Rabu, H / 20 Mei 2026

Belajar Ikhlas dari Rekan Sekantor

Jumat 27 Feb 2026 16:22 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Hari itu suasana kantor terasa tegang. Target proyek belum tercapai, sementara tenggat waktu semakin dekat. Sebagai atasan, aku merasa bertanggung jawab penuh. Dalam rapat pagi, suaraku meninggi.


Aku menegur, mengkritik, bahkan tanpa sadar menyudutkan beberapa anggota tim. Wajah mereka tertunduk. Tidak ada perlawanan, tidak ada pembelaan. Hanya diam yang berat.


Sepanjang hari, emosiku campur aduk. Marah karena hasil belum maksimal, kecewa karena merasa tidak didukung sepenuhnya. Namun menjelang sore, aku melihat salah satu rekan tim masih duduk di mejanya.


Ia tetap bekerja dengan tenang, meski tadi menjadi salah satu yang kutegur paling keras. Aku mendekat dan bertanya mengapa ia masih bertahan hingga larut.


Jawabannya sederhana, “Saya ingin menyelesaikan bagian saya sebaik mungkin, Pak. Hasilnya saya serahkan kepada Allah.”


Kalimat itu menampar batinku. Di tengah tekanan dan egoku yang tinggi, ia justru menunjukkan ketenangan. Tidak ada keluhan, tidak ada drama. Hanya komitmen dan keikhlasan. Aku pulang dengan perasaan campur aduk, malu, haru, sekaligus tersentuh.


Malam itu aku merenung. Selama ini aku menuntut hasil dengan keras, tetapi lupa menguatkan hati. Aku ingin timku solid, tetapi caraku sering kali dipenuhi emosi.


Dari rekan sekantor itu, aku belajar bahwa ikhlas bukan berarti pasif. Ikhlas adalah bekerja maksimal tanpa kehilangan ketenangan jiwa.


Keesokan harinya, aku memulai rapat dengan nada berbeda. Aku meminta maaf atas sikapku yang berlebihan. Bukan karena target tidak penting, tetapi karena cara kita mencapainya harus tetap manusiawi. Suasana berubah. Tidak dramatis, tetapi lebih hangat.


Tekanan menguji profesionalitas, tetapi keikhlasan menguji kedewasaan.


Mari kita belajar menata niat dalam bekerja. Kita boleh tegas, tetapi jangan kehilangan empati. Kita boleh mengejar target, tetapi jangan melupakan hati.


Aku sadar, setiap konflik menyimpan pelajaran. Dan hari itu, aku belajar ikhlas dari rekan sekantor.


"Kebahagiaan sejati adalah ketika apa yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan selaras." — Mahatma Gandhi


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA