Senin, H / 19 Januari 2026

Dihadapan Prabowo, Mensos Bakal Paparkan Dampak Nyata TalentDNA-ESQ Saat Peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin 12 Jan 2026 05:53 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, BANJARBARU - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan akan menghadiri peresmian Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru yang akan digelar di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin 12 Januari 2026.


Momentum peresmian nasional Sekolah Rakyat ini mengusung tagline 'Cerdas Bersama, Tumbuh Setara' dan tema Peresmian Sekolah Rakyat dengan tajuk khusus 'Obor Masa Depan Menantang Dunia'.


Kehadiran Presiden dinilai menjadi momentum penting bagi Kementerian Sosial (Kemensos) untuk menyampaikan laporan perkembangan penyelenggaraan program Sekolah Rakyat.


Dalam kegiatan ini, Prabowo dijadwalkan memimpin langsung peresmian Sekolah Rakyat dan didampingi oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.


Prabowo bersama para Menteri Kabinet Merah Putih dan stakeholders terkait akan melakukan peninjauan bangunan dan fasilitas Sekolah Rakyat. Presiden juga direncanakan akan mengajar di Sekolah Rakyat.


Sejumlah pakar pendidikan juga akan terlibat dalam membahas arah dan urgensi program ini, antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 2009-2014 Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Tantan Hermansah, serta Pakar Pendidikan Darmaningtyas. 


Menariknya, perhelatan kali ini juga mendatangkan motivator nasional yakni Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ).


Terinfo, Peresmian Sekolah Rakyat itu akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dari berbagai unsur. Dalam acara tersebut, para siswa Sekolah Rakyat dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan menampilkan sejumlah pertunjukan, mulai dari paduan suara, teater, hingga pidato. 


Gus Ipul mengatakan, peresmian tersebut dimanfaatkan sebagai ajang evaluasi sekaligus pelaporan langsung kepada Presiden terkait pelaksanaan Sekolah Rakyat yang dinilai berjalan dengan baik. Termasuk pelaporan terkait dampak nyata di Sekolah Rakyat setelah menggunaan Life Tools TalentDNA dari ESQ.


Menurutnya, seluruh jajaran Kemensos terlibat aktif memastikan program tersebut berjalan sesuai tujuan.


Berdasarkan data Kemensos ada sebanyak 166 titik Sekolah Rakyat rintisan yang sudah dibangun pada tahun 2025 dengan kapasitas 16 ribu siswa, didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat.


“Jadi ada beberapa tahap di 166 titik ini telah berjalan dengan baik. Ada tantangan, ada dinamika, tapi semuanya bisa diatasi dengan baik oleh para kepala sekolah, oleh para guru, dan juga bantuan dari pemerintah daerah”, ujarnya.


Gus Ipul secara gamblang akan menyampaikan beragam laporan atau evaluasi Program yang telah ataupun akan direalisasikan di Sekolah Rakyat. Salah satunya berkaitan dengan kurikulum belajar di Sekolah Rakyat.


Kurikulum Sekolah Rakyat yang kini tampil dengan wajah baru yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga menitikberatkan pada pembentukan karakter dan keterampilan siswa.


Melalui pendekatan yang humanis, proses penerimaan peserta didik tidak lagi mengandalkan tes akademik semata, melainkan melalui pemetaan potensi untuk mengenali talenta unik setiap anak sejak dini.


Dalam proses belajar mengajar, Sekolah Rakyat telah mengadopsi teknologi digital sepenuhnya. Setiap siswa difasilitasi dengan satu unit laptop dan menggunakan papan tulis digital di kelas. Namun, di balik kecanggihan fasilitas tersebut, inti dari kurikulum ini adalah penguatan karakter dan potensi unik setiap peserta didik.


Pemetaan Potensi Berbasis Artificial Intelligence (AI)


Salah satu terobosan utama dalam sistem ini adalah penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui TalentDNA Mapping. Pada masa matrikulasi di awal semester, selain mendapatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), setiap siswa menjalani pemetaan DNA talenta untuk mengidentifikasi bakat secara mendalam.


TalentDNA dirumuskan berdasarkan konsep pemikiran Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian yang telah dikembangkan sejak 25 tahun lalu. Seiring dengan perkembangan zaman, instrumen ini kini telah bertransformasi ke ranah digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).


TalentDNA adalah sebuah metode untuk mengidentifikasi kecenderungan pola perilaku yang terus berulang, diberbagai situasi secara alami, natural, dan spontan. 


Pola perilaku ini menggambarkan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan, sehingga mempengaruhi bagaimana cara kita merespon dan mengambil keputusan dalam kehidupan, secara otomatis. TalentDNA mengungkap algoritma perilaku manusia, yang membuat setiap orang unik dan berbeda.


Gus Ipul optimis bahwa hasil pengukuran berbasis AI ini sangat akurat. Dari hampir 16 ribu total siswa Sekolah Rakyat rintisan, ditemukan data pemetaan yang sangat spesifik:


 * 34,3% (4.659 siswa): Berpotensi besar di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM).


 * 54,2% (7.353 siswa): Berpotensi kuat di bidang Sosial.


 * 11,5% (1.560 siswa): Menunjukkan bakat menonjol di bidang Bahasa.


"Hasil pemetaan ini sangat penting sebagai pegangan bagi kepala sekolah, guru, wali asuh, dan wali asrama dalam memberikan pengajaran yang tepat sasaran selama beberapa tahun ke depan," tambah Gus Ipul.


Strategi Hilirisasi dan Masa Depan Lulusan


Sekolah Rakyat tidak hanya mendidik, tetapi juga menyiapkan proses hilirisasi siswa. Melalui hasil TalentDNA Mapping, siswa dibimbing secara spesifik sesuai minat mereka, apakah akan melanjutkan pendidikan tinggi atau langsung terjun ke dunia kerja.


Untuk mendukung visi ini, Kementerian Sosial (Kemensos) telah menjalin kolaborasi strategis dengan berbagai pihak:


 * Beasiswa Pendidikan: Bekerja sama dengan Universitas Ary Ginanjar (UAG) dan ESQ Business School untuk memfasilitasi lulusan berprestasi.


 * Kesiapan Kerja: Berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) bagi siswa yang memilih untuk langsung berkarir setelah lulus.


Dengan integrasi antara teknologi AI dan pendampingan karakter, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model pendidikan nasional yang mampu mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan sesuai dengan jati diri masing-masing anak Indonesia.


"Kami dengan Pak Wamen, Pak Sekjen, seluruh jajaran Sekolah Rakyat ingin ini menjadi bagian dari laporan ke Presiden bahwa penyelenggaraan Sekolah Rakyat telah berjalan dengan baik," kata Gus Ipul.


Kata Guru Sekolah Rakyat


Pemerintah menilai penguatan kapasitas guru menjadi prasyarat penting agar Sekolah Rakyat benar-benar mampu mencetak generasi yang berdaya, mandiri, dan siap berkontribusi bagi pembangunan jangka panjang. Agar para guru bisa mencetak generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.


Untuk itu, Sabirin, guru Sosiologi di SMA Sekolah Rakyat Integrasi Segera Banjarbaru, menyatakan rasa syukur dan bangganya atas terpilihnya sekolah mereka (untuk Peresmian Sekolah Rakyat).


"Ini adalah momen besar bagi kami. Tidak hanya dihadiri siswa kami, tetapi juga perwakilan siswa dan guru dari seluruh Indonesia serta para pejabat daerah," ujarnya. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menandai babak baru dalam transformasi pendidikan di Indonesia yang lebih inklusif dan berbasis potensi.


Menurutnya, di balik berdirinya Sekolah Rakyat, terdapat sosok penting yakni Ary Ginanjar Agustian yang memperkenalkan life tools TalentDNA. 


Katanya, Teknologi ini terbukti menjadi kunci bagi para pendidik di Sekolah Rakyat Integrasi Segera Banjarbaru untuk membedah potensi diri mereka maupun para siswa. 


Sabirin, salah satu tenaga pengajar, menceritakan pengalamannya menemukan jati diri sebagai "Guru Inovatif" melalui alat tersebut.


"Dulu saya merasa sifat inovatif adalah kekurangan, namun setelah diuji melalui TalentDNA, saya menyadari itu adalah kekuatan saya untuk menciptakan metode belajar yang menyenangkan dan tidak monoton," jelas Sabirin. 


Lebih lanjut, "Penggunaan TalentDNA ini sangat membantu guru dalam melakukan asesmen diagnostik yang lebih presisi, mulai dari menentukan gaya belajar siswa (auditori, visual, atau kinestetik) hingga membantu siswa yang sebelumnya putus sekolah untuk kembali bisa membaca dan berprestasi."


Sebagai guru Sosiologi, ia melihat langsung bagaimana teknologi TalentDNA yang digagas Ary Ginanjar Agustian mampu mengubah masa depan anak didiknya. 


Di lingkungan sekolah yang berasrama dan jauh dari gangguan gawai, para siswa didorong untuk fokus mengenali minat dan bakat mereka—apakah akan melanjutkan ke bangku perkuliahan atau berwirausaha.


Salah satu dampak nyata yang ia rasakan adalah keberhasilan sekolah dalam memfasilitasi siswa yang sempat tertinggal. Melalui kelas khusus yang menjaga privasi, guru-guru meluangkan waktu ekstra untuk memastikan setiap anak bisa membaca dan mengejar ketertinggalan tanpa rasa malu. 


"Saya sangat yakin, dengan mengenali potensi setiap anak sejak dini, kita sedang menyiapkan fondasi kuat untuk menciptakan Generasi Emas Indonesia 2045," pungkas Sabirin dengan penuh optimisme.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA