ESQNews.id, JAKARTA - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa peningkatan rasio kewirausahaan merupakan salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia.
Instansi tersebut menargetkan rasio kewirausahaan Indonesia dapat mencapai 3,6% pada tahun 2029, meningkat dari angka saat ini yang berada di posisi 3,29%.
Sejalan dengan upaya tersebut, Jakpat melakukan survei untuk mendalami tren kewirausahaan, khususnya di kalangan calon pelaku bisnis maupun mereka yang sudah menjalankan usaha.
Laporan yang disusun berdasarkan respons dari 1.387 partisipan ini memetakan motivasi, strategi, serta tantangan dalam mengadopsi teknologi Akal Imitasi (Artificial Intelligence/AI) yang dihadapi oleh para wirausahawan saat ini maupun calon wirausahawan.
Data survei menyebutkan 32% responden adalah pemilik bisnis, 59% berencana berwirausaha dan sisanya, 9%, tidak berminat dengan bidang tersebut. Lebih detail, 1 dari 3 Gen X sudah memiliki bisnis selama lebih dari tiga tahun dan sebanyak 46% Gen Z berniat membuka bisnis meski belum tahu kapan.
Alasan terbesar untuk memulai bisnis
Pendapatan tak terbatas adalah alasan paling umum mengapa orang menjadi wirausahawan, dikonfirmasi oleh 46% calon atau pemilik bisnis. Motivasi lainnya adalah ingin bisa bekerja dari mana saja (37%) dan menilai membangun aset sendiri lebih aman secara jangka panjang daripada jadi pekerja (33%).
Spesifik pada generasi, 35% Gen Z berniat membuka usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan 36% Gen X ingin menjadi bos bagi diri sendiri. Sementara, kontrol penuh atas jadwal kerja menjadi alasan bagi 3 dari 10 Milenial untuk merintis bisnis sendiri.
"Temuan ini menunjukkan bahwa alasan orang berwirausaha tidak hanya soal penghasilan. Banyak yang juga mencari kemandirian serta kendali atas waktu dan pilihan kariernya.
Karena itu, pendekatan dalam mendorong kewirausahaan perlu lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan tiap generasi," tutur Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna.
Makanan dan minuman menjadi sektor bisnis yang paling diminati oleh 45% responden, baik calon maupun pemilik bisnis. Namun, calon wirausaha menunjukkan preferensi yang jauh lebih kuat terhadap kebutuhan pokok seperti sembako (34%) dan produk pertanian, peternakan & perikanan (22%).
Sebaliknya, pebisnis yang sudah mapan lebih aktif di bidang telekomunikasi dan produk digital (13%). Hal ini menunjukkan pergeseran menuju model modern yang berbasis teknologi seiring bertambahnya pengalaman.
Usaha menjadi wirausaha
Para responden aktif mempelajari berbagai topik untuk menunjang wirausaha. Survei Jakpat menunjukkan 3 dari 5 orang sudah fokus pada riset pasar dan pencarian ide, yang didominasi oleh Gen Z.
Pembelajaran lain yang juga populer adalah mengenai strategi menentukan harga (45%) dan pengelolaan keuangan (42%). Satu dari 3 responden mempelajari cara membangun nama brand.
Melihat hal ini, Hasna menyimpulkan, "Meski Gen X lebih matang dari sisi pengalaman, Gen Z terlihat lebih serius di tahap persiapan dengan aktif mempelajari riset pasar dan mencari ide bisnis. Hal ini ditopang oleh kemampuan adopsi teknologi yang lebih tinggi."
Bagaimana persiapan modal membangun bisnis? Sejauh mana AI membantu para pemilik bisnis?
Dapatkan hasilnya dengan data mendetail dalam laporan Jakpat “Trends in Modern Entrepreneurship” pada tautan berikut: https://insight.jakpat.net/trends-in-modern-entrepreneurship/

