Selasa, H / 18 Mei 2021

Kemandirian Hidup

Rabu 12 Sep 2018 10:04 WIB

M. Husnaini

ilustrasi.

Foto: vector stock

Oleh : M. Husnaini

ESQNews.id - Namanya Tusy Norma Sari. Sehari-hari karib dipanggil Tusy. Ia adalah pemilik Tusy Salon yang terletak di sebuah desa di perbatasan Mojokerto-Pandaan. Usianya baru 22 tahun, tetapi Tusy memiliki kemandirian hidup yang sukar dicari bandingnya pada remaja seusianya.


 
Tusy adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang PNS, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Kakak Tusy sudah meninggal dunia, sehingga kini ia tinggal serumah bersama orangtua dan adik laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP.


 
Tusy memang istimewa. Selain berhasil merintis salon pribadi sejak sembilan bulan lalu, ia adalah juga sosok pekerja keras. Sibuk mengurus salon yang berada di depan rumahnya sejak pukul 09.00-19.00 WIB itu, setiap pagi ia masih menyempatkan diri untuk bersih-bersih dan bahkan mengepel lantai rumah.


 
Kepada saya, ia bercerita bahwa hidup mandiri sudah dilakoninya sejak SMP. Bahkan, di antara alasannya tidak mau kuliah adalah karena khawatir merepotkan orangtua. Tusy enggan menjadi beban hidup orangtuanya. Pikirnya, barangkali akan lebih nyaman tidak meneruskan kuliah asal bisa membantu ekonomi keluarga dan menyekolahkan adiknya.


 
Kemampuan merias wajah dan memotong rambut di salon itu diperolehnya dari seorang guru kecantikan. Selama lima bulan berguru, dan setelah dirasa mampu, ia lantas membuka salon sendiri. Katanya menelan biaya sekitar 25 juta. Dari mana Tusy punya modal sebanyak itu?


 
Modal ia peroleh dari orangtua sekaligus tabungan pribadi dari profesinya sebagai penyanyi elekton. Sejak SMP Tusy memang kerap manggung sebagai penyanyi panggilan. Ia mengaku kerap diundang dalam pertemuan-pertemuan di berbagai hotel. Bahkan sering juga tampil di JTV.


 
Tetapi sudah dua bulan ini Tusy berhenti menyanyi. Ia hanya fokus mengurus salon di rumah. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab bahwa keputusannya berhenti menyanyi itu atas permintaan calon suami. “Ya, barangkali karena penyanyi itu buka-bukaan, Mas. Kan banyak orang mengira kalau penyanyi itu identik dengan hal-hal negatif. Apalagi, calon mertua saya itu seorang haji,” tuturnya.


 
Saya sangat bisa memahami keputusan Tusy itu. Toh mengurus salon sudah sangat menyita waktunya. Tusy akan menikah sehabis Idul Fitri nanti. Dan, menuruti permintaan calon suami untuk tidak menyanyi lagi, menurut saya, adalah bukti bahwa Tusy memang calon istri yang taat suami.


 
Meski selama berprofesi sebagai penyanyi, ia selalu menjaga etika. Ketika tampil di depan para penggemar, misalnya, Tusy tidak pernah berpakaian minim, apalagi seronok. Juga, ia sangat menjaga jarak dengan kaum pria. Menurutnya, ia hanya menyanyi secara profesional, tidak lebih. Dan, itu tampak dari sikapnya yang memang sopan. Murah senyum tetapi tidak manja.


 
Dalam hal menyanyi, Tusy mengidolakan Rita Sugiarto. Ia juga menyukai lirik-lirik lagu Raja Dangdut Rhoma Irama. Nah, karena saya juga penggemar berat Bang Haji dan syair-syair lagunya, pengakuan itu tentu membuat saya tertarik. Kita nyambung.


 
Beberapa kali saya sempat putarkan lagu-lagu karya Bang Haji di HP saya dan saya suruh ia menebak judulnya. Luar biasa, tidak ada satu lagu pun yang saya putar yang ia tidak menebak judulnya. Terang saja saya semakin bersemangat ngobrol kesana-kemari seputar irama musik dangdut.


 
Saya sempat bilang bahwa ada keterkaitan erat antara musik dangdut dan musik Sungai Gangga. Kepadanya saya katakan, banyak lagu dangdut yang merupakan saduran dari lirik-lirik lagu India. Misalnya, yang dinyanyikan oleh Ida Laila atau Mansur S. Dalam lagu Wahai Pesona, misalnya, Bang Haji malah berduet dengan penyanyi India legendaris Lata Mangeshkar. Saya sendiri sangat menggemari lagu-lagu India yang dibawakan para pemilik suara emas seperti Udit Narayan, Kumar Sanu, Alka Yagnik, Kavita Krishnamurti, dan lainnya.


 
Walhasil, hikmah yang bisa saya petik dari seorang Tusy: ada remaja yang tidak kuliah tetapi bisa hidup mandiri dan meringankan ekonomi keluarga, sementara ratusan sarjana justru menjadi beban orangtua. Bagi saya, kuliah atau tidak adalah pilihan. Yang penting bagaimana menekuni pilihan itu agar bisa membawa manfaat bagi diri dan keluarga.



Yang paling penting lagi, profesi apa pun, penyanyi, misalnya, jangan lantas distigma sebagai negatif. Semua tergantung motivasi dan profesionalitas pelakunya. Tusy adalah buktinya.


*Penulis adalah Kandidat Doktor di International Islamic University Malaysia (IIUM). Penulis buku islami best seller "Menjadi Pribadi Pembelajar"

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA