Selasa, H / 18 Mei 2021

Cara Bicara yang Penuh Makna (1)

Jumat 07 Feb 2020 07:17 WIB

Author :Ida S. Widayanti

Ilustrasi

Foto: technologyreview.com

Mendidik Karakter dengan Karakter

Oleh: Ida S. Widayanti


ESQNews.id, JAKARTA - Seorang ayah sedang berkemas akan pergi ke luar kota. Ketiga anaknya berkumpul di sekelilingnya.


“Ayah, aku mau dikasih oleh-oleh buku, ya!” ujar anak sulung.


“Aku mau boneka beruang, ayah!” ujar si bungsu.


“Aku mobil-mobilan saja ya!” si tengah tak mau ketinggalan.


“Aku buku tentang pesawat, ya!” tambah si sulung.


“Insya Allah...insya Allah!” ujar sang ayah tanpa memindahkan pandangannya dari koper yang sedang dirapikannya. “Ayah, aku mau ayah jawab iya, tidak pakai insya Allah. Ayah jawab iya, dong!” ujar si tengah sambil menarik-narik tangan ayahnya.


“Iya ayah, jangan insya Allah,” ujar si sulung dan si bungsu hampir bersamaan. Dalam perjalanan meninggalkan rumah, si ayah merenungi kata-kata anaknya. Ia merasa ada yang salah. Ia bertanya-tanya mengapa anak-anaknya tidak suka ia mengatakan “insya Allah”.


<more>


Di tempat yang berbeda, seorang ibu memanggil anak-anaknya, “Anak-anak, mari kita berangkat sekarang!” Anak-anak yang sudah siap dengan pakaian pergi tersebut tidak beranjak dari tempat duduknya masing-masing, mereka terus asyik memainkan mainannya.


”Anak-anak, ibu bilang kita pergi sekarang!” ulang si ibu dengan suara lebih keras.


”Iya Bu, sebentar!” ujar si anak sambil tetap memainkan mainannya. Si ibu tentu saja kesal karena merasa anak-anak tidak mengindahkan kata-katanya.


Dua kisah di atas adalah contoh dari betapa pentingnya kita memperhatikan makna setiap kata yang kita ucapkan. Anak-anak membangun makna sebuah kata dari aktivitas dan interaksi dengan orang di sekitarnya, terutama orangtua yang menjadi pengajar utama di awal kehidupannya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA