Senin, H / 02 Februari 2026

Mensesneg Prasetyo Hadi: Membuka Pintu Pendidikan Melalui Pendekatan Non-Akademik

Selasa 13 Jan 2026 10:01 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, BANJARBARU – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meluncurkan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi dan 131 Kabupaten Kota (Seluruh Indonesia) bahkan menembus wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar, hingga Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara. 

Acara bersejarah ini dipusatkan di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru yang berada di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/01/2026).

Sekolah Rakyat adalah gagasan strategis Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan kemiskinan dan kelaparan antargenerasi melalui pendidikan gratis berasrama yang mengintegrasikan teknologi pemetaan potensi TalentDNA (TalentDNA Mapping) dan hilirisasi lapangan kerja.

Langkah ini merupakan awal dari misi besar pemerintah untuk membangun 500 Sekolah Rakyat hingga tahun 2029 mendatang dengan target menjangkau 500.000 peserta didik dari kalangan masyarakat miskin dan miskin ekstrem.

Di acara tersebut, turut hadir Menteri Sekretariat Negara, Prasetyo Hadi. Ia memberikan penegasan mengenai alasan mendasar di balik konsep unik Sekolah Rakyat.

Beliau menjelaskan bahwa sejak awal, program ini dirancang khusus untuk menjangkau masyarakat yang berada di lapisan ekonomi paling bawah, yakni kelompok Desil-1 dan Desil-2.

Karena target utamanya adalah warga dengan keterbatasan ekonomi yang ekstrem, pemerintah mengambil langkah berani dengan meniadakan tes akademik sebagai syarat masuk.

"Kami ingin memberi kesempatan seluas-luasnya kepada saudara-saudara kita untuk mengakses pendidikan layak dan berkualitas.

Itulah sebabnya kami tidak menggunakan pendekatan akademis yang kaku," ujar Prasetyo Hadi.

Beliau mencontohkan kisah salah satu siswa bernama Nazril. Jika Sekolah Rakyat menggunakan standar tes normatif seperti sekolah pada umumnya, anak-anak seperti Nazril yang awalnya bahkan belum bisa membaca pasti akan langsung tersisih dan kehilangan haknya untuk belajar.

Namun, Sekolah Rakyat hadir dengan filosofi yang berbeda. Alih-alih menguji intelektual formal, sekolah ini justru merangkul dan mengangkat mereka yang tertinggal.

"Setelah kita bantu bersama-sama, sekarang Adik Nazril sudah lancar membaca, bahkan mimpinya mulai hidup kembali," tambahnya dengan nada optimis.

Prasetyo Hadi menekankan bahwa pemetaan melalui minat, bakat, dan talenta dengan TalentDNA adalah kunci pembangunan manusia ke depan.

Dengan mengetahui potensi unik setiap individu, pemerintah dapat membimbing dan membina mereka sesuai arah pembangunan bangsa.

Fokus utamanya bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan bagaimana talenta tersebut diarahkan agar setiap siswa mampu meraih kesempatan terbaik bagi masa depan dirinya sendiri maupun keluarganya.

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA