ESQNews.id, JAKARTA - Malam itu sesi coaching terasa berbeda. Seorang peserta duduk di hadapan saya dengan wajah yang tampak tenang, tetapi matanya menyimpan kegelisahan.
"Sava merasa sudah melakukan banyak hal, tetapi hati saya tetap kosong," katanya pelan.
Saya tidak langsung menjawab. Saya hanya bertanya, "Dalam semua yang kita lakukan, untuk siapa sebenarnya kita melangkah?"
la terdiam.
Ruangan menjadi hening. Pertanyaan itu seperti menggantung di udara, menunggu kejujuran.
Beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang. "Mungkin terlalu banyak untuk orang lain, dan terlalu sedikit untuk Allah," jawabnya lirih.
Saya mengangguk pelan.
Saya kembali bertanya,
"Kalau kita diberi kesempatan untuk mengulang dengan niat yang lebih lurus, apa yang ingin kita perbaiki?"
Air matanya mulai jatuh.
Di situlah saya menyadari, coaching bukan sekadar proses mencari solusi, tetapi bisa menjadi jalan muhasabah, ruang untuk kembali melihat diri dengan jujur, tanpa topeng, tanpa pembelaan.
Sesi itu tidak menghasilkan rencana besar. Tidak ada target baru yang dibuat. Namun ada sesuatu yang jauh lebih penting, kesadaran.
Menjelang akhir sesi, ia tersenyum. "Saya ingin memulai lagi, dengan niat yang lebih benar," katanya.
Saya tersenyum. Hati saya ikut hangat.
Karena saya tahu, ketika hati sudah kembali pada niat yang lurus, langkah berikutnya akan menemukan jalannya.
Kadang kita tidak membutuhkan lebih banyak strategi, tetapi lebih banyak kejujuran pada diri sendiri. Muhasabah adalah awal dari perubahan yang sejati.
Mari kita luangkan waktu untuk berhenti sejenak. Kita tanyakan pada diri, apa yang kita kejar, dan untuk siapa kita melangkah.
Kita luruskan niat, kita benahi hati, dan kita jalani hidup dengan kesadaran yang lebih dalam.
Karena perubahan yang kuat selalu dimulai dari dalam.
"Perbaiki apa yang ada di dalam dirimu, maka Allah akan memperbaiki apa yang ada di sekitarmu."
