ESQNews.id, BANDUNG – Di tengah gempuran era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang semakin mendominasi ruang kelas, sosok Founder ESQ Corp, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, memberikan pengingat krusial: teknologi bisa menggantikan otak, namun tidak akan pernah bisa menggantikan hati seorang guru.
Pesan mendalam ini disampaikan Ary Ginanjar saat menghadiri puncak rangkaian Training ESQ Peduli Pendidikan bagi 1.000 guru se-Jawa Barat secara gratis di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung, Jumat (13/3/2026).
Dalam momen yang menggugah jiwa, Ary Ginanjar mengajak ribuan pendidik melakukan refleksi mendalam mengenai hakikat mengajar. Ia mengutip pemikiran Aristoteles: “Mendidik otak tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan yang sesungguhnya.”
"Jika kita hanya mengajarkan intelektualitas tanpa menyentuh hati dan kecerdasan spiritual, kita sedang mencetak generasi yang rentan kehilangan arah," tegas Ary Ginanjar di hadapan para pendidik yang hadir.
Ia menyoroti fenomena memprihatinkan di mana banyak siswa kehilangan daya tahan mental (resilience) dan terjebak perilaku menyimpang.
Menurut Ary, hal ini terjadi karena pusat kejujuran, rasa bersalah, dan empati (God Spot) dalam diri manusia kurang terasah akibat terlalu fokus pada pembelajaran konvensional yang hanya menyasar IQ.
"Di era disrupsi ini, ketika otot bisa digantikan robot dan otak digantikan AI, peran guru yang mampu menyentuh hati dan membangun karakter siswa adalah hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun," jelasnya.
Program kolaboratif ini merupakan hasil sinergi lintas instansi, mulai dari Disdik Jabar, ESQ, FKA ESQ, STIKes Dharma Husada Bandung, UPZ Baznas STIKes Dharma Husada, Quran Cordoba, Nur Quran Indonesia, hingga PGRI. Hadir dalam acara tersebut Waketum FKA ESQ Komjen. Pol. (Purn.) Nanan Soekarna.
Ketua Korwil FKA ESQ Jawa Barat, Yusuf Haryasa, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah respons konkret atas data kesehatan mental siswa di Kota Bandung yang cukup mengkhawatirkan.
Sebanyak 10.000 siswa terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental, yang menuntut adanya asesmen awal yang lebih kuat dari guru Bimbingan Konseling (BK).
"Kita tidak perlu banyak berteori. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan memberikan energi dan keyakinan yang kuat. Itulah mengapa kami mengundang guru BK untuk bergabung, agar mereka mampu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan mendampingi siswa dengan pendekatan spiritual," ujar Yusuf.
Berbeda dengan seminar biasa, 500 peserta di batch terakhir ini diajak mengikuti experience training yang dipandu oleh Coach Yendra dan Coach Tiko.
Metode ini dirancang agar para guru tidak hanya menerima teori, tetapi mengalami transformasi spiritual yang menyentuh relung hati.
Di akhir sesinya, Ary Ginanjar memberikan pesan yang membakar semangat para guru: "Bapak dan Ibu guru adalah garda terdepan. Mari selamatkan jutaan anak Indonesia dengan memberikan hak mereka akan pendidikan spiritualitas. Jangan biarkan anak-anak kita cerdas secara intelektual namun kering secara hati."
Acara pun ditutup dengan gemuruh semangat "Sukses, Bahagia, Barokah" yang membakar tekad para guru untuk kembali ke sekolah sebagai agen perubahan bagi generasi emas Indonesia.