Oleh : H. Muhamad Solihin, A.Par, SE, M.Par
ESQNews.id, JAKARTA - Industri pariwisata terus berkembang dengan sangat cepat. Perubahan perilaku wisatawan, teknologi, hingga dinamika global menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi.
Dalam konteks ini, saya berkesempatan menghadiri kegiatan Job Occupational Analysis (JOA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sebagai bagian dari penyusunan kurikulum berbasis industri untuk Politeknik Pariwisata pada Tanggal 21-22 April 2026 di Bandung.
Forum ini mempertemukan para praktisi dari berbagai sector untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun benar-benar relevan dengan kebutuhan lapangan.
Realita: Gap yang Masih Terjadi
Dalam diskusi, satu hal menjadi sangat jelas: Dunia industri bergerak jauh lebih cepat dibanding kurikulum pendidikan. Di lapangan, seorang Tour Manager tidak hanya menjalankan itinerary. Ia harus mampu:
Mengambil keputusan cepat
Menangani masalah real-time
Mengelola pengalaman dan emosi pelanggan
Namun banyak lulusan yang belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan tersebut.
Tour Manager: Profesi Strategis
Dalam JOA, kami menyepakati bahwa Tour Manager bukan sekadar pendamping perjalanan. Ia adalah:
Pengambil keputusan di lapangan
Penjaga kualitas layanan
Pengelola pengalaman pelanggan
Dengan kata lain, Tour Manager adalah representasi langsung dari kualitas industri itu sendiri.
Satu Sektor yang Terlewat: Haji & Umrah
Di tengah diskusi tersebut, ada satu sektor yang menurut saya perlu mendapat perhatian serius: Haji dan Umrah
Faktanya:
Terdapat lebih dari 3.000 penyelenggara perjalanan wisata (BPW) di Indonesia
Sekitar 1,5 juta jemaah umrah setiap tahun
Dan 221 ribu jemaah haji
Bahkan, pemerintah hingga membentuk Kementerian Haji dan Umrah sebagai bentuk keseriusan dalam pengelolaan sektor ini. Namun pertanyaannya: Mengapa sektor sebesar ini belum menjadi bagian utama dalam kurikulum pendidikan pariwisata?
Mengapa Ini Penting
Haji dan Umrah bukan sekadar perjalanan wisata. Ini adalah:
Perjalanan spiritual
Operasional skala besar
Manajemen risiko tinggi
Pengelolaan jamaah dengan karakteristik khusus (lansia, risti, dll)
Artinya, kompetensi yang dibutuhkan sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan tour biasa.
Peluang yang Sangat Besar
Jika dikelola dengan baik, sektor ini bukan hanya kebutuhan domestik, tetapi juga peluang global. Indonesia memiliki keunggulan:
Jumlah jemaah terbesar
Pengalaman operasional besar
SDM dengan karakter service yang kuat
Ini bisa menjadi positioning Indonesia sebagai pusat keunggulan SDM Haji dan Umrah dunia.
Penutup
Kegiatan JOA ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk menyelaraskan pendidikan dengan industri. Namun ke depan, kita perlu melangkah lebih jauh.
Sudah saatnya Haji dan Umrah tidak hanya menjadi praktik industri, tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum akademik yang terstruktur.
Karena kita tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi mencetak profesional yang siap menghadapi realita— dan siap menjadi pemain global.