Jumat, H / 24 April 2026

Kurikulum Pariwisata dan Realita Industri: Saatnya Haji & Umrah Masuk Arus Utama

Jumat 24 Apr 2026 05:33 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

Oleh : H. Muhamad Solihin, A.Par, SE, M.Par


ESQNews.id, JAKARTA - Industri pariwisata terus berkembang dengan sangat cepat. Perubahan perilaku wisatawan, teknologi, hingga dinamika global menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi.


Dalam konteks ini, saya berkesempatan menghadiri kegiatan Job Occupational Analysis (JOA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sebagai bagian dari penyusunan kurikulum berbasis industri untuk Politeknik Pariwisata pada Tanggal 21-22 April 2026 di Bandung.


Forum ini mempertemukan para praktisi dari berbagai sector untuk memastikan bahwa kurikulum yang disusun benar-benar relevan dengan kebutuhan lapangan.


Realita: Gap yang Masih Terjadi


Dalam diskusi, satu hal menjadi sangat jelas: Dunia industri bergerak jauh lebih cepat dibanding kurikulum pendidikan. Di lapangan, seorang Tour Manager tidak hanya menjalankan itinerary. Ia harus mampu:

  • Mengambil keputusan cepat

  • Menangani masalah real-time

  • Mengelola pengalaman dan emosi pelanggan

Namun banyak lulusan yang belum sepenuhnya siap menghadapi tekanan tersebut.


Tour Manager: Profesi Strategis


Dalam JOA, kami menyepakati bahwa Tour Manager bukan sekadar pendamping perjalanan. Ia adalah:

  • Pengambil keputusan di lapangan

  • Penjaga kualitas layanan

  • Pengelola pengalaman pelanggan

Dengan kata lain, Tour Manager adalah representasi langsung dari kualitas industri itu sendiri.


Satu Sektor yang Terlewat: Haji & Umrah


Di tengah diskusi tersebut, ada satu sektor yang menurut saya perlu mendapat perhatian serius: Haji dan Umrah

Faktanya:

  • Terdapat lebih dari 3.000 penyelenggara perjalanan wisata (BPW) di Indonesia

  • Sekitar 1,5 juta jemaah umrah setiap tahun

  • Dan 221 ribu jemaah haji

Bahkan, pemerintah hingga membentuk Kementerian Haji dan Umrah sebagai bentuk keseriusan dalam pengelolaan sektor ini. Namun pertanyaannya: Mengapa sektor sebesar ini belum menjadi bagian utama dalam kurikulum pendidikan pariwisata?


Mengapa Ini Penting


Haji dan Umrah bukan sekadar perjalanan wisata. Ini adalah:

  • Perjalanan spiritual

  • Operasional skala besar

  • Manajemen risiko tinggi

  • Pengelolaan jamaah dengan karakteristik khusus (lansia, risti, dll)

Artinya, kompetensi yang dibutuhkan sangat spesifik dan tidak bisa disamakan dengan tour biasa.


Peluang yang Sangat Besar


Jika dikelola dengan baik, sektor ini bukan hanya kebutuhan domestik, tetapi juga peluang global. Indonesia memiliki keunggulan:

  • Jumlah jemaah terbesar

  • Pengalaman operasional besar

  • SDM dengan karakter service yang kuat

Ini bisa menjadi positioning Indonesia sebagai pusat keunggulan SDM Haji dan Umrah dunia.


Penutup 


Kegiatan JOA ini adalah langkah awal yang sangat baik untuk menyelaraskan pendidikan dengan industri. Namun ke depan, kita perlu melangkah lebih jauh.


Sudah saatnya Haji dan Umrah tidak hanya menjadi praktik industri, tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum akademik yang terstruktur.


Karena kita tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi mencetak profesional yang siap menghadapi realita— dan siap menjadi pemain global.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA