ESQNews.id, JAKARTA - Pagi itu saya datang dengan perasaan yang sudah penuh. Target belum tercapai, tekanan dari atasan semakin kuat, dan laporan tim kembali tidak sesuai harapan.
Rapat dimulai.
Saya berbicara tegas, tetapi perlahan nada suara saya meninggi. "Kita sudah sepakat dengan standar ini. Mengapa masih berulang?" kata saya, dengan emosi yang sulit disembunyikan.
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan. Mereka hanya diam, menunduk, dan mencatat.
Seharusnya saya merasa puas karena pesan tersampaikan. Namun entah mengapa, justru ada kekosongan yang terasa.
Hari itu berjalan lambat. Saya memperhatikan tim dari kejauhan. Mereka tetap bekerja, tetap menyelesaikan tugas, tetapi ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi kehangatan seperti biasanya.
Malamnya, saya duduk sendiri.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Apakah saya sedang memperbaiki keadaan, atau justru melukai tanpa sadar?"
Pertanyaan itu menampar hati saya.
Saya ingat wajah-wajah mereka di ruang rapat tadi. Mereka tidak melawan, tidak membantah, bahkan tetap menjalankan tugasnya. Namun mungkin, saya telah mengambil sesuatu yang lebih penting dari sekadar hasil kerja yaitu rasa dihargai.
Di situlah saya memahami, bahwa menjadi atasan bukan hanya tentang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana hati kita hadir dalam setiap sikap.
Keesokan harinya, saya memulai dengan cara berbeda. Saya mendekati mereka, berbicara lebih tenang, dan mencoba mendengar.
Bukan karena mereka berubah, tetapi karena saya mulai belajar berubah.
Pendewasaan hati tidak datang dari posisi atau jabatan, tetapi dari keberanian untuk mengakui bahwa kita juga bisa salah, dan memilih untuk memperbaiki diri.
