Kamis, H / 30 April 2026

Ramadhan dan Seni Menjaga Lisan

Sabtu 28 Feb 2026 16:17 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Hari itu adalah pekan kedua Ramadhan. Target belum tercapai, laporan banyak revisi, dan tekanan dari manajemen pusat datang bertubi-tubi. Sebagai atasan, aku berdiri di ruang rapat dengan dada penuh sesak. Aku merasa bertanggung jawab, tetapi juga lelah.


Ketika presentasi tim tidak sesuai harapan, emosiku memuncak. Kata-kataku meluncur lebih tajam dari niat awal.


Aku mengkritik dengan nada tinggi, menyinggung detail kecil yang sebenarnya bisa dibicarakan dengan tenang. Ruangan hening. Tidak ada bantahan. Mereka hanya mengangguk, mencatat, lalu diam.


Diam itu justru menamparku.


Di tengah suasana tegang, aku teringat bahwa aku sedang berpuasa. Aku menahan lapar, tetapi gagal menahan lisan. Hatiku bergetar. Apa arti Ramadhan jika aku hanya menahan haus, tetapi membiarkan kata-kata melukai?


Rapat selesai tanpa drama. Tidak ada yang resign, tidak ada perlawanan. Namun wajah-wajah yang tadi kulihat menyimpan rasa lelah yang berbeda.


Sore itu, aku duduk sendiri di ruang kerja. Aku merenung. Sebagai pemimpin, aku sering merasa berhak menuntut standar tinggi. Tetapi aku lupa, kata-kata yang keluar dari lisanku adalah cerminan kualitas jiwaku.


Keesokan harinya, aku memulai rapat dengan nada berbeda. Aku meminta maaf atas caraku menyampaikan kritik. Aku tetap menyampaikan evaluasi, tetapi dengan bahasa yang lebih terjaga.


Suasana berubah. Tegas tetap ada, tetapi tidak lagi menyakitkan. Di situ aku belajar, menjaga lisan bukan melemahkan kepemimpinan, justru menguatkannya.


Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari yang membatalkan puasa, tetapi juga tentang mengendalikan lisan saat emosi memuncak.


Mari kita jadikan Ramadhan sebagai latihan kepemimpinan jiwa. Kita jaga kata-kata, kita luruskan niat, dan kita evaluasi diri sebelum menyalahkan keadaan.


Aku sadar, konflik hari itu bukan tentang tim yang kurang maksimal, tetapi tentang diriku yang perlu lebih dewasa.


"Berbicaralah hanya jika itu lebih baik daripada diam." — Mahatma Gandhi


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA