ESQNews.id, JAKARTA – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) tengah melakukan langkah besar untuk memperkokoh jati diri organisasinya. Di tengah dinamika perubahan struktur besar di tingkat nasional, SIG menggandeng ACT Consulting International untuk menggelar workshop bertajuk "Redefinisi Budaya: DNA CREATION" yang berlangsung pada 31 Maret – 1 April 2026 di Kantor Pusat SIG, Jakarta.
Sebanyak 47 pemimpin dari Holding maupun Anak Perusahaan (AP) berkumpul untuk merumuskan kembali esensi terdalam perusahaan. Workshop ini dipandu langsung oleh Ir. Rinaldi Agusyana, MBA, Expert in Business and Culture Transformation sekaligus trainer berlisensi dari Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian.
Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menegaskan bahwa langkah redefinisi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga arah organisasi.
"Kita ingin merumuskan SIG DNA, bukan sesuatu yang baru tapi menyempurnakan jati diri kita. Penting karena sebelumnya ada AKHLAK, namun begitu bergabung dengan Danantara, kita seperti kehilangan arah.
Jika 'ruler' (penguasa/pengatur) yang mengontrol kita berubah-ubah, pertanyaannya adalah bagaimana agar nilai-nilai ini tetap kita bawa?" ujar Hadi di hadapan para peserta.
Ia menekankan bahwa DNA perusahaan sejatinya sudah ada, namun perlu diidentifikasi kembali di mana letak kekuatan dan kelemahannya.
"Momen hari ini adalah finalisasi. Kami meminta komitmen agar leaders di sini all out, sehingga apa yang dihasilkan hari ini jadi landasan value dan DNA kita. Yang paling penting dari sekadar nama adalah values-nya nanti," tegasnya.
Dalam paparannya, Rinaldi Agusyana menjelaskan bahwa transformasi organisasi tidak bisa pincang. Dibutuhkan keseimbangan antara Transformasi Bisnis (struktur, strategi, sistem) dan Transformasi Budaya (perilaku, nilai, keyakinan).
Di era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), budaya yang kuat adalah satu-satunya pelindung. Rinaldi membedah bahwa kegagalan organisasi seringkali berakar pada rendahnya employee engagement akibat ketidakjelasan arah.
"Values di dalam organisasi mampu membangun keterikatan secara emosional (heart), bukan sekadar rasional (head). Dengan begitu, karyawan tidak hanya produktif secara mekanis, tapi memiliki sense of belonging dan komitmen berkelanjutan," papar Rinaldi.
Ia juga membagikan formula pilar budaya yang ideal yakni Leadership (40%) : Peran pemimpin sebagai teladan. Lalu, System (35%) : Sejauh mana nilai masuk ke dalam regulasi dan kebijakan. Serta Corporate Values (25%) : Internalisasi nilai inti ke setiap individu.
Hasil dari workshop ini diharapkan mampu memenuhi kriteria Relevance, Clarity, Actionable, Measurable, dan Non-overlapping. Rinaldi menganalogikan DNA organisasi ini ke dalam empat fungsi krusial di antaranya:
Vitamin (Memperkuat daya tahan budaya), Obat (Menyembuhkan kondisi patologis organisasi), Pelumas (Mempermudah proses manajemen dan birokrasi), Katalisator (Mempercepat proses perubahan menuju target).
Langkah ini sejalan dengan visi besar SIG untuk menjadi The First Choice for Sustainable Building Solutions in Southeast Asia. SIG DNA akan menjadi jembatan yang menyelaraskan peran Holding dan Anak Perusahaan agar tetap satu frekuensi.
Antusiasme terpancar dari para peserta yang merasa dilibatkan secara setara dalam proses kreatif ini.
Akhdarisa, salah satu peserta, mengungkapkan bahwa penyusunan DNA ini sangat bermakna bagi penyelarasan visi misi hingga ke level anak perusahaan.
"Selain membangun kembali budaya baru, kita memperoleh insight yang bisa diterapkan di perusahaan masing-masing. Penting untuk men-deliver hal ini ke seluruh lingkungan SIG Group," ungkapnya.
Senada dengan itu, Henny Ristyowati juga menyampaikan rasa puasnya atas kolaborasi yang terjalin selama dua hari workshop.
"Senang banget bisa join. Harapannya ini bisa sering kolaborasi untuk mendapatkan buy-in dari semua AP dan holding, supaya kerja sama kita makin bagus dan menghasilkan output maksimal. ESQ Keren!" pungkasnya.
Dengan tuntasnya Workshop DNA Creation ini, SIG siap melangkah dengan identitas yang lebih tajam, solid, dan adaptif menghadapi tantangan global.