ESQNews.id, JAKARTA - Suatu sore saya duduk di sebuah ruang kelas kecil setelah sesi pengenalan minat dan potensi selesai. Beberapa siswa sudah pulang, tetapi seorang siswa masih duduk di bangkunya. la memegang hasil tes yang baru saja kami bahas.
Wajahnya terlihat campur aduk antara bingung, lega, dan sedikit terharu.
"Saya baru sadar, ternyata saya tidak bodoh. Saya hanya belum menemukan tempat yang tepat untuk belajar," katanya pelan.
Kalimat itu membuat saya terdiam sejenak.
Selama ini banyak dari kita tumbuh dengan perasaan tertinggal. Ada yang merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berbakat, atau tidak cukup cepat seperti orang lain.
Padahal sering kali yang sebenarnya terjadi bukanlah kekurangan potensi, melainkan potensi yang belum menemukan waktunya untuk berkembang.
Saya teringat masa muda saya dulu. Ada masa ketika saya merasa jalan hidup berjalan lambat. Melihat orang lain melesat lebih dulu membuat hati bertanya-tanya, kapan giliran saya?
Namun waktu mengajarkan sesuatu yang berharga. Potensi tidak selalu muncul pada saat yang sama bagi setiap orang. Ada yang bersinar sejak awal, ada pula yang perlahan menemukan cahayanya setelah melalui banyak proses.
Seperti benih yang ditanam di tanah. la tidak tumbuh karena dipaksa, tetapi karena waktunya memang tiba.
Siswa itu kemudian tersenyum. la berkata, "Mungkin saya hanya perlu belajar dengan cara yang lebih sesuai dengan diri saya."
Saya mengangguk. Di situlah saya melihat harapan mulai tumbuh.
Setiap anak, setiap siswa, dan setiap manusia membawa potensi yang berbeda. Tugas kita bukan membandingkan, tetapi membantu menemukan jalan yang paling tepat agar potensi itu berkembang.
