Minggu, H / 29 Januari 2023

Bersyukur dalam Berdoa

Senin 03 Dec 2018 14:00 WIB

Author :M. Nurroziqi

Syukur dalam berdoa

Foto: google image

ESQNews.id - "Ya Allah, berilah aku ilham untuk dapat memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas beragam kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku. Dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan."

(Doa yang senantiasa dibaca Abu Qilabah. Ia seorang yang penuh kekurangan, fakir, cacat, hidup sebatangkara)

 

Doa itu tidak sekadar senjata. Hanya difungsikan ketika diri sedang dalam posisi bahaya. Doa juga perisai. Harus senantiasa dikenakan, agar diri menjadi tertamengi dari bahaya apa pun.


Bukan pula sekadar ajang meminta-minta, berdoa itu. Sehingga, hanya ketika berkebutuhan saja doa itu dipanjatkan. Melainkan, berdoa adalah perwujudan dari kemesraan yang intim antara hamba dengan Allah Swt. Yang di dalamnya terkandung rasa syukur yang mendalam.


Sehingga, yang terpenting tidak semata soal dikabulkannya permintaan atau tidak, terbebasnya diri dari bahaya ataukah tidak. Melainkan, senantiasa tersambungnya diri seorang hamba dalam jalinan hubungan yang mesra dengan Allah Swt.


Dengan demikian, sebahaya apa pun kesulitan mengancam, tidak sedikit pun menjadikan hati takut dan sedih. Sebab, semua hal telah terkalahkan oleh kenikmatan yang tiada habis-habisnya dalam semakin dekatnya antara hamba dengan Allah Swt.


Sehingga, tidak jarang, seorang yang telah sampai pada titik ini, keluhan atas berbagai keadaan tidak akan pernah ada. Sebab, sepanjang hidupnya hanya kerendahan hati senantiasa mensyukuri. "Nyatu" atau berucap tentang keburukan pun tidak pernah. Karena, seluruh dirinya telah terpahamkan bahwa apa pun yang ada adalah diadakan oleh Yang Maha Ada, yang kini didekati dalam simpuh penghambaan yang pasrah total.


Kemudian, untuk sampai tahap syukur penuh cinta ini bagaimana?

Tentu, pernah di antara kita ada yang menghadiahkan sesuatu kepada orang lain. Kebahagiaan memberi hadiah ini, jelas terletak pada seberapa bahagia seseorang yang diberi hadiah. Ketika misalnya yang diberikan hadiah menerima dengan riang gembira. Tidak semata berucap terimakasih, tetapi apa yang menjadi hadiahnya itu dimanfaatkan betul sebagaimana mestinya. Tidak sekadar memandang hadiah sebagai benda, tetapi menghargai pemberinya. Tidak sampai di situ, di setiap kesempatan, penerima hadiah selalu menyebut-nyebut hadiah tersebut sebagai kebaikan yang luar biasa.


Jika yang diberi hadiah sedemikian itu sikapnya, bagaimana perasaan orang yang memberi hadiah? Sebaliknya, jika baru saja dikasih, merasa kurang, masih meminta ini dan itu. Atau, atas hadiah itu merasa tidak sreg, tidak cocok. Jangankan berterimakasih, menerima dengan senang hati pun tidak. Lantas, bagaimana perasaan yang memberi?


Itu, hanya analogi kecil yang kerap terjadi di masing-masing pergaulan dunia. Lantas, bagaimana sikap kita atas seluruh hadiah yang telah dianugerahkan Allah Swt kepada kita? Yang seringkali, belum meminta pun sudah dianugerahkan. Malahan, sama sekali belum terbersit di hati dan pikiran, Allah Swt sudah mempersiapkan semuanya untuk kebaikan hidup kita. Kesadaran inilah, yang seharusnya menjadi pondasi rasa syukur yang di hati.


Di dalam syukur, terdapat ketentraman hati yang luar biasa. Sebab, ini selalu terkait dengan rasa puas atas setiap anugerah-Nya. Senantiasa merasa cocok dengan seluruh takdir yang menjadi perkenan-Nya. Tetapi, di sebagian hati, ada juga terkotori rasa syukurnya dengan keserakahan. Sehingga, yang terjadi adalah ketidakcocokan hidup. Puncaknya, semakin hari, hidup semakin tidak bisa sampai pada ketentraman dan ketenangan diri. Setiap hari, diri diributkan dengan bermacam keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Sudah dapat sejuta, misalnya, buru-buru angannya diterbangkan tentang ambisi kapan dapat semilyar. Sudah punya satu, masih sering membayangkan betapa enaknya punya dua. Sudah sehat bugar, bisa lari-lari, masih saja panjang angannya, mungkin nikmat sekali jika bisa naik kendaraan paling modern. Dan seterusnya. Dan seterusnya.


Yang menjadikan diri semakin tidak tenang, adalah ketidaksanggupan diri menikmati penuh syukur apa yang sudah dianugerahkan Allah Swt. Yang menjadikan diri semakin tersiksa, adalah ketidakpandaian diri untuk senantiasa cocok dengan apa yang sudah digariskan-Nya. Dan yang semakin menjadikan diri lupa terhadap Allah Swt adalah panjang angan, terlalu banyak keinginan. Sehingga, ketika bersujud kepada-Nya pun, yang disebut-sebut hanya segala kebutuhan yang menjadi keinginan nafsunya. Bahkan, ketika berdoa pun, lebih sering "memaksa", lebih banyak menyebut apa yang diinginkannya, dibandingkan berterimakasih atas semua yang telah dianugerahkan-Nya.


Dengan demikian, berdoa, sejatinya adalah sarana bersyukur yang luar biasa. Sekaligus, membangun kedekatan yang intim antara hamba dengan Allah Swt. Jika sudah sangat mesra hubungan ini, segala apa yang ada di dunia, yang menjadi anugerah-Nya akan semakin ternikmati dengan sangat bahagia. Hidup pun, semakin dipenuhi rasa cinta kepada Allah Swt.


*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.


Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di redaksi@esq165.co.id


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA