ESQNews.id, JAKARTA - Kemarin ada quote yang menarik -yang rasanya Anda juga sering dengar- muncul di ruang dengar saya. Kira-kira bunyinya begini, "Do your best, let God do the rest."
Kalimat yang indah yang banyak digunakan untuk memotivasi orang.
Menenangkan.
Seolah setelah kita berusaha dengan keras, kita menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Lalu kalimat ini di-bundling dengan "Usaha tidak akan mengkhianati hasil."
Dari dulu sejak pertama kali mengenal kalimat itu, sampai kemarin otak dan hati saya menerimanya dengan: ok, bagus, gak ada masalah.
Tiba-tiba .. entah siapa yang memulai...pikiran saya jadi gamang, mempertanyakan..
"O ya? Serius seperti itu..? "
Mari kita bedah minor "Do your best, let God do the rest."
Do your best: Kerjakan sebaik mungkin. Artinya lebih kurang: dalam mengerjakan sesuatu kita berusaha melakukannya dengan sangat baik. Terrrr.. baik. Teerrrr.. bagus. Teeerrr.. indah. Pokoknya Teeerr.. banget deh!
Let God do the rest: sisanya serahkan kepada Tuhan.
Pertanyaannya... Kenapa kita sendiri yang mengerjakan di awal? Kenapa gak ajak Tuhan aja sejak awal?
Kenapa polanya jadi seperti ini: Manusia kerja dulu. Tuhan kebagian sisanya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi… pola ini agak... unik.
Seolah-olah kita berkata:
“Ya Tuhan, yang penting-penting sudah saya kerjakan. Saya sudah mengerjakan bagian saya, selebihnya, Engkau yang urus.” atau dengan bahasa lebih sopan: "...selebihnya, aku serahkan pada-Mu Ya Tuhan Semesta Alam."
Lucu juga kalau dipikir. Sejak kapan manusia mengerjakan main course, sementara Tuhan mengerjakan dessert-nya?
Padahal, dalam pengalaman saya yang sedikit ini, justru masalah-masalah besar muncul di "Do your best."
Misal: kita campaign promosi produk baru besar-besaran. Lalu sesuatu terjadi. Pasar berubah. Orang berubah. Situasi berubah. Promosi gagal. Lalu, apa yang terjadi? Siapa yang disalahkan?
Dan tiba-tiba kita sadar bahwa ternyata ada begitu banyak hal yang sejak awal memang tidak pernah berada dalam kendali kita.
Lho.. kok enak jadi manusia. Ngerjain sesuatu, kelar gak kelar, kasi Tuhan buat diberesin. Jadi.. siapa bosnya, Siapa bawahannya?
Atau jangan-jangan sejak awal kita memang salah memahami kalimat itu. Mungkin bukan berarti manusia mengerjakan yang penting, lalu Tuhan menyelesaikan sisanya.
Mungkin justru sebaliknya. Kita melakukan bagian kecil yang memang bisa kita lakukan.
Merencanakan. Berusaha. Berpikir. Bekerja keras.
Tetapi sebagian besar yang menentukan hasilnya… memang sejak awal tidak berada dalam wilayah kita.
Pasar bergerak. Orang berubah. Situasi berubah. Dan di titik itulah kita sering baru sadar:
Oh… ternyata sejak awal memang tidak semua berada dalam kendali kita.
Mungkin karena itu banyak orang yang kemudian menemukan ketenangan bukan ketika semua rencana berhasil.
Tetapi ketika mereka menyadari bahwa sejak awal bahwa perjalanan itu sebenarnya tidak pernah sepenuhnya berada di tangan mereka.
Jadi mungkin masalahnya bukan pada kalimatnya. Mungkin hanya cara kita memahaminya saja yang terlalu sederhana. Karena bisa jadi bukan: “Do your best, let God do the rest.”
Tetapi sesuatu yang lebih rendah hati dari itu: Kita melakukan bagian kecil yang bisa kita lakukan.
Dan sejak awal… Tuhan sudah mengerjakan jauh lebih banyak daripada yang kita sadari.