Minggu, H / 29 Januari 2023

Membangun Kerukunan dengan Iman

Selasa 04 Sep 2018 09:34 WIB

M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: hiverminer.com

Oleh : M. Nurroziqi

ESQNews.id - Di sepanjang kehidupan, kita tidak sendirian. Melainkan, disandingkan dengan beragam teman. Tidak cuma yang kita kenal dalam wujud manusia sebagaimana kita, juga benda mati, tumbuhan-tanaman. Semua. Untuk apa mereka dihadirkan? Jelas untuk saling menemani, saling mengisi, saling menyempurnakan satu sama lain. Dan, dalam upaya saling menemani itulah, letak penting keimanan.


Berteman, haruslah dilandasi iman. Ini, tidak lantas harus seiman. Tidak. Sebab, semua yang di dunia beragam, berbeda-beda. Saling mengenal, berteman dalam landasan iman adalah demi menjaga setiap pertemanan menjadi kedamaian, kebahagiaan. Juga, dalam keragaman kehidupan, di situlah letak ujian keimanan yang sesungguhnya. Banyak sekali yang berhasil berteman dengan yang seragam, seiman, tetapi gagal membangun kerukunan dengan yang berbeda pandangan, berbeda dalam banyak hal. Dari itu, iman yang kuat, seharusnya mampu meneladani Rasulullah Saw yang berteman dengan semua, menjadi rahmat semesta, santun di setiap kehidupan.


Kemudian, yang musti diingat adalah waktu. Kita hidup terbatasi waktu. Berteman pun begitu. Waktu terus berputar, kehidupan harus senantiasa berjalan. Sehingga, perjumpaan-perjumpaan dengan semua kehidupan yang beragam akan selalu ada. Yang kemarin, bisa saja lupa, ditinggalkan. Berganti dengan teman baru, nuansa baru, kehidupan yang selalu maju. Namun, sekecil apa pun teman yang musti berada di wilayah waktu yang kemarin, yang dulu, harus menjadi pelajaran berharga. Jangan sampai meninggalkan luka, saling mendendam. Seandainya pun ada, harus berlapang dada ikhlas untuk saling memaafkan. Dengan begitu, setiap hati akan berisi bahagia, setiap teman akan rukun penuh kedamaian. Dan, yang saat ini atau pun nanti, tertakdirkan menjadi teman, haruslah dijaga betul dengan semangat kerukunan, membangun kebahagiaan, tentunya musti berlandaskan keimanan.


Dan langkah manusia beriman dalam membangun kerukunan antar teman adalah dengan senantiasa memandang hanya pada sisi kebaikan. Kita jelas sadar, bahwa setiap manusia dilahirkan dengan membawa dua sisi yang berlawanan. Dalam diri manusia yang satu, pasti terdapat kebaikan dan keburukan. Sebaik-baiknya manusia, pasti akan terdapat celah buruk, biar pun itu sangat kecil. Demikian pula dengan orang-orang yang terkenal tidak baik, pasti di kedalaman dirinya masih ada sisi-sisi baik yang kadang tidak dimiliki sembarang orang. Dalam dua kenyataan diri manusia itulah, sejatinya peran keimanan.


Orang-orang yang melandasi hatinya sepenuh iman, hanya kebaikan saja yang menjadi pandangan matanya. Sehingga, berteman dengan orang-orang baik, akan menjadikan hubungan semakin indah nan membahagiakan. Sebab, celah keburukan tidak pernah merusak pandangan. Begitu pun ketika harus bergaul dengan yang terkenal kurang baik, tidak mengurangi sedikit pun perlakuan baik terhadap orang tersebut. Karena, yang nampak hanya sisi-sisi baiknya saja.


Hidup cuma sekali, kenapa musti mencari celah buruk supaya saling terpecah dan timbul permusuhan? Ini yang kerap dilupakan. Sebenarnya, memperlakukan seseorang, menjalin hubungan yang indah dan membahagiakan itu mudah. Semudah ketika hendak menyulut permusuhan dan saling memperbesar rasa benci. Kesemuanya, tinggal pandangan diri. Mau memandang sisi baiknya ataukah buruknya. Itu saja. Bukankah seringkali batal bermusuhan lantaran ingat kebaikan seseorang? Dan, mudah sekali menyulut pertikaian hanya sebab ingat keburukan-keburukan?


Dari itu, munculnya rasa benci, nyinyir yang luar biasa, bahkan sampai pada sikap yang sudah sangat menolak terhadap seseorang, sesungguhnya hanya disebabkan salah pandangan saja. Kalau sudah salah pandangan, hanya keburukan yang menutupi hatinya, sehingga sebaik apa pun seseorang, akan dinilainya sebagai yang tidak baik. Kalau sudah begini, diberikan pengertian bagaimana pun, akan sangat sulit. Disampaikan fakta yang senyata apa pun, akan ditolaknya mentah-mentah. Parahnya, manusia yang model begitu, cenderungnya malah mencari-cari keburukan orang lain. Tidak hanya memperbesar rasa bencinya, tetapi juga disebarkan ke banyak orang, supaya turut serta ikut larut dalam kebenciannya. Inilah, kejahatan hebat yang kerapkali tidak disadari, yang sering berseliweran di banyak media. Hoax, kita menyebutnya sekarang.


Mari, saling melupakan keburukan. Supaya hati menjadi semakin bersih dari noda-noda benci, dendam dan iri. Lantas, bergegas memandang hanya dalam kebaikan. Sehingga, kerukunan dalam setiap hubungan akan tercipta penuh kedamaian yang membahagiakan.


Semoga, oleh Allah Swt, kita dianugerahi keteduhan iman yang kuat. Sehingga, hidup dengan beragam kehidupan akan menjadikan hidup kita semakin indah dan senantiasa membahagiakan.


*M. Nurroziqi adalah Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ingin tulisan Anda diterbitkan di ESQNews.id? kirimkan tulisan Anda ke redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA