ESQNews.id, JAKARTA - Ramadhan hampir berakhir. Malam-malam terakhir terasa lebih sunyi, tetapi juga lebih dalam. Saya duduk sendiri setelah tarawih, memandangi langit yang gelap, seolah sedang berbicara tanpa suara.
Di sekeliling, orang-orang mulai sibuk mempersiapkan Idul Fitri. Membeli baju baru, merencanakan mudik, dan menyusun daftar kebahagiaan yang ingin dirayakan.
Namun di dalam hati, saya tahu, tidak semua hal bisa diucapkan.
Ada doa-doa yang hanya tersimpan. Tentang harapan yang belum tercapai. Tentang rindu yang belum terobati. Tentang luka yang masih diam-diam terasa.
Saya mencoba berdoa seperti biasa, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Hingga akhirnya saya hanya terdiam.
Dan di dalam diam itu, saya merasa didengar.
Saya menyadari bahwa tidak semua doa harus terucap. Ada yang cukup disampaikan melalui keheningan, melalui air mata yang jatuh perlahan, melalui hati yang pasrah kepada-Nya.
Malam itu saya tidak meminta banyak. Saya hanya berkata dalam hati, "Ya Allah, Engkau lebih tahu apa yang saya butuhkan."
Anehnya, hati saya menjadi lebih tenang.
Seolah-olah ada keyakinan yang tumbuh, bahwa apa pun yang belum terwujud bukan berarti tidak dikabulkan, tetapi sedang dipersiapkan dengan cara terbaik.
Ramadhan mengajarkan saya satu hal sederhana bahwa hubungan dengan Allah tidak selalu tentang kata, tetapi tentang rasa dan keikhlasan.
Menjelang Idul Fitri, mari kita tidak hanya sibuk dengan persiapan lahiriah, tetapi juga memperbaiki batin kita. Kita belajar untuk jujur pada diri sendiri, menerima apa yang belum tercapai, dan tetap percaya pada rencana-Nya.
Mari kita terus berdoa, bahkan ketika kata-kata tidak mampu mewakili isi hati. Karena Allah tidak pernah gagal memahami doa yang paling tersembunyi sekalipun.
"Doa yang paling dalam bukan selalu yang terucap, tetapi yang paling tulus dirasakan." - Hafasa Academy
