Selasa, H / 22 September 2026

Wakil Perdana Menteri Malaysia Kunjungi Menara 165, Prof. Ary: Diplomasi Spiritual Menjadi Jembatan Persaudaraan Indonesia-Malaysia

Senin 21 Sep 2026 22:49 WIB

Author :Ida SW

tangkapan layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, Jakarta — Di tengah agenda kenegaraan Wakil Perdana Menteri Malaysia Dato' Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi di Indonesia, Menara 165 menjadi salah satu tujuan silaturahim yang memiliki makna tersendiri. 


Bagi Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, kunjungan tersebut bukan sekadar pertemuan dua sahabat lama, melainkan cerminan apa yang ia sebut sebagai diplomasi spiritual, persaudaraan yang dibangun di atas nilai, budaya, dan kemanusiaan.


Hubungan keduanya telah terjalin lebih dari dua dekade, sejak Ahmad Zahid Hamidi menjabat sebagai Menteri Agama Malaysia. 




Kesamaan visi dalam membangun manusia melalui keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi fondasi persahabatan yang terus bertahan hingga kini, melewati berbagai fase kepemimpinan beliau sebagai Menteri Pertahanan, Menteri Dalam Negeri, hingga Wakil Perdana Menteri Malaysia.


"Persahabatan kita tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga," ujar Prof. Ary.


Persaudaraan yang Pernah Meredakan Ketegangan


Prof. Ary mengenang salah satu momen paling berkesan ketika hubungan Indonesia dan Malaysia memanas akibat sengketa Ambalat. 


Saat itu, Ahmad Zahid Hamidi yang menjabat Menteri Pertahanan Malaysia tetap datang ke Menara 165, bahkan mempertemukan berbagai tokoh pertahanan kedua negara dalam suasana dialog.




Menurut Prof. Ary, pendekatan berbasis hubungan personal dan spiritual tersebut membantu membangun kembali kepercayaan di tengah situasi yang tegang.


"Beliau menyebutnya diplomasi spiritual. Hubungan Indonesia-Malaysia tidak cukup didekatkan melalui politik saja, tetapi juga melalui hubungan kultural dan spiritual," tuturnya.


Baginya, pengalaman itu menjadi bukti bahwa ikatan antarmanusia sering kali mampu membuka ruang dialog ketika hubungan formal menghadapi tantangan.


Alumni ESQ Menjadi Jembatan Dua Bangsa


Salah satu kekuatan yang disebut Prof. Ary adalah keberadaan sekitar 2.5 juta alumni ESQ di kedua negara. 


Menurutnya, komunitas alumni tersebut telah menjadi "jembatan hati" yang mempererat hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia.


"Alumni ESQ menjadi jembatan kultural dan spiritual antara Indonesia dan Malaysia. Ketika rakyat Indonesia datang ke Malaysia, mereka disambut oleh alumni ESQ. Begitu pula ketika rakyat Malaysia datang ke sini, Menara 165 menjadi rumah persaudaraan," katanya.


Tiga Agenda Kolaborasi Masa Depan


Dalam pertemuan di Menara 165, keduanya juga membahas tiga peluang kolaborasi yang dinilai relevan dengan tantangan masa depan.


Pertama, penguatan hubungan budaya dan spiritual sebagai fondasi persaudaraan serumpun Indonesia-Malaysia. 


Kedua, pengembangan sumber daya manusia melalui program Technical and Vocational Education and Training (TVET) Malaysia, termasuk ketertarikan terhadap penerapan TalentDNA Assessment yang telah digunakan dalam Program Sekolah Rakyat di Indonesia. 


Ketiga, dukungan terhadap penguatan ekosistem halal regional, termasuk gagasan pembentukan ASEAN Halal Council yang diharapkan dapat memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai pusat halal dunia.


Prof. Ary menjelaskan bahwa ESQ siap berkontribusi melalui pengembangan ESQ Halal Hub sebagai bagian dari ekosistem tersebut.


Membangun Manusia sebagai Misi Bersama


Di balik berbagai pembahasan strategis itu, Prof. Ary melihat ada benang merah yang mempertemukan dirinya dengan Ahmad Zahid Hamidi: keyakinan bahwa pembangunan bangsa harus dimulai dari pembangunan manusia.


Menurutnya, kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan perubahan ekonomi global justru semakin membutuhkan fondasi nilai spiritual agar generasi masa depan tidak kehilangan arah.




"Hari ini teknologi berkembang sangat cepat. Justru karena itu, nilai spiritual harus menjadi fondasi untuk membangun manusia seutuhnya, menggabungkan IQ, EQ, dan SQ," ujarnya.


Menutup perbincangan, Prof. Ary menyampaikan harapannya agar hubungan Indonesia dan Malaysia terus dipelihara melalui jalur persaudaraan yang tulus.


"Kepentingan spiritual lebih menyatukan daripada kepentingan intelektual, dagang, ataupun politik. Jembatan hati seperti inilah yang perlu terus dijaga untuk merawat kedamaian Asia Tenggara."


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA