ESQNews.id, JAKARTA - Ada yang ngerasa kayak saya nggak ya…
Dulu, kalau nggak salah, sepemahaman saya, dan seingetnya saya, sperma yang tercepat itu yang berhasil membuahi sel telur. Maka… jadilah kita yang sekarang ini. Kita adalah hasil dari perjuangan yang tanpa lelah, berenang mengalahkan jutaan kompetitor lain.
Kalau nggak salah juga, dulu saya pernah dimotivasi berdasarkan konsep itu. Kayak gini kira-kira: "Ayo kamu bisa, Iwan! Kamu itu produk dari sperma unggulan yang pertama kali sampai! Pasti Bisa! Semangat Bisa! Kamu sudah mengalahkan jutaan sperma lain untuk lahir ke dunia! Semangat! Go go go!"
Waktu itu… saya iya-iya aja. Masuk akal.
Apa Anda pernah ngalamin dimotivasi kayak gitu juga?
Bener gak sih?
Sesederhana itu?
Bahwa hidup ini dimenangkan oleh yang paling cepat?
Hingga kemudian saya menemukan satu artikel: “The choice of sperm is entirely up to the egg — so why does the myth of racing sperm persist?”
Dari situ… saya cari-cari sumber lain. Dan ternyata lumayan banyak. Ternyata… cerita “sperma balapan” itu… mitos!
Selama ini saya membayangkan: jutaan sperma berlomba. Pasti rame tuh, entah siapa panitianya. Pasti sibuk banget mengatur jutaan peserta lomba. Belum lagi tingkah polah pesertanya sebelum lomba: ada yang selfie, streaming, ada yang mules karena belum makan, ada yang nyari WC darurat karena tiba-tiba sakit perut, ada yang foto bareng. Tapi di kepala mereka sastu: "Habis ini berlomba pol polan. Hanya satu juaranya. Siapa yang paling cepat, ketok pintu, masuk, dia yang menang." Sementara sel telur… tidak dibahas dalam keramaian itu. Ia hanya pasif, menunggu.
Padahal… sains bilang bukan begitu.
Sel telur tidak pasif. Dia tidak sekadar menunggu.
Dia… memilih.
"Memilih??? Serius???"
Artinya?
Yang terjadi bukan sekadar lomba. Bukan yang tercepat yang menang. Tapi proses yang jauh lebih kompleks. Ada interaksi. Ada seleksi. Jadi kayaknya di sel telur sudah disiapkan juga tim rekruitmen yang bisa menginterview masing-masing sperma - entah gimana caranya- sehingga akhirnya... ada kecocokan. And the winner is.... kitalah hari ini.
Dan di titik ini… saya mulai mikir. Berapa banyak cara kita melihat dunia… yang ternyata terlalu disederhanakan? Kita menyerap: cepat itu unggul. Cepat itu hebat. Cepat itu leader. Leader harus cepat. Di satu sisi betuul... tapi tidak semua harus diukur dengan itu kan?
Dan dampaknya… mulai kelihatan di pekerjaan. Leader merasa harus cepat. Cepat merespon. Cepat mengambil keputusan. Kalo ada yang lama? Langsung diambil alih. Semua pekerjaan berlogo: URGENT! sekarang! Semua pekerjaan di Quadrant 1: Penting dan genting!
Efektif? tergantung. Tapi… yang pelan-pelan hilang adalah kualitas berpikir tim. Karena setiap kali leader terlalu cepat mengambil alih… ada satu hal yang diam-diam terjadi: Tim berhenti mikir. Bukan karena mereka tidak mampu. Tapi karena mereka tahu… ujung-ujungnya juga akan diambil alih. Lama-lama… yang tumbuh bukan capability. Tapi dependency. Yang aktif bukan inisiatif. Tapi menunggu instruksi.
Dan ironisnya…
Semua ini sering dibungkus dengan satu alasan yang terdengar “masuk akal”: “Biar cepat selesai.” Cepat selesai, iya. Tapi… siapa yang berkembang? Kalau semua harus cepat, kalau semua harus urgent, kalau semua harus diselesaikan sekarang juga…
Kapan orang belajar berpikir?
Kapan orang belajar mengambil keputusan?
Kapan orang belajar bertanggung jawab?
Sebagai leader… mungkin kita perlu mulai memilah: Mana yang memang butuh kecepatan. Dan mana yang justru butuh kedalaman.