Kamis, H / 30 April 2026

Kereta Cepat Haramain vs Bus: Menghitung Waktu Door to Door Perjalanan Jemaah Haji Umrah

Kamis 12 Mar 2026 21:32 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

Oleh: Muhammad Solihin


ESQNews.id, JAKARTA - Beberapa tahun terakhir, Arab Saudi melakukan transformasi besar dalam infrastruktur transportasi yang melayani jemaah haji dan umrah.


Salah satu proyek paling monumental adalah Haramain High Speed Railway (HHR) atau kereta cepat Haramain yang menghubungkan kota-kota utama di wilayah barat Saudi, yaitu Makkah, Jeddah, Bandara King Abdul Aziz, dan Madinah.


Kereta ini mampu melaju hingga 300 kilometer per jam dan menjadi salah satu kereta tercepat di kawasan Timur Tengah.


Dengan kecepatan tersebut, perjalanan Madinah–Makkah yang berjarak sekitar 450 kilometer dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar dua jam.


Secara sekilas, ini tampak sebagai solusi transportasi yang ideal bagi jemaah haji.


Banyak calon jemaah kemudian beranggapan bahwa perjalanan menggunakan kereta cepat pasti lebih nyaman, lebih cepat, dan lebih efisien dibandingkan menggunakan bus.


Namun dalam praktik operasional penyelenggaraan haji, realitasnya tidak selalu sesederhana itu.


Transportasi dalam perjalanan haji tidak hanya dinilai dari kecepatan kendaraan, tetapi dari keseluruhan waktu perjalanan dari hotel ke hotel serta tingkat kemudahan bagi jemaah, yang mayoritas merupakan kelompok usia lanjut.


Persepsi bahwa kereta cepat selalu lebih baik memang muncul karena waktu perjalanan di rel jauh lebih singkat.


Perjalanan Madinah ke Makkah yang biasanya memakan waktu lima hingga enam jam dengan bus dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam hingga dua jam dua puluh menit dengan kereta cepat.


Selain itu, kereta memiliki perjalanan yang stabil, bebas dari kemacetan jalan raya, dan menawarkan pengalaman transportasi yang modern. Bagi sebagian penumpang, perjalanan dengan kereta memang terasa lebih nyaman.


Namun jika dilihat lebih mendalam, terdapat beberapa aspek operasional yang sering luput dari perhatian.


Sebagai contoh, perjalanan jemaah dari hotel di Madinah menuju hotel di Makkah menggunakan kereta cepat tidak dimulai langsung dari stasiun.


Jemaah terlebih dahulu harus naik bus dari hotel menuju stasiun kereta Madinah yang berjarak sekitar 8 hingga 12 kilometer dari kawasan Masjid Nabawi.


Perjalanan menuju stasiun ini biasanya memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit tergantung kondisi lalu lintas.


Setelah tiba di stasiun, jemaah harus melalui beberapa tahapan seperti pemeriksaan tiket, pemeriksaan keamanan, serta pemeriksaan bagasi menggunakan X-ray, mirip dengan proses di bandara.


Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 20 hingga 30 menit.


Selanjutnya, jemaah harus menunggu di ruang tunggu sebelum waktu keberangkatan. Untuk menghindari keterlambatan, jemaah biasanya diminta hadir lebih awal sehingga waktu menunggu bisa mencapai 30 hingga 45 menit.


Setelah itu, jemaah berjalan menuju peron kereta. Stasiun Haramain memiliki area yang cukup luas sehingga jarak berjalan bisa mencapai 200 hingga 400 meter.


Perjalanan kereta sendiri memakan waktu sekitar dua jam lebih. Namun setelah tiba di stasiun Makkah, perjalanan belum selesai.


Jemaah masih harus berjalan menuju area keluar stasiun dan parkir bus dengan jarak yang bisa mencapai 300 hingga 500 meter.


Jika seluruh tahapan ini dihitung secara keseluruhan, maka perjalanan door to door dari hotel Madinah ke hotel Makkah menggunakan kereta cepat dapat memakan waktu sekitar empat setengah hingga lima jam.


Sebaliknya, jika menggunakan bus, jemaah hanya perlu naik bus di depan hotel di Madinah dan perjalanan langsung menuju Makkah tanpa perlu berpindah moda transportasi.


Memang perjalanan bus biasanya memakan waktu sekitar lima hingga enam jam, namun prosesnya jauh lebih sederhana.


Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah karakteristik jemaah haji Indonesia yang sebagian besar berasal dari kelompok usia lanjut.


Dalam kondisi seperti ini, perjalanan yang terlalu banyak melibatkan naik turun kendaraan dan berjalan kaki jauh dapat menimbulkan kelelahan tambahan.


Karena itu dalam operasional penyelenggaraan haji, pertimbangan utama bukan hanya kecepatan perjalanan tetapi juga kemudahan dan kenyamanan bagi jemaah.


Kereta cepat Haramain adalah simbol kemajuan infrastruktur transportasi yang patut diapresiasi.


Namun penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa transportasi haji tidak hanya soal kecepatan kendaraan, tetapi juga manajemen perjalanan secara keseluruhan.




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA