Kamis, H / 18 Juni 2026

Menyebarkan Cahaya 165: Ketika Impian Harus Dikubur, Namun Tidak Pernah Mati

Kamis 18 Jun 2026 14:49 WIB

Author :FKA ESQ

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

Oleh: Andi Noviyandi


ESQNews.id, LAMPUNG - Ada impian yang lahir dari kekaguman. Ada pula impian yang tumbuh menjadi panggilan hidup. Bagi saya, menjadi seorang Trainer ESQ bukan sekadar pilihan profesi, melainkan cita-cita yang telah tertanam sejak masa muda.


Saat masih kuliah, saya mengenal konsep ESQ 165 yang memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Saya melihat bagaimana sebuah pelatihan mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap kehidupan, pekerjaan, dan hubungan dengan Tuhan.


Sejak saat itu, saya memiliki satu keinginan sederhana: suatu hari berdiri di depan banyak orang dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan sebagaimana yang dilakukan para trainer ESQ.


Namun, perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.


Pada tahun 2010, ESQ menghadapi ujian besar. Di Malaysia, muncul polemik dan tuduhan bahwa ESQ mengandung penyimpangan akidah. Berita tersebut menyebar luas dan menimbulkan berbagai persepsi di masyarakat. Sebagai seorang mahasiswa, saya merasakan dampaknya secara langsung.


Ketika ibu mengetahui bahwa saya bercita-cita menjadi Trainer ESQ, beliau khawatir. Kekhawatiran seorang ibu tentu lahir dari rasa sayang yang tulus.


Di tengah berbagai informasi yang beredar saat itu, beliau takut anaknya terjerumus ke jalan yang salah. Bahkan, dalam ketidaktahuan dan kecemasan yang ada, muncul kekhawatiran yang sangat jauh: jangan-jangan saya akan terlibat dalam sesuatu yang berbahaya.


Saya tidak marah kepada beliau. Saya memahami bahwa seorang ibu hanya ingin melindungi anaknya.


Akhirnya, dengan berat hati, saya mengubur impian itu dalam-dalam.


Bukan karena saya tidak lagi mencintainya, tetapi karena saya memilih menghormati orang tua. Saya menyimpan cita-cita itu di sudut hati yang paling sunyi, lalu mulai mencari jalan lain untuk tetap bisa memberi manfaat kepada banyak orang.


Saya memilih Plan B: menjadi seorang dosen.


Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya perubahan profesi. Namun bagi saya, itu adalah bentuk kompromi antara impian dan kenyataan.


Jika saya tidak bisa berdiri di ruang pelatihan sebagai Trainer ESQ, maka saya akan berdiri di ruang kelas sebagai seorang pendidik. Karena pada dasarnya keduanya memiliki tujuan yang sama: mengajar, menginspirasi, dan membantu orang lain bertumbuh.


Perjalanan menuju titik itu pun tidak mudah.


Saya berasal dari keluarga sederhana. Sejak SMA hingga menyelesaikan pendidikan S1 dan S2, sebagian besar biaya pendidikan saya peroleh dari hasil bekerja paruh waktu.


Saya belajar bahwa mimpi membutuhkan harga. Ada lelah yang harus dibayar, ada waktu yang harus dikorbankan, dan ada air mata yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.


Sering kali saya bertanya dalam hati, mengapa impian yang begitu saya cintai harus berhenti di tengah jalan?


Namun seiring waktu, saya memahami satu hal penting: tidak semua impian yang tertunda berarti gagal. Ada impian yang hanya sedang menunggu waktu terbaik untuk kembali tumbuh.


Hari ini, ketika saya melihat perjalanan hidup ke belakang, saya menyadari bahwa nilai-nilai yang saya pelajari dari ESQ tidak pernah benar-benar hilang.


Nilai itu tetap hidup dalam cara saya mengajar, menulis, berbicara, dan melayani masyarakat. Mungkin saya belum menjadi Trainer ESQ seperti yang saya impikan dulu, tetapi semangat untuk menyebarkan cahaya 165 masih tetap menyala.


Saya percaya bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita mencapai impian, melainkan tentang seberapa setia kita menjaga nilai-nilai yang melahirkan impian tersebut.


Karena sesungguhnya, impian yang dikubur dengan ketulusan tidak akan mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menemukan jalannya.


Dan siapa tahu, setelah bertahun-tahun berlalu, Allah masih menyimpan kejutan terbaik-Nya.


Mungkin jalan itu tidak sama seperti yang saya bayangkan ketika muda dahulu. Namun selama masih ada kesempatan untuk menginspirasi, mendidik, dan menebarkan kebaikan, saya akan terus melangkah.


Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah menjadi siapa kita, tetapi seberapa banyak cahaya yang mampu kita sebarkan kepada orang lain.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA