"Optimisme Indonesia Emas 2045 dibangun dari hukum yang berkeadilan dan jaksa yang berintegritas" - Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian
ESQNews.id, JAKARTA – Badan Pendidikan dan Pelatihan (Bandiklat) Kejaksaan RI kembali menunjukkan komitmennya sebagai kawah candradimuka bagi para penegak hukum kelas dunia.
Pada Selasa malam (20/1/2026), suasana di Gedung Sasana Adhika Karya Kejaksaan RI, Jakarta, tampak khidmat saat digelarnya Training ESQ serta Kick Off Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan 83 Gelombang 1 Tahun 2026.
Acara strategis ini dihadiri langsung oleh Kepala Pusat Manajemen Kepemimpinan (Kapus Mapim), Dr. Teuku Rachman, S.H., M.H., serta Kepala Pusat Diklat Teknis dan Fungsional (Kapus DTF), Rini Hartatie, S.H., M.H.
Sebagai narasumber utama, hadir Sang Inspirator Bangsa, Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ Corp), yang memberikan pembekalan karakter bagi 500 calon Jaksa dan 5 personel TNI.

PPPJ tahun ini mengusung tema besar: "Mewujudkan Penegak Hukum yang Profesional, Berintegritas, dan Berkapabilitas Tinggi dalam Transformasi Penegakan Hukum Modern Menuju Indonesia Emas 2045".
Program ini dirancang bukan sekadar untuk mencetak ahli hukum, melainkan pemimpin masa depan yang memiliki loyalitas besar kepada negara dan kepatuhan mutlak pada nilai-nilai ketuhanan.

Kabandiklat Kejaksaan RI, Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, dalam pesannya yang disampaikan melalui jajaran pimpinan, menekankan bahwa Bandiklat adalah standar utama dalam mencetak Jaksa yang jujur dan memegang teguh Tri Krama Adhyaksa.
"Tanggung jawab saya besar untuk memastikan lulusan calon Jaksa (Cajak) memegang apa yang diajarkan selama pendidikan. Karenanya, kami hadirkan ESQ agar ada pendekatan yang berbeda.
Kita ingin mereka takut kepada Tuhan, sehingga dengan sendirinya takut berbuat kesalahan atau korupsi," tegas Kabandiklat dalam arahannya.
Untuk itu Sang Pendiri ESQ, Ary Ginanjar Agustian hadir memberikan pelatihan untuk para calon jaksa. Di hadapan ratusan calon jaksa, Ary Ginanjar melempar sebuah pertanyaan mendasar yang menggetarkan nurani: "Apa niat sesungguhnya Anda menjadi seorang jaksa?"
Sesi ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah ikrar untuk membentuk barisan penegak hukum yang istimewa, jujur, dan terpercaya.
Ary Ginanjar mengingatkan para peserta agar tidak terjebak dalam jebakan "Jaksa Materialistik" sosok yang tampak religius dan ramah di luar, namun pusat orbitnya hanya digerakkan oleh ambisi posisi dan harta.
"Jaksa seperti ini akan melakukan apa pun demi jabatan, namun batinnya kosong. Jika pusat kendali Anda adalah uang, maka keadilan akan diperjualbelikan. Jika pusatnya adalah eksistensi, Anda akan hancur saat tidak mendapatkan pujian," tegasnya.
Beliau kemudian memperkenalkan konsep Grand Why, sebuah motivasi tertinggi yang melampaui kepentingan diri sendiri. Katanya, untuk menjadi Jaksa Grand Why, tidak cukup hanya memiliki komitmen intelektual yang tahu dan hafal undang-undang.
Namun juga harus memiliki komitmen emosional yang berorientasi pada kemanusiaan, organisasi, negara, dan bangsa. Dan yang paling utama, memiliki komitmen spiritual yang berorientasi kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Ary mengajak para calon jaksa meneladani tokoh-tokoh besar seperti Baharuddin Lopa dan Artidjo Alkostar, mereka adalah sosok-sosok yang namanya harum hingga kini karena memegang teguh integritas tanpa kompromi.
"Suatu saat, namamu harus ada di barisan manusia-manusia kuat itu," ujarnya yang disambut gemuruh tepuk tangan.

Suasana berubah haru saat Ary mengajak peserta berefleksi tentang pengabdian. Beliau menekankan bahwa menjadi jaksa berarti hidupnya telah "dibeli" oleh negara untuk mengabdi.
