Riset Global Parents Survey 2018 yang dilakukan oleh Valkrey Fondation menyebutkan orangtua Indonesia
adalah yang paling tidak cemas terhadap masa depan anak-anak mereka. Data
tersebut dipaparkan oleh Direktur Jendral PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar pada
Diskusi Kelompok Terpumpun Pendidikan Keluarga dalam Peningkatan Kemitraan pada
Senin (17/6) di Holel Century Park.
Acara yang berlangsung satu hari ini dihadiri sekitar 40
orang pegiat pendidikan keluarga. Selain Direktur Pembinaan dan Pedidikan Keluarga
(Bindikkel) Sukiman, hadir beberapa tokoh pendidikan seperti Munif Chatib, Yessy Gusman, Irwan Rinaldi, Melly Kiong, dan masih banyak yang lainnya.
Selain fakta di atas, Harris juga menunjukkan data bahwa orangtua Indonesia berada di peringkat
ketiga secara global, yang menyatakan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang
kebahagiaan putra-putri mereka di sekolah. Sedangkan 9 dari 10 orangtua (86%)
yakin bahwa sekolah mampu menyiapkan masa depan anak-anak mereka, kedua
tertinggi tingkat kepercayaan setelah India (88%). Menurut Harris, data tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa orangtua di Indonesia masih menyandarkan pendidikan pada pihak sekolah.
Merujuk pada Trisentra Pendidikan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, lanjut Harris pendidikan itu harus bersinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Keberadaan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga untuk mendorong terwujudnya trisentra pendidikan. “Kalau kita lihat sekarang gravity-nya masih di sekolah, satuan pendidikan!” ujar Harris.
Kehadiran direktorat Pendidikan Keluarga salah satu misi
utama mensinergikan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat
“Khitohnya ke sana. Karena Pendidikan Keluarga pendidikan
yang pertama dan pengaruhnya besar,” ujar Harris kembali menekankan.
Merespon isu Pendidikan Keluarga di Era Industri 4.0,
masalah dan tantangan pendidikan keluarga, maka beberapa hal dikaji dalam
pertemuan tersebut. Informasi kebijakan
Kemandikbud tentang Pendidikan Keluarga, implemantasi Pendidikan Keluarga, dan
persiapan kegiatan Kongres Orangtua pertama dan akan dihadiri sekitar 1000, juga menjadi topik yang dikaji dengan intens dalam kegiatan tersebut.