KISAH
ESQNews.id, JAKARTA - Aku pernah mengira Ramadhan hanya tentang menahan lapar dan haus. Namun tahun ini, aku menemukan sesuatu yang berbeda, potensi dalam diriku yang selama ini tersembunyi.Di awal Ramadhan, aku masih sama. Mudah lelah, sering menunda, dan kadang mengeluh. Namun perlahan, hari demi hari, aku mulai melihat perubahan kecil.Aku belajar bangun lebih awal untuk sahur, meski sebelumnya terasa berat. Aku belajar menahan emosi, meski kadang hati masih ingin marah. Aku belajar menyisihkan waktu untuk berdoa dan merenung, meski di tengah kesibukan.Ternyata, di balik semua itu, ada potensi yang sedang tumbuh.Potensi untuk disiplin. Potensi untuk sabar. Potensi untuk lebih dekat dengan Allah.Aku mulai menyadari bahwa selama ini bukan aku tidak mampu, tetapi aku belum memberi ruang untuk bertumbuh.Di penghujung Ramadhan, aku duduk sendiri dan bertanya, "Apa yang sebenarnya sudah berubah?"Jawabannya sederhana, tetapi bermakna.Aku belum sempurna. Aku masih belajar. Namun aku tidak lagi sama seperti sebelumnya.Dan di situlah aku memahami, bahwa hari kemenangan bukan hanya tentang merayakan akhir Ramadhan, tetapi tentang menemukan potensi terbaik dalam diri selama prosesnya.Setiap dari kita memiliki potensi yang Allah titipkan. Kadang ia tidak langsung terlihat, tetapi muncul melalui proses, melalui kesabaran, dan melalui keikhlasan menjalani setiap ujian.Mari kita jaga apa yang sudah kita mulai di bulan Ramadhan. Kita lanjutkan kebiasaan baik, kita rawat niat, dan kita kembangkan potensi yang telah kita temukan.Karena perjalanan ini tidak berhenti di hari kemenangan, tetapi justru dimulai dari sana.Mari kita bertumbuh bersama, dengan langkah kecil yang konsisten dan hati yang terus diperbaiki.Mari kita bertumbuh bersama, dengan langkah kecil yang konsisten dan hati yang terus diperbaiki."Kesuksesan adalah hasil dari persiapan, kerja keras, dan belajar dari kegagalan."Colin Powell