hasilnya bisa berbahaya. Cinta itu sendiri yang akan membunuh kita akhirnya. Namun cinta yang dilandasi oleh iman dan ilmu. Kita tahu apa yang perlu dilakukan. Dan kita yakin bahwa itu benar untuk dilakukan.


Hati kita juga mantab bahwa Allah-lah yang akan menjaganya. Maka kita tidak perlu takut untuk memberinya segenap pendidikan. Kita tidak risau untuk memberinya tantangan dan pelajaran. Karena itu demi kebaikan. Terpisah jauh untuk pendidikan, hanya perlu bersabar. Tidak perlu kasihan, semuanya akan baik-baik saja dan terkendali. Memang cinta itu buktinya adalah memberi. Memberikan sesuatu yang terbaik yang bisa diberikan. Bukan sembarangan. Wallahua’alam.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA