ESQNews.id, JAKARTA - Semangat jiwa muda dan kreativitas tanpa batas kembali mengguncang ibu kota. Universitas Ary Ginanjar (UAG University) dan ESQ Business School angkatan 11 sukses menggelar event bisnis tahunan bergengsi, Pasar Lokal 2026, pada Minggu (18/01/2026).
Bertempat di Melting Pop, M Bloc Space, acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB ini menjadi magnet bagi para pecinta creative vibes dan pendukung bisnis lokal.

Mengusung tema besar "The Market Within: Where Youth Business Reflects Tomorrow" dengan slogan inspiratif "Ngabar: Reflect the Best Version of You," Pasar Lokal 2026 bukan sekadar bazar biasa.
Ini adalah ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri, berbagi inspirasi, dan menemukan versi terbaik mereka melalui karya-karya autentik.
Kemeriahan yang Komplet

Sepanjang hari, pengunjung dimanjakan dengan berbagai aktivitas menarik: Pop Up Market & Art Exhibition (Menampilkan karya terbaik mahasiswa), Flower Arrangement Workshop (Ruang kreasi bagi pecinta estetika), Live Music & DJ San (Menambah suasana chill di jantung M Bloc).
Lalu ada sesi Talkshow oleh Jihan Amirah (Founder In Our Twenties) serta Rinaldi Nur Ibrahim (Founder Youth Ranger Indonesia & Owner youtzmedia, wizpen.io, Youthranger.id). Spesialnya adalah ada Live Business Pitching (Mahasiswa mempresentasikan ide bisnisnya di depan juri profesional untuk mendapatkan feedback objektif).
Acara yang bersifat Free Entry ini terselenggara berkat dukungan penuh dari PT Arga Bangun Bangsa, ESQ Tours Travel, Fresh Manggoes, Art Umi Creative, Rolling Chicken, MBK, Steezy, Nutrifarm Geneuine, Enagic serta dukungan dari Pandu Karier.

Aksi Nyata Inkubator Bisnis dan Ujian Akhir Semester
Pasar Lokal 2026 merupakan wujud nyata dari mata kuliah Business Development (untuk Ujian Akhir Semester) sekaligus bagian dari Program Inkubator Bisnis. Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi terjun langsung mempraktikkan proses inovasi bisnis dengan keterampilan dan sikap kerja (attitude) yang tepat.

Ary Ginanjar Agustian (Founder UAG University/ESQ Corp) katakan, "Hari ini, mahasiswa ESQ Business School dan UAG University turun langsung ke M Bloc Space. Mereka tidak mengerjakan soal. Mereka menciptakan nilai. Mereka tidak hanya presentasi.
Mereka membuka booth, menawarkan produk, dan berhadapan langsung dengan pelanggan dalam acara Pasar Lokal Muda.
Inilah cara belajar yang sesungguhnya. Menerapkan konsep SKID (Spiritualitas, Kreativitas, Intelektualitas, Dampak).
Ketika Spiritualitas menjadi fondasi nilai, Kreativitas melahirkan ide, Intelektualitas menyusun strategi, dan semua itu harus berujung pada satu hal: Dampak.
Karena entrepreneur sejati tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari keberanian mencoba, jatuh, belajar, lalu bangkit. Dan hari ini, kita sedang menyaksikan proses itu dimulai," paparnya.

Ketua Pelaksana Pasar Lokal 2026, Muhammad Farid Rasyiduddin, melangkah menuju panggung dengan pancaran semangat yang menular. Setelah menyapa jajaran dewan juri, rekan-rekan mahasiswa, serta Mariah selaku dosen pembimbing bisnis di ESQ Business School (EBS), Farid menyampaikan pesan mendalam mengenai fondasi dari acara besar ini.
Ia menegaskan bahwa Pasar Lokal bukanlah sekadar tugas kuliah atau ajang mencari keuntungan semata.
"Semoga melalui acara ini, lahir pebisnis-pebisnis muda yang tangguh di masa depan. Di EBS dan UAG, kita tidak hanya belajar cara berbisnis, tetapi kita menanamkan Five Values yang menjadi kompas dalam setiap langkah kita," ujar Farid dengan tegas.

Dalam orasinya, Farid mengajak seluruh peserta kembali menghayati lima nilai inti yang menjadi ruh dari Pasar Lokal 2026, yaitu Integrity, Passion, Creativity, Loyalty-Humility, and Professionalism.
Menurutnya, perpaduan kelima nilai inilah yang mampu mengubah sebuah ide sederhana menjadi eksekusi bisnis yang berdampak nyata seperti yang terlihat di M Bloc Space hari itu.
Menutup sambutannya, Farid menyampaikan harapan tulus bagi para entrepreneur muda yang sedang berjuang di booth mereka masing-masing.
"Semoga acara ini berjalan lancar hingga akhir, dan bisnis teman-teman semua mendapatkan hasil yang memuaskan serta omzet yang melejit," pungkasnya yang langsung disambut seruan dukungan dari seluruh peserta.

Kehangatan acara semakin terasa saat Mariah, selaku dosen pengampu mata kuliah bisnis sekaligus mentor di Program Inkubator Bisnis, naik ke atas panggung. Dengan energi yang meluap, ia menyapa seluruh hadirin dengan seruan khas yang membakar semangat.
"Semangat pagi!" teriak Mariah, yang langsung dijawab dengan gemuruh "Pagi! Pagi! Pagi!" oleh para mahasiswa.
Di tengah cuaca Jakarta yang cukup ekstrem belakangan ini, Mariah menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada jajaran dewan juri profesional yang telah meluangkan waktu untuk mengkurasi bisnis para mahasiswa.
Satu per satu juri diperkenalkan ke hadapan publik. Para juri tersebut antara lain adalah Iim Rusyamsi (CEO OK OCE), Wahyu Hidayah (Founder & CEO Malaika Group), Fatta Hermana (Owner Urban Wagyu), dan Rafi Pangestu (Alumni ESQ Business School, Creative Manager of HMNS).
"Masya Allah, terima kasih kepada para dewan juri yang telah berkenan hadir untuk menilai karya-karya luar biasa dari mahasiswa angkatan ini," tuturnya.
Di hadapan para mahasiswa yang hadir dari berbagai angkatan, Mariah mengungkapkan rasa bangganya terhadap progres signifikan Pasar Lokal tahun ini.
Ia memuji kerja keras panitia yang berhasil meningkatkan skala acara hingga berkali-kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Perjuangan kalian untuk memberikan karya terbaik sangat luar biasa. Hari ini, kalian membuktikan sanggup membuat event yang jauh lebih besar dan berdampak.
Ini adalah standar baru bagi angkatan-angkatan selanjutnya untuk terus berinovasi lebih keren lagi," pungkas Mariah yang disambut applause meriah dari seluruh penjuru Melting Pop.
Keaslian ide mahasiswa terlihat dari deretan brand unik seperti Kind of Things, Rooliaglow, Ava Design, Purvo Parfume, Seraphine Hijab, Joy Studio, Nusantara Leathercraft, Teman Rasa Kamu, Aruma Essence, Peseona, Steezy n Steezy, Scoobycha, Gede Kopi, Halwa'we, But & Bites, Saladeena, Mochi Moe Moe, Dimsay, Los Rendacos, Taco Ours, hingga Rolling Chicken.
Penilaian Para Dewan Juri

Untuk mendapatkan feedback, bisnis para mahasiswa tersebut dinilai oleh para juri. Juri berkeliling dari 1 booth ke booth yang lain. Juri lakukan interaksi dengan mahasiswa dan berkesempatan mencicipi belasan bisnis itu. Tentu, di akhir para juri membubuhkan nilai, dengan penilaiannya yang harus objektif.
Iim Rusyamsi (CEO OK OCE) sekaligus tokoh media, menyampaikan kekagumannya terhadap kualitas bisnis yang dipamerkan dalam Pasar Lokal 2026.
Dalam pandangannya, mahasiswa Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School telah melangkah lebih jauh dari sekadar berdagang; mereka telah memahami esensi dari bisnis masa depan.
"Saya melihat inovasi dan kreativitas yang luar biasa. Namun yang paling membanggakan adalah kesadaran mereka terhadap aspek 'hijau' atau keberlanjutan.
Mahasiswa sudah memahami konsep ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata serta pemberdayaan masyarakat," ujar Iim dengan nada apresiatif.
Ia mencatat bahwa para pengusaha muda ini tidak lagi hanya fokus pada keuntungan pribadi, melainkan sudah mampu menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam rantai bisnis mahasiswa ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai integritas telah diimplementasikan dengan baik.
Iim juga menyoroti keunggulan kurikulum di ESQ Business School yang berhasil mengubah mindset mahasiswa sejak dini. Ia sangat mendukung pola pendidikan yang mendorong mahasiswa membangun perusahaan sejak semester 5.
"Harapannya, saat mereka lulus nanti, mereka tidak lagi mencari kerja, tetapi justru membuka lapangan kerja bagi orang lain melalui bisnis yang sudah mereka rintis sejak bangku kuliah. Peluang usaha ini harus terus dijalankan agar memberikan manfaat yang lebih luas," tambahnya.
Dalam kesempatannya juga, Fatta, seorang profesional senior di perusahaan energi swasta nasional yang juga aktif di berbagai lini bisnis, berbagi pandangannya mengenai urgensi kolaborasi dalam dunia kewirausahaan.
Baginya, menjadi juri di Pasar Lokal 2026 merupakan kesempatan menarik untuk melihat sejauh mana kreativitas mahasiswa mampu menjawab tantangan industri.
"Pasar Lokal adalah jembatan penting yang menghubungkan dunia akademik dengan realita industri. Di sini, para mahasiswa bisa mendapatkan feedback langsung mengenai seluk-beluk dunia kerja, tips sukses, hingga kesalahan apa saja yang harus dihindari saat terjun ke bidang swasta," ujar Fatta.
Ia mengaku terkesan dengan ide-ide bisnis yang dipresentasikan, mulai dari konsep penyimpanan objek hingga upaya menciptakan link and match di pasar.
Namun, Fatta menekankan bahwa ide cemerlang saja tidak cukup. Diperlukan pengemasan yang tepat dan sinergi yang kuat antara Universitas Ary Ginanjar dengan para profesional untuk membawa ide tersebut ke skala yang lebih besar.
Fatta mengakhiri narasinya dengan memberikan apresiasi atas keberanian para mahasiswa. Ia menilai bahwa membangun bisnis bukan sekadar soal tampil biasa-biasa saja, melainkan tentang bagaimana berani tampil berdiri (stand up) dan memastikan setiap rencana bisnis dapat terselesaikan dengan eksekusi yang nyata dan tuntas.
Kemudian, sebagai salah satu dewan juri, Wahyu Hidayah memberikan pandangan yang sangat komprehensif setelah berkeliling menilai booth mahasiswa.
Pengusaha di bidang properti ini menyoroti bahwa bisnis yang sukses tidak hanya lahir dari ide yang unik, tetapi dari nilai (value) yang kuat dan eksekusi yang penuh energi.
"Ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya hari ini. Pertama, saya melihat produk dengan konsep dan packaging yang luar biasa. Namun yang paling penting bukan sekadar bungkusnya, melainkan value dan karakter owner-nya yang sangat energik.
Bisnis seperti inilah yang seharusnya tumbuh dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia ke depan," jelas Wahyu.
Ia juga mengapresiasi teknik pemasaran mahasiswa, seperti pada brand Purvo, yang menurutnya sangat piawai menarik minat pelanggan.
"Teknik marketing mereka sangat berkesan, bahkan saya sampai membeli produknya. Ini membuktikan bahwa bisnis mahasiswa adalah bisnis yang menjanjikan jika ditekuni dengan sungguh-sungguh," tambahnya.
Kemudian Wahyu memberikan pesan kuat bagi para mahasiswa agar tidak menjadikan Pasar Lokal sebagai sekadar tugas mata kuliah. Ia mengingatkan bahwa potensi luar biasa yang dimiliki anak muda jangan sampai sia-sia hanya karena mentalitas yang biasa-biasa saja.
"Tidak usah memikirkan latar belakang kita apa. Bisnis itu harus diperjuangkan, bukan cuma dibicarakan. Generasi manapun, dalam kondisi apapun, tantangan itu nyata. Jika kalian punya potensi luar biasa, tunjukkan! Jangan jadi pribadi yang biasa-biasa saja. Indonesia Emas sangat mungkin dicapai jika kalian bekerja keras, berjuang keras, dan menjaga integritas," pungkasnya dengan penuh semangat.
Melengkapi perspektif para juri, Rafi Pangestu turut berbagi pandangan mendalam mengenai apa yang ia saksikan di sepanjang area bazar.
Bagi Rafi, potensi bisnis yang dipamerkan oleh mahasiswa Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School tidak hanya terlihat dari produk fisiknya yang beragam, tetapi lebih kepada kualitas kepemimpinan para pendirinya.
"Secara bisnis, produk-produk yang ditawarkan sangat potensial dan kreatif. Saya melihat ada tas rajut yang unik, kerajinan kulit (leathercraft) yang dipadukan dengan batik, parfum, hingga berbagai lini fashion lainnya.
Namun, yang paling membuat saya terkesan adalah bagaimana para leader dan founder muda ini memiliki visi serta mimpi yang besar untuk mengembangkan bisnis mereka," ujar Rafi.
Ia menambahkan bahwa di usia yang masih sangat muda, para mahasiswa ini memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin masa depan. Namun, ia mengingatkan bahwa membangun bisnis adalah perjalanan panjang yang membutuhkan ketangguhan mental.
"Menjadi pebisnis atau pemimpin itu menantang karena kita harus memikirkan misi jangka panjang. Di sinilah keberanian, kesabaran, dan mimpi yang berdampak bagi banyak orang menjadi kunci utama. Kita dilatih bukan hanya untuk bermimpi tinggi, tapi bagaimana mimpi itu bisa memberikan manfaat nyata," lanjutnya.
Rafi juga menyoroti pentingnya kapasitas diri dalam memimpin tim dan diri sendiri, terutama di era digital yang penuh dengan tantangan. Menurutnya, fondasi terpenting bagi generasi muda saat ini adalah self-awareness.
"Di era digital di mana tantangan begitu dinamis, mengetahui siapa diri kita sebenarnya adalah hal yang paling krusial.
Dengan kapasitas diri yang matang dan kemampuan membangun tim yang baik, saya yakin mahasiswa di sini mampu menghadapi tantangan zaman dan menjadi versi terbaik dari diri mereka," pungkas Rafi dengan penuh apresiasi.
Talkshow Inspiratif
Pasar Lokal 2026 juga menghadirkan sesi talkshow yang mendalam. Jihan Amirah (Founder In Our Twenties) membawa sesi "Reflect: Becoming The Best Version of You," mengajak pengunjung berhenti sejenak untuk bertanya pada diri sendiri: "Who am I becoming, and why?"

Kehadiran Jihan Amirah sebagai pengisi talkshow memberikan dimensi reflektif bagi para pengunjung dan peserta Pasar Lokal 2026. Setelah berkeliling melihat berbagai inovasi yang dipamerkan, Jihan mengungkapkan kekagumannya terhadap ide-ide kreatif mahasiswa yang ia nilai sangat inovatif.
Baginya, kegiatan seperti ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan fase krusial di usia 20-an, yaitu proses mengenali diri sendiri (self-discovery).
"Mengenali diri bukan hanya sekadar tahu apa yang kita suka secara umum, tetapi juga tentang menemukan apa yang benar-benar ingin kita kerjakan.
Melalui proyek passion atau membangun bisnis seperti ini, teman-teman mahasiswa sebenarnya sedang belajar mengenali kapasitas mereka: apa yang mereka sukai untuk dipelajari dan bisnis model seperti apa yang membuat mereka bersemangat," jelas Jihan.
Tak hanya soal pengembangan diri secara internal, Jihan juga menekankan bahwa terjun langsung ke pasar lokal seperti ini adalah sarana latihan soft skill yang luar biasa, terutama dalam hal komunikasi.
Berhadapan langsung dengan berbagai karakter pelanggan—termasuk mereka yang mungkin sulit dihadapi atau memiliki gaya komunikasi yang berbeda—menuntut mahasiswa untuk terus belajar menyampaikan pesan produk mereka dengan cara yang paling menarik dan efektif.
"Wadah ini melatih kita untuk memahami audiens. Kita jadi belajar cara komunikasi seperti apa yang disukai orang dan bagaimana cara membuat mereka tertarik pada apa yang ingin kita sampaikan. Ini adalah laboratorium nyata untuk mengasah skill komunikasi," tambahnya.
Jihan menyampaikan harapan dan doa agar Pasar Lokal dapat terus berlanjut di masa depan dengan skala yang lebih besar.
"Produk dan bisnis yang ditampilkan di sini sangat bagus. Saya berharap ke depannya event ini bisa menjangkau lebih banyak orang asing (strangers) agar potensi luar biasa dari karya mahasiswa ini mendapatkan eksposur yang lebih luas dan diminati lebih banyak pembeli," pungkasnya.
Tak kalah inspiratif, Rinaldi Nur Ibrahim (Founder Youth Ranger Indonesia) berbagi pengalaman melalui sesi "From Passion to Purpose: Building what feels true (and works IRL)," memberikan tips praktis bagaimana membangun bisnis yang selaras dengan tujuan hidup.
Rinaldi Ibrahim, seorang edukator yang dikenal luas karena dedikasinya pada pengembangan potensi anak muda, menambah bobot inspirasi dalam ajang Pasar Lokal 2026.

Berada di tengah-tengah kreativitas mahasiswa Universitas Ary Ginanjar dan ESQ Business School, Rinaldi mengaku sangat terpukau dengan gairah yang ditunjukkan oleh para tenant yang seluruhnya berasal dari generasi Z.
"Ini sangat keren. UAG University telah membuktikan bahwa universitas ini mampu menjadi wadah bagi anak muda untuk mengaspirasikan mimpi dan mengubah potensi menjadi peluang nyata. Kita melihat bukti bahwa Gen Z bukan hanya konsumen tren, tapi mampu menjadi pencipta gerakan dan dampak (impact)," ujar Rinaldi penuh semangat.
Dalam kesempatan tersebut, Rinaldi membagikan tiga tips krusial bagi siapa pun yang ingin membangun bisnis:
* Perjelas Motivasi: Maksimalkan semangat diri dan pahami alasan kuat (Why) di balik bisnis tersebut.
* Eksekusi (Action): Jangan takut memulai. Kegagalan hanya milik mereka yang tidak pernah melangkah. Dengan memulai, kita akan mendapatkan antara dua hal: keberhasilan atau pelajaran berharga untuk dievaluasi.
* Konsistensi: Banyak yang berhenti saat merasa hasil belum maksimal. Padahal, dampak nyata hanya akan terasa melalui ketekunan yang konsisten.
Rinaldi juga menekankan bahwa gairah (passion) bukan sekadar melakukan apa yang kita suka, melainkan bagaimana kita bisa memberikan nilai nyata bagi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa membangun sebuah tujuan (purpose) tidak selalu melalui jalan yang lurus. Masalah dan keraguan adalah bagian dari proses pembentukan karakter.
"Kuncinya adalah afirmasi positif. Yakinlah pada diri sendiri dan mimpi Anda, selebihnya biarkan Tuhan yang memberikan jalan. Sebagai Gen Z, peran kita sangat besar untuk membentuk masa depan Indonesia menuju 2045. Di tangan kitalah tongkat estafet Indonesia Emas berada," tambahnya.
Mengambil pelajaran dari perjalanan kariernya sendiri dalam membangun berbagai gerakan seperti Indonesia Youth Foundation hingga platform edukasi lainnya, Rinaldi menegaskan bahwa segala sesuatu ada strateginya.
"Orang mungkin ragu dan berpikir kita tidak bisa mengerjakan banyak hal besar sekaligus. Namun, jika kita memiliki keyakinan dan strategi yang tepat, setiap hambatan justru akan membuat kita semakin kuat. Jadikan setiap tantangan sebagai skenario untuk naik kelas," tutupnya.
Bisnis Para Mahasiswa
Antusiasme pasar lokal juga dirasakan oleh para mahasiswa itu sendiri. Mereka ungkapkan insight yang positif dan menaruh harapan ke depan agar lebih amazing dan bermanfaat lagi.
Sebagai kampus bisnis, ESQ Business School dan UAG University selalu mengadakan event bisnis tahunan Pasar Lokal. Pasar Lokal itu bukan sekadar bazar. Ini tempat ide mahasiswa jadi karya, bisnis kecil dapat exposure baru, dan brand bisa hadir sebagai bagian dari perjalanan mereka. A space where young entrepreneurship grows.
Scoobycha (@scooby.cha)
Dinamika membangun bisnis kelompok juga menjadi cerita menarik di balik kesuksesan Scoobycha (@scooby.cha). Melani bersama lima rekan mahasiswi lainnya menghadirkan minuman sehat dari teh fermentasi dengan bibit Scooby (Kombucha).

Produk ini lahir bukan sekadar untuk memenuhi tugas mata kuliah Business Development, tetapi berangkat dari sebuah Grand Why untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, terutama bagi generasi Z yang sangat bergantung pada kopi setiap harinya.
"Kami ingin menjadi 'teman tumbuh' bagi mereka agar lebih peduli pada kesehatan melalui minuman fermentasi ini. Membangun bisnis ini tentu tidak mudah. Kami adalah tim yang terdiri dari enam perempuan, dan bisa dibayangkan bagaimana besarnya tantangan mengelola dinamika emosi serta perbedaan pendapat di dalamnya," ungkap Melani jujur.
Namun, Melani menekankan bahwa mereka berhasil survive dan bahkan sudah menjual ratusan unit produk berkat bekal ilmu karakter yang didapatkan di Universitas Ary Ginanjar.

Salah satu kunci keberhasilan tim Scoobycha dalam menjaga kekompakan adalah pemanfaatan life tools TalentDNA.
"Selain belajar bisnis, kami dibekali mata kuliah karakter dan pemetaan TalentDNA. Ini sangat membantu kami menghindari miskomunikasi. Kami jadi mengerti potensi serta cara kerja masing-masing partner bisnis. Alhasil, jika ada masalah, kami mencari jalan keluar bersama karena kami saling melengkapi satu sama lain," tambahnya.
Purvo (@purvoparfume)
Inovasi bisnis yang dihadirkan mahasiswa dalam Pasar Lokal 2026 tidak berhenti pada aspek fisik produk, tetapi juga menyentuh sisi psikologis pelanggan.
Hal ini dibuktikan oleh Syakira (Acel) melalui brand parfumnya, Purvo (@purvoparfume). Berbeda dengan produk wewangian pada umumnya, Purvo hadir dengan konsep storytelling yang sangat emosional pada setiap variannya.

"Purvo bukan sekadar menjual parfum. Kami menjual cerita dan rasa. Jika di media sosial kami membangun narasi lewat tulisan dan video, di Pasar Lokal ini kami membawa pengalaman emosional tersebut ke dunia nyata," jelas Syakira.
Ia menyertakan kartu pesan khusus di setiap kotak parfum sebagai jembatan komunikasi antara produk dan perasaan penggunanya.

Salah satu fitur paling unik di booth Purvo adalah adanya "Ruang Jeda". Syakira menciptakan instalasi kecil di mana pengunjung diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar.
Di dalam ruang ini, pengunjung dapat mencium aroma parfum pilihan mereka sambil mengenakan headphone yang memutar audio refleksi diri di depan cermin.
"Ruang Jeda adalah ajakan untuk mendengarkan hati sendiri. Kita sering terlalu sibuk melihat eksternal hingga lupa bertanya pada diri sendiri.
Di sini, saya ingin menyampaikan bahwa tidak apa-apa untuk merasa lelah atau berhenti sejenak. Menjadi lemah sesekali bukan berarti kalah, tetapi cara kita untuk mengumpulkan semangat kembali," ungkapnya dengan penuh empati.

Konsep bisnis yang sangat personal ini ternyata berakar dari perjalanan transformasi diri Syakira selama menempuh pendidikan di Universitas Ary Ginanjar.
Ia mengaku terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat berdamai dengan masa lalu melalui metode hipnoterapi serta training pengembangan diri yang ia dapatkan di kampus.
"Saya merasa sangat terbantu dengan nilai-nilai yang diajarkan di ESQ, dan saya rasa banyak orang di luar sana memiliki pergumulan yang sama.
Melalui bisnis parfum ini, saya ingin menyebarkan energi positif dan rasa damai yang saya rasakan kepada lebih banyak orang," tutup Syakira.
Ava Design (avadesign.id)
Sektor jasa kreatif turut unjuk gigi melalui Ava Design (avadesign.id), sebuah studio kreatif yang digawangi oleh kolaborasi apik antara Najwa Sabila dan Haris. Ava Design bukan sekadar bisnis desain biasa; mereka memposisikan diri sebagai mitra strategis bagi para pemilik brand untuk membangun identitas visual yang kuat dan berkarakter.

"Kami menyediakan jasa brand identity dan desain logo yang komprehensif. Salah satu keunggulan kami adalah kecepatan dan kualitas; portofolio visual yang kami tampilkan hari ini bahkan ada yang kami kerjakan hanya dalam waktu dua minggu dengan hasil yang sangat profesional," ungkap Najwa saat memamerkan deretan botol produk dan logo yang telah mereka tangani.
Ava Design beroperasi dengan lima nilai inti: Integrity, Professionalism, Creativity, Adaptive, dan Service Excellence. Haris menekankan bahwa nilai service excellence menjadi kunci karena mereka tidak hanya memberikan desain lalu selesai.
Mereka berkomitmen menuntun klien agar setiap elemen visual, mulai dari bentuk kemasan hingga skema warna, tetap selaras dengan identitas brand yang dibangun sejak awal.
"Kami ingin memudahkan owner bisnis. Istilahnya, klien cukup di rumah dan menyiapkan isinya saja, urusan tampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki biar kami yang buatkan," tambah Haris.
Layanan mereka pun sangat luas, mencakup UX design, web development, hingga social media specialist.
Pengalaman tim Ava Design ternyata sangat matang. Haris mengungkapkan bahwa dirinya telah merintis karier sebagai desainer freelance sejak SMP pada tahun 2017.
Jam terbang yang tinggi ini membuatnya terbiasa menangani berbagai macam karakter klien, mulai dari generasi Baby Boomers hingga Milenial dengan permintaan yang sangat spesifik.
"Kunci kami adalah desain yang mengikuti kemauan owner, bukan ego kami sebagai desainer. Kami memastikan desain tersebut tetap eye-catching dan profesional sesuai kebutuhan pasar mereka," tegas Haris.
Kapasitas Ava Design pun telah diakui secara internasional. Mereka tidak hanya menangani klien lokal, tetapi juga telah melayani permintaan dari berbagai negara seperti Kanada hingga Arab Saudi.
Pengalaman lintas negara ini membuat mereka sangat adaptif terhadap berbagai gaya desain global, menjadikannya salah satu tenant jasa paling potensial yang lahir dari rahim inkubator bisnis Universitas Ary Ginanjar.
Rooliaglow (@rooliaglow.id)
Di tengah keriuhan bazar, Aulia, mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis semester 5 UAG, tampak antusias memperkenalkan brand miliknya, Rooliaglow (@rooliaglow.id). Bisnis body lotion yang ia rintis ini lahir dari sebuah solusi atas permasalahan pribadi yang sering dialami banyak orang: kebutuhan akan perawatan kulit yang praktis namun efektif.

"Rooliaglow hadir karena saya ingin punya body lotion yang 4-in-1. Tidak hanya melembapkan (moisturize), tapi juga memberikan hidrasi, mencerahkan (brightening), sekaligus memiliki perlindungan UV (UV protection).
Jadi, dalam satu produk sudah mencakup semua kebutuhan kulit agar tetap sehat dan glowing," jelas Aulia saat menyapa para pengunjung di booth-nya.
Produk yang sudah mulai dikenal di kalangan mahasiswa UAG ini juga telah merambah pasar digital melalui Shopee dan media sosial. Namun, Aulia menekankan bahwa Rooliaglow tidak berhenti pada satu produk saja. Sebagai pebisnis muda yang dididik untuk selalu inovatif, ia mengungkapkan bahwa saat ini timnya sedang dalam tahap riset dan pengembangan (R&D) untuk produk kedua mereka.
"Kami terus berinovasi. Saat ini kami sedang menyiapkan produk body scrub dengan tekstur yang sangat halus sehingga aman dan tidak melukai kulit. Produk ini dirancang khusus untuk mereka yang ingin mendapatkan hasil maksimal saat mandi atau sebelum mandi," tambah Aulia penuh semangat.
Kehadiran Rooliaglow di Pasar Lokal 2026 menjadi bukti nyata bagaimana mahasiswa semester 5 sudah mampu mengelola bisnis secara profesional, mulai dari penemuan ide, pengembangan produk, hingga strategi pemasaran digital yang matang.
Halwa'WE (@halwa.we)
Sisi emosional dan spiritual dari sebuah bisnis tercermin nyata di booth Halwa'WE (@halwa.we). Sang pendiri, Meli Saidah, mahasiswi ESQ Business School, berbagi kisah inspiratif di balik lahirnya brand tersebut.

Bagi Meli, Halwa'WE bukan sekadar usaha kuliner biasa, melainkan sebuah gerakan untuk memperdayakan para muslimah.
"Halwa'WE lahir dari pengalaman pribadi saya sebagai seorang muslimah. Saya ingin menciptakan ruang bagi para muslimah agar bisa tetap bertumbuh dan memiliki penghasilan, meskipun dari rumah.
Itulah mengapa Halwa'WE memiliki nilai sosial yang besar melalui program baking class khusus muslimah," ungkap Meli dengan penuh ketulusan.

Meli menjelaskan bahwa bisnis yang ia bangun berlandaskan pada konsep Grand Why dan nilai-nilai spiritual yang ia dapatkan selama menimba ilmu di Universitas Ary Ginanjar.
Baginya, kesuksesan bukan hanya soal angka, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada muslimah di luar sana yang membutuhkan dukungan untuk mandiri secara ekonomi dan spiritual.
Perjuangan Meli dalam menyiapkan Pasar Lokal 2026 ini pun tidak main-main. Sebagai proyek akhir semester (UAS), ia mengaku sempat merasa sangat gugup hingga kesulitan tidur dan makan selama satu minggu masa persiapan. Namun, segala lelahnya terbayar tuntas saat karyanya mendapatkan apresiasi dari dewan juri.
"Alhamdulillah, hasilnya sangat memuaskan. Saya merasa sangat terhormat dinilai langsung oleh Bapak Iim, Ketua Umum OK OCE, yang merupakan tokoh UMKM terbesar di Indonesia. Beliau memberikan banyak penilaian positif serta masukan luar biasa agar Halwa'WE bisa tumbuh lebih besar lagi," tuturnya haru.
Melalui keberhasilan di Pasar Lokal 2026, Meli optimis bahwa brand-nya akan terus berkembang. Ia sangat bersyukur atas kurikulum di UAG yang telah membimbingnya menciptakan bisnis yang tidak hanya luar biasa secara kualitas, tetapi juga insyaAllah membawa manfaat luas bagi masyarakat, khususnya kaum muslimah.
Saladeena (@saladeena.id)
Di antara deretan inovasi mahasiswa, booth Saladeena (@saladeena.id) menarik perhatian dengan konsep kuliner sehat yang sarat akan kepedulian sosial.
Sang owner, Awliya Alashari, menjelaskan bahwa Saladeena bukan sekadar salad buah biasa. Produk ini lahir dari sebuah keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya risiko penyakit diabetes di kalangan generasi muda (Gen Z dan Gen X).

"Kami menghadirkan salad buah tanpa gula rafinasi. Saladeena dibangun di atas nilai kejujuran dan manfaat, agar pelanggan bisa menikmati camilan segar tanpa harus khawatir dengan risiko kesehatan. Kami ingin berkontribusi mencegah diabetes sejak dini," ungkap Awliya penuh semangat.
Tak hanya soal kesehatan, Saladeena juga mengusung misi pemberdayaan ekonomi dengan menggandeng petani lokal di daerah Tangerang sebagai pemasok utama buah-buahan mereka.
Dengan sistem pre-order untuk menjaga kualitas tetap segar (fresh-made), Awliya membuktikan bahwa bisnis mahasiswa mampu mendukung perputaran ekonomi daerah.
Perjalanan Saladeena sendiri merupakan kisah ketekunan yang luar biasa. Awliya telah merintis bisnis ini sejak masa SMA, namun ia mengaku bahwa kemampuannya berkembang pesat setelah menempuh pendidikan di UAG, khususnya melalui mata kuliah Business Development yang dibimbing oleh dosennya, Mariah.
"Mata kuliah ini sangat membantu saya memahami bagaimana cara mengembangkan bisnis agar tetap sustain, menyusun strategi yang tepat, hingga mengelola keuangan agar tidak stagnan. Di sini kami diajarkan dari visi hingga eksekusi," tambahnya.
Menanggapi fenomena generasinya yang sering dianggap mudah menyerah atau moody-an Awliya memberikan pesan kuat tentang pentingnya memiliki Grand Why—sebuah konsep inti yang diajarkan oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian.
"Sebagai Gen Z, kunci agar tidak mudah malas adalah memiliki Grand Why (alasan) yang kuat. Pak Ary selalu mengajarkan bahwa alasan kita berbisnis harus kembali ke suara hati.
Jika fondasinya kuat, tidak ada alasan untuk menunda-nunda. Kita punya masa depan dan target yang harus dicapai.
Bagi teman-teman yang ingin menemukan Grand Why dan fondasi hidup, UAG dan training ESQ adalah tempatnya," pungkas Awliya yang sukses mendapatkan feedback positif dari para juri di Pasar Lokal 2026.




