ESQNews.id, JAKARTA - Pagi itu, di tengah suasana Ramadhan, saya memimpin rapat dengan perasaan yang tidak biasa. Target belum tercapai, sementara ritme kerja tim terasa melambat.
Saya tahu mereka sedang berpuasa. Tapi di dalam diri, ada suara yang terus mendesak: "Pekerjaan tetap harus selesai."
Rapat dimulai.
Saya menyampaikan evaluasi dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. "Kita tidak bisa terus seperti ini. Profesionalitas harus tetap dijaga, apa pun kondisinya."
Ruangan menjadi sunyi.
Mereka tidak membantah. Tidak ada yang melawan. Hanya diam dan menerima.
Namun entah mengapa, kali ini diam mereka terasa berbeda. Ada lelah yang tidak terucap. Ada sesuatu yang tidak saya pahami.
Siang harinya, saya melewati ruang kerja. Saya melihat salah satu anggota tim tetap bekerja sambil menahan kantuk. Yang lain masih fokus di depan layar, meski wajahnya pucat.
Saya terdiam.
Tiba-tiba hati saya terasa tersentuh. Saya sadar, mereka tidak berhenti berusaha. Mereka hanya sedang berjuang dalam kondisi yang berbeda.
Malamnya, setelah tarawih, saya duduk sendiri.
Saya bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya sudah memahami, atau hanya menuntut?"
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. la juga tentang menahan ego, mengendalikan emosi, dan belajar memahami orang lain.
Hari itu saya merasa kalah, bukan oleh tim, tetapi oleh ego saya sendiri.
Keesokan harinya, saya datang dengan cara yang berbeda. Saya menyapa mereka lebih hangat, mendengarkan lebih banyak, dan menyampaikan harapan dengan lebih bijak.
Tidak ada perubahan besar secara instan. Tetapi suasana terasa lebih ringan.
Dan saya belajar, menjadi pemimpin bukan hanya tentang mengarahkan, tetapi juga tentang memahami.
Ramadhan mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada hasil, tetapi pada kemampuan memahami dan menjaga hati dalam setiap keadaan.