"Mungkin kebaikan yang kau lakukan hari ini akan dilupakan orang esok hari, namun tetaplah berbuat baik. Karena pada akhirnya, ini bukan antara dirimu dengan mereka, melainkan antara dirimu dengan Tuhan."
Puncak emosi pecah saat para calon jaksa berdiri bersama dan mengucapkan janji suci. Di bawah kesaksian para pimpinan Kejaksaan, termasuk Ibu Kapus DTF, mereka berikrar:
* Tidak akan mengecewakan air mata dan harapan orang tua.
* Menjadi jaksa yang berkeadilan, bukan pemburu posisi.
* Menjadi garda terdepan penegak hukum menuju Indonesia Emas 2045.
"Hari ini, dalam Diklat ESQ untuk para calon Jaksa, kami meneguhkan kembali integritas bukan slogan, ia adalah karakter. Bukan sekadar pintar menuntut, tapi kuat menjaga nurani. Bukan sekadar tegas, tapi adil. Bukan sekadar berani, tapi bersih.
Malam ini adalah keputusan besar. Indonesia Emas ada di tangan Anda. Saya yakin dan percaya, di depan saya ini adalah jaksa-jaksa terbaik yang pernah dilahirkan di bumi pertiwi," pungkas Ary Ginanjar dengan penuh keyakinan.
Lebih lanjut, "Hari ini saya semakin optimis melihat para calon jaksa muda ini. Mereka sedang dibentuk dengan tiga komitmen utama, komitmen intelektual pada hukum, komitmen emosional pada bangsa dan negara, serta komitmen spiritual pada nilai-nilai ketuhanan.
Inilah fondasi Jaksa masa depan. Jaksa yang tidak hanya menegakkan hukum, tapi juga menjaga nurani.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Jaksa Agung dan Bapak Kepala Badan Diklat Kejaksaan RI atas kepemimpinan yang menyalakan harapan membangun optimisme masa depan hukum Indonesia yang berkeadilan dan jujur menuju Indonesia Emas 2045.
Karena Indonesia kuat bukan hanya oleh ekonomi, tapi oleh kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari integritas. Salam Adhyaksa!"
Melalui pembekalan ini, para calon jaksa tidak hanya pulang membawa ilmu, tetapi membawa "kompas hidup" yang akan menjaga mereka dari badai godaan di masa depan.
Pembekalan Penyelenggara dan Matgaklin
Satu hari sebelumnya, Senin (19/1/2026), ESQ juga telah melakukan sesi penguatan khusus bagi 140 orang tim penyelenggara, tim kesehatan, tenaga pengajar, serta tim Matgaklin (Pemantapan Penegakan Kedisiplinan).
Tujuannya sangat jelas: menyamakan frekuensi agar para pengasuh dan pengajar memiliki kecerdasan emosional serta spiritual yang matang.
"Penyelenggara harus memiliki Grand Why yang kuat agar dalam membimbing siswa tidak mudah emosi, tetap sehat, dan mampu menjadi teladan bagi para calon Jaksa," ujar Ary Ginanjar.
Dengan sinergi antara kompetensi hukum dari Bandiklat dan kekuatan karakter dari ESQ, Indonesia bersiap menyambut lahirnya para "Pedang Keadilan" yang tidak hanya tajam secara logika, tetapi juga jernih secara nurani demi tegaknya hukum yang berkeadilan dan humanis.
Inovasi TalentDNA dan Buku Saku Digital
Acara hari ini diselenggarakan dalam rangka melanjutkan kesuksesan kolaborasi tahun 2025, tahun ini Kejaksaan Agung RI memperkuat sistem SDM-nya melalui AI Talent Management (AITM) berbasis TalentDNA.
Seluruh 505 peserta PPPJ serta 7.000 pejabat eselon 3-5 akan dipetakan potensi alaminya melalui 45 talenta unik (Drive, Network, Action).
Metode ini memungkinkan Biro Kepegawaian untuk menempatkan Jaksa berdasarkan kecocokan peran (job suitability), sehingga setiap insan Adhyaksa mampu bekerja dengan prinsip 4R (Olah Ruh, Olah Raga, Olah Rasa, Olah Rasio) serta mencapai level Excellent dan Meaningful.
Selain itu, pemanfaatan Buku Saku Kejaksaan Agung menjadi instrumen penting bagi para peserta untuk memahami integritas secara praktis.
Testimoni
Kepala Pusat Manajemen Kepemimpinan (Kapus Mapim) Bandiklat Kejaksaan RI, Dr. Teuku Rachman, S.H., M.H., menegaskan bahwa pelatihan ESQ bagi peserta PPPJ Angkatan 83 tahun 2026 merupakan langkah awal yang krusial dalam transformasi institusi.
Menurutnya, pelatihan ini berfungsi sebagai momentum untuk membuka hati dan pikiran para calon jaksa agar mampu melakukan refleksi diri yang mendalam.
"Ini adalah awal mula untuk membentuk karakter. Kami ingin para jaksa membuka diri dan menyiapkan jiwanya untuk menjadi penegak hukum yang siap menggapai visi Indonesia Emas 2045.
Apa yang disampaikan dalam pelatihan ESQ ini sangat bermanfaat dan tentunya memerlukan keberlanjutan agar nilai-nilai yang telah tertanam dapat terus terpupuk dengan baik," jelasnya.
Beliau juga menekankan bahwa pelatihan ESQ bukan sekadar memberikan keberanian secara fisik atau pikiran, tetapi lebih jauh lagi, menyentuh aspek rohani. Hal ini dianggap penting agar para calon jaksa memiliki kesiapan mental dan spiritual yang kokoh sebelum terjun ke lapangan.
"Pelatihan ini menyiapkan mereka secara profesional dengan integritas yang kuat. Kami ingin sejak dini mereka sudah memiliki pemahaman yang jernih terhadap apa yang harus dilakukan sebagai jaksa di masa depan.
Kesiapan rohani dan jiwa inilah yang akan menjadi benteng mereka dalam menjalankan tugas-tugas berat di masa yang akan datang," pungkasnya.
Sedangkan Kepala Pusat Diklat Teknis dan Fungsional (Kapus DTF) pada Badan Diklat Kejaksaan RI, Rini Hartatie, S.H., M.H., memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya kedalaman proses dalam membentuk karakter calon Jaksa.
Menurutnya, internalisasi nilai-nilai Grand Why yang dibawa oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian tidak bisa dilakukan hanya dalam satu pertemuan singkat.
"Untuk benar-benar masuk ke dalam jiwa mereka, proses ini idealnya dilakukan secara berulang. Tujuannya agar mereka menjadi sosok Jaksa yang genuine (asli) sesuai dengan harapan kita bersama.
Kualitas materi dari Pak Ary sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, karena saya dan Pak Kapus Mapim pun sudah merasakan langsung manfaat pembelajaran ini sebelumnya," ujar Rini Hartatie.
Lebih lanjut, Rini menyoroti inovasi penggunaan TalentDNA yang kini diintegrasikan dalam program PPPJ. Berdasarkan evaluasi dari angkatan-angkatan sebelumnya, ia melihat bahwa setiap calon Jaksa memiliki spesifikasi dan keunikan karakter yang berbeda.
Melalui pemetaan TalentDNA, institusi dapat secara presisi menentukan penempatan tugas yang paling sesuai dengan bakat alami mereka.
"Dari pembentukan karakter melalui ESQ dan pemetaan TalentDNA ini, kita bisa melihat kecocokan bidang bagi setiap personel.
Misalnya, kita bisa mendeteksi siapa yang memiliki ketegasan untuk di bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus), atau siapa yang memiliki empati tinggi sehingga lebih cocok di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun).
Ada orang yang secara alami 'enggak tegaan', dan sifat-sifat seperti ini akan terlihat jelas di TalentDNA," jelasnya.
Bagi Rini, sinergi antara penguatan spiritual dan pemetaan talenta digital ini adalah kunci untuk memastikan bahwa setiap lulusan Bandiklat tidak hanya kompeten secara hukum, tetapi juga ditempatkan pada posisi di mana mereka dapat memberikan dampak paling maksimal bagi keadilan di Indonesia.
Antusiasme dan transformasi batin tidak hanya dirasakan oleh para pengajar, tetapi terpancar kuat dari wajah para peserta PPPJ Angkatan 83.
Glorivy Kaisiri, calon jaksa asal Papua, bersama rekannya Adinda Setyaning Utama dari Satker Kejaksaan Negeri Sidoarjo, mengungkapkan betapa mendalamnya dampak pelatihan ESQ yang mereka jalani meskipun dalam durasi yang relatif singkat.
"Pelatihan ini memberikan dampak yang sangat besar bagi rohani kami. Jujur saja, jika kami tidak mendapatkan pembekalan ini, mungkin kami masih akan merasa bingung dan 'rabun' tentang apa yang sebenarnya harus kami lakukan sebagai seorang calon jaksa.
Kami masih mempertanyakan akan menjadi sosok seperti apa kami nantinya di lapangan," ungkap Glorivy dengan penuh kesungguhan.
Senada dengan hal tersebut, Adinda menambahkan bahwa pengarahan dari Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian merupakan bekal krusial bagi para Adhyaksa muda.
Menurutnya, aspek spiritualitas yang diajarkan menjadi fondasi utama dalam memantapkan niat pengabdian.
"Adanya pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami, para calon jaksa muda. Ini adalah salah satu bentuk komitmen kami sebagai Adhyaksa muda untuk terus membangun negeri dan mengabdi pada negara.
Melalui pelatihan ESQ hari ini, kami akhirnya tahu pasti langkah apa yang harus kami ambil dan nilai apa yang harus kami pegang teguh sepanjang perjalanan karier kami ke depan," tutup Adinda.
Belajar dari Realitas: Mahasiswa Universitas Ary Ginanjar Terjun Langsung ke Jantung Birokrasi Bangsa
Metode pembelajaran di Universitas Ary Ginanjar (UAG) dan ESQ Business School kembali mendobrak batas dinding kelas. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian menegaskan bahwa cara belajar terbaik bagi para mahasiswanya adalah dengan bersentuhan langsung pada realitas.
Hal ini dibuktikan saat beliau memboyong dua mahasiswa terpilih, Muhammad Kautsar (Psikologi) dan Muhammad Taufik (Teknik Industri), untuk ikut serta dalam pelatihan calon jaksa di Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Bagi Kautsar dan Taufik, malam itu bukan sekadar sesi observasi. Mereka terjun ke tengah atmosfer ruang strategis bangsa, menyaksikan bagaimana nilai-nilai integritas ditanamkan dan bagaimana energi kepemimpinan seorang tokoh bangsa mampu menggerakkan audiens.
"Meskipun hari sudah malam, semangat yang terpancar dari kelas Pak Ary benar-benar luar biasa, rasanya seperti baru bangun tidur di pagi hari," ungkap Muhammad Kautsar penuh antusias.
Mahasiswa Psikologi ini mengaku mendapatkan pelajaran berharga tentang konsep tiga kecerdasan (IQ, EQ, dan SQ).
"Kami belajar bahwa hidup harus dimulai dari SQ sebagai kompas. Dengan SQ yang kuat sejak dini, kita memiliki visi yang jelas sehingga tidak akan 'lontang-lantung' atau sekadar terseret arus kehidupan yang tidak menentu."
Senada dengan rekannya, Muhammad Taufik menyampaikan rasa bangganya dapat melihat langsung sang mentor beraksi di Kejaksaan Agung.
Mahasiswa Teknik Industri ini mengakui bahwa keterlibatannya dalam kegiatan lapangan ini semakin memperkuat transformasi karakter yang ia rasakan selama kuliah di UAG.
"Kesempatan ini mengubah pandangan saya secara total tentang keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam praktik nyata," tuturnya haru.
Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian menjelaskan bahwa inilah esensi dari UAG sebagai "Universitas Kehidupan".
Beliau ingin memastikan mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi mengalami langsung bagaimana sebuah perubahan dibangun.
"Mereka tidak hanya duduk mendengar. Mereka merasakan atmosfernya dan mengalami sendiri bagaimana sebuah kelas dibangun serta bagaimana nilai ditanamkan.
Tanpa SQ sebagai arah yang jelas, sehebat apa pun kemampuan seseorang, mereka akan tetap rapuh. Di sini, kami menyiapkan mereka agar tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi tangguh menghadapi tantangan hidup," pungkas Ary Ginanjar.
Kisah Kautsar dan Taufik ini menjadi penutup yang sempurna untuk menunjukkan bagaimana teori di kampus UAG diimplementasikan secara konkret di institusi negara seperti Kejaksaan Agung RI.





