Minggu, H / 29 Januari 2023

Sosok Ary Ginanjar Agustian Saat 30 Tahun Silam (1)

Jumat 19 Jun 2020 19:15 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Keadaan Menara 165 yang "mangkrak" atau berhenti pembangunannya selama 2 tahun

Foto: Instagram @ary.ginanjar

ESQNews.id, JAKARTA – Hasil apapun tergantung dari setiap prosesnya. Sering kita mendengar, “Nikmati saja prosesnya”, “Proses tak akan menghianati hasilnya”, “Semua butuh proses, mie instan aja ada prosesnya”. Dan masih banyak contoh lainnya.


Bahkan, seorang Ary Ginanjar Agustian sang Founder ESQ Menara 165 sekalipun. Mempunyai proses dan perjalanan yang panjang untuk mencapai kesuksesannya. Berikut kisahnya dan sebuah video yang memvisualisasikan tempat memulai usahanya:


Gaji saya amat kecil ketika saya dulu menjadi dosen muda. Dengan status pegawai negeri di Politeknik Universitas Udayana Bali pada tahun 1988.



<more>


Gaji Rp 100.000 pada tahun 1988. Indekos Rp 25.000. Sisa Rp 75.000 untuk transport dan makan. Saya harus utamakan bisa makan supaya tetap hidup. Maka saya beli supermie satu box dan pinjam kompor pemanas dengan spiritus sebagai bahan bakar.


Satu box itu saya hitung cukup untuk satu bulan. Sehingga saya tidak akan kelaparan meskipun cuma makan mie.


Dan saya memang suka campur saos dan kecap meskipun tanpa telor. Karena telor adalah barang mewah yang tidak terbeli.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA