Pemandangan warna-warni parasut yang menghiasi langit biru Majalengka menjadi pemandangan ikonik, terutama saat momen libur panjang tiba.
Bagi mereka yang belum pernah merasakan sensasi terbang di udara, paralayang tandem menjadi primadona.
Di bawah bimbingan instruktur berpengalaman seperti Tata Arsidi, para wisatawan yang awalnya ragu justru kerap ketagihan setelah merasakan embusan angin dari ketinggian.
Menariknya, kekuatan media sosial terbukti ampuh menarik minat pengunjung dari luar kota. Dilansir dari Kabar Majalengka, Wisatawan dari Jakarta, Bandung, hingga Cirebon berbondong-bondong datang karena penasaran dengan unggahan viral yang mereka lihat di layar ponsel.
Gunung Panten bukan hanya tempat bersenang-senang bagi amatir. Area ini merupakan favorit bagi para atlet gantole.
Di sini, ketangkasan mereka diuji dalam latihan akurasi pendaratan—sebuah seni mendarat tepat pada titik sasaran demi meraih skor sempurna.
Sebagai satu-satunya spot paralayang di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), lokasi ini memegang peran krusial dalam peta pariwisata Jawa Barat.
Jika baraya berencana menyambangi destinasi ini, berikut adalah rincian yang perlu diketahui:
• Jam Operasional: Setiap hari pukul 09.00 – 17.00 WIB (tergantung kondisi cuaca).
• Tarif Tandem: Rp450.000 per orang (sudah termasuk transportasi kembali ke titik lepas landas).
• Paket Dokumentasi: Rp700.000 (termasuk penggunaan kamera aksi seperti GoPro/Insta360 untuk mengabadikan momen terbang).
• Durasi: Sekitar 3 hingga 5 menit di udara, sangat bergantung pada kondisi angin.
Meningkatnya tren kunjungan ini diharapkan tidak hanya mengangkat nama Majalengka di kancah nasional, tetapi juga melahirkan bibit-bibit atlet dirgantara baru yang tangguh dari Jawa Barat. [infomjlk]




