ESQNews.id, JAKARTA - Malam itu adalah sesi coaching terakhir sebelum Idul Fitri. Suasana terasa berbeda, lebih hening, lebih dalam.
Seorang peserta duduk di hadapanku, matanya terlihat lelah, tetapi ada harapan yang tersisa.
"Saya sudah menjalani Ramadhan, tapi kenapa saya merasa belum berubah?" tanyanya pelan.
Aku tidak langsung menjawab. Aku hanya bertanya, "Dalam perjalanan Ramadhan ini, apa yang paling jujur sudah kita lakukan?"
la terdiam.
Beberapa detik berlalu, lalu ia menarik napas panjang. "Saya berusaha, meski sering jatuh. Saya mencoba, meski tidak selalu konsisten," jawabnya lirih.
Aku mengangguk.
"Kalau kemenangan itu bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang tidak berhenti kembali, apakah kita masih merasa gagal?" tanyaku.
Air matanya jatuh.
Di situlah suasana berubah. Bukan menjadi sedih, tetapi menjadi lebih jujur.
la tersenyum kecil, "Berarti saya masih punya harapan ya..."
Aku tersenyum.
Aku sadar, coaching bukan tentang memberi jawaban, tetapi menuntun seseorang melihat dirinya dengan lebih jernih. Dan malam itu, ia menemukan bahwa perjalanan menuju kemenangan bukan tentang tanpa kesalahan, tetapi tentang keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Menjelang akhir sesi, wajahnya lebih tenang.
"Saya ingin merayakan Idul Fitri dengan hati yang lebih ringan," katanya.
Dan aku tahu, itulah kemenangan yang sesungguhnya.
Hari kemenangan bukan milik mereka yang sempurna, tetapi milik mereka yang terus kembali, terus memperbaiki, dan tidak menyerah pada prosesnya.
Mari kita sambut Idul Fitri dengan hati yang jujur. Kita maafkan diri sendiri, kita perbaiki niat, dan kita lanjutkan perjalanan menjadi lebih baik.
Karena kemenangan sejati bukan tentang penilaian manusia, tetapi tentang kedekatan kita dengan-Nya.
"Kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri."
