EDUCATION
ESQNews.id, JAKARTA - Halo..! Mari kita lanjut obrolan kita tentang coaching. Seperti dibahas di bagian awal mengenai coaching yang berasal dari berbagai ilmu, maka ... hingga kini pun masih demikian. Tiap cabang ilmu mempunyai argumen berdasarkan sejarah yang mereka miliki, bahwa... coaching ada di dalam akar ilmu mereka. Emang Masalah? engga juga sih. Tapi bayangin kalau semua coach dari berbagai rumpun itu ketemu kayak kalo jagoan persilatan kumpul. Pas ada yang diminta mendemonstrasikan silat yang mereka kuasai, yang tua-tua pada mangut-manggut. Yang muda? Hmm... mungkin ada yang merasa dia lebih jago dibanding perguruan silat lainnya. Dalam hatinya mungkin, "Kok gitu kuda-kudanya?" atau "Yah, cuma segitu doang!" atau.. "Waaaah... hebat perguruan Bu Tong Pai!"Nah, sama juga dengan coaching, kalo kumpul, pasti masing-masing puya gaya sendiri sesuai ajaran gurunya yang berasal dari guru sebelumnya dan seterusnya. Ada yang kalau coaching itu.. kalo nanya dalaaaam banget… sampai bikin mikir seminggu. Ada yang cepat, to the point, langsung kasih insight. Ada yang banyak diam, menyerap setiap kata yang diucapkan coachee, seakan hidup coachee ini menderita sekali. Tapi, ada juga yang aktif banget ngobrol.Kalau kita lihat dari luar, kadang jadi bingung.“Yang ini terlalu banyak nanya…”“Yang itu kok malah kasih solusi…”“Yang sana kok kayak konseling…”Terus mulai deh… dibanding-bandingkan, dinilai, bahkan… diperdebatkan. Menariknya, Prof. Clutterbuck justru bilang: Kondisi ini memang terjadi. Banyak profesi ikut “masuk” ke dunia coaching. Masing-masing membawa cara pandang sendiri. Masing-masing membawa definisi sendiri. Makanya kalau ketemu kadang bukan diskusi… tapi debat halus. Kalo sudah begitu: Mari kembali ke awal news letter ini dimana coaching tidak berasal dari satu akar ilmu. Artinya apa? Wajar kalau cara pandangnya beda. Wajar kalau gayanya beda. Dan wajar… kalau kadang terasa “tidak sepakat”.Menariknya, Prof. Clutterbuck tidak berhenti di situ.Dia tidak bilang: yang ini benar, yang itu salah. Tapi dia mengajak kita melihatnya dengan cara yang berbeda. Bahwa semua gaya itu… sebenarnya berada dalam satu peta yang sama. Ia menyebutnya sebagai Coaching Style.Mari kita kupas tipis-tipis.............1. Asesor: Ini style yang paling directive. Coach memberi tahu apa yang benar dan bagaimana cara melakukannya. Fokus utamanya ada pada pemberian feedback kepada coachee. Biasanya dipakai ketika: orangnya masih baru, butuh standar yang jelas atau memang lagi butuh koreksi cepat. Bahasa gampangnya: “Saya kasih tahu ya… ini yang perlu kamu perbaiki.”2. Demonstrator: Ini style dimana coach menunjukkan cara dan meminta coachee mengamati lalu mengambil pelajaran. Namun, coach tetap memberikan feedback. Di sini, coach: menunjukkan cara, memberi contoh, lalu coachee belajar dari situ. Masih ada arahan… tapi tidak sebanyak style Asessor. Biasanya dipakai ketika: orang sudah mulai paham, tapi masih butuh contoh nyata. Bahasa gampangnya: “Coba lihat ya, biasanya yang saya lakukan seperti ini…3. Tutor: Coach mendorong coachee untuk bereksperimen dan membangun pemahaman sendiri, tetapi masih memberi saran tentang hal-hal yang perlu diperhatikan. Nah ini mulai geser.Di sini, coach: memberi saran, memberi opsi, tapi tidak memaksakan. Coachee mulai diajak berpikir sendiri, tapi masih “dipandu”. Biasanya dipakai ketika: orang sudah cukup capable, tapi masih butuh insight tambahan. Bahasa gampangnya: “Kalau menurut saya, kamu bisa coba beberapa opsi ini…”4. Stimulator: Ini yang paling Non-Directive. Ini yang banyak dilakukan teman-teman coach jebolan ICF, dan ini yang paling “coaching banget”. Di sini, coach: banyak bertanya, menggali pemikiran, memancing insight. Fokusnya: biar orang menemukan sendiri jawabannya. Biasanya dipakai ketika: orang sudah matang, punya pengalaman, tinggal butuh clarity. Bahasa gampangnya: “Menurut kamu sendiri, sebenarnya yang terjadi apa?” Kalau dilihat dari empat ini… perbedaannya bukan sekadar gaya tapi seberapa besar peran coach vs peran coachee dalam berpikir.Jadi coaching itu bukan soal “harus nanya terus”… tapi soal tahu kapan harus tell, show, suggest… dan ask. Eit, jangan asal ditelan ya, tanyakan coach-mentor Anda, mahzab yang dipakai. Ok?