Selasa, H / 14 April 2026

Menahan Ego, Menjemput Berkah

Sabtu 21 Feb 2026 17:08 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Aku berdiri di ruang rapat dengan dada penuh sesak. Target belum tercapai, laporan tak sesuai harapan, dan wajah-wajah lelah di depanku seperti cermin yang memantulkan amarahku sendiri.


Sebagai atasan, aku terbiasa memberi arahan, menuntut hasil, dan memastikan semua bergerak cepat. Namun hari itu, suaraku meninggi. Kata-kataku tajam. Aku tahu, sebagian lahir bukan dari kebutuhan tim, melainkan dari egoku yang merasa paling bertanggung jawab.


Di dalam hati, ada gejolak. Marah karena tekanan dari atasanku, kecewa karena ekspektasi tak terpenuhi, dan takut jika dianggap gagal. Aku melihat beberapa kepala tertunduk. Tidak ada perlawanan. Tidak ada bantahan. Keheningan itu justru menusuk lebih dalam daripada perdebatan. Dadaku berdebar, antara ingin melanjutkan kemarahan atau berhenti dan menarik napas.


Saat rapat usai, aku duduk sendiri. Ada rasa jengkel, tapi perlahan berubah menjadi haru. Aku sadar, aku menuntut mereka menahan emosi, sementara aku sendiri gagal menahan ego. Di situlah aku belajar, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling berani mengakui kekurangan diri.


Keesokan harinya, aku kembali mengumpulkan tim. Suaraku lebih pelan. Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku mulai dari diriku sendiri. Mengakui bahwa tekanan telah membuatku lupa pada nilai yang selama ini kupegang. Ada kelegaan yang sulit dijelaskan. Ruangan terasa lebih hangat. Kami mulai bicara solusi, bukan saling menekan.


Menahan ego bukan tanda kelemahan, melainkan pintu menuju keberkahan. Saat kita berhenti merasa paling benar, kita memberi ruang bagi kepercayaan, kolaborasi, dan pertumbuhan bersama.


Mari kita belajar menahan ego dalam setiap peran yang kita jalani. Mari kita dengarkan lebih dalam, berbicara lebih bijak, dan memimpin dengan hati. Karena perubahan besar sering dimulai dari keberanian mengoreksi diri sendiri.


“Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, tetapi yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” — Nelson Mandela


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA