Selasa, H / 04 Oktober 2022

Masjid Nabawi akan Mengizinkan Tradisi Buka Puasa Bersama di Bawah Protokol yang Ketat setelah Jeda 2 Tahun

Senin 17 Jan 2022 13:51 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: aljazeera.com

ESQNews.id, JAKARTA - Dilansir dari Saudi Gazette, Badan Urusan Masjid Nabawi di Madinah pada hari Kamis mengumumkan rencana untuk melanjutkan program buka puasa massal di masjid selama bulan suci Ramadhan mendatang setelah jeda dua tahun.


Program buka puasa telah ditangguhkan sebagai bagian dari tindakan pencegahan menyusul merebaknya pandemi virus corona sejak Ramadhan 1441, yang dimulai pada 24 April 2020.


Badan tersebut mengatakan dimulainya kembali buka puasa di Masjid Nabawi akan berada di bawah protokol kesehatan yang ketat untuk membendung penyebaran virus corona. Hanya orang-orang yang memiliki izin untuk menyebarkan iftar sofra (menyebar di mana makanan diletakkan) yang akan diizinkan melakukannya di tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Jumlah pasti jemaah yang diperbolehkan di masing-masing sofra akan diinformasikan kemudian setelah meninjau situasi pandemi.


Agensi menekankan bahwa penyedia makanan buka puasa harus menyelesaikan kontrak dengan perusahaan katering yang disetujui untuk menyiapkan makanan, dan membatasi jumlah orang di satu sofra menjadi 5 orang dalam hal penerapan peraturan untuk menjaga jarak sosial, dan 12 orang jika terjadi tidak menerapkan langkah-langkah jarak sosial.


Aturannya juga termasuk tempat duduk di satu sisi sofa, menghadap kiblat. Mereka yang memiliki izin untuk menyediakan layanan makanan berbuka puasa harus memperbarui data mereka efektif mulai awal bulan Rajab (2 Februari 2022), tambah agensi tersebut.




Kepresidenan Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci telah menangguhkan penyebaran sofra berbuka puasa dan melakukan itikaf (praktik tinggal di masjid untuk beribadah untuk jangka waktu tertentu) di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah selama dua musim terakhir Ramadhan sebagai bagian dari protokol virus corona.


Namun, kepresidenan membuat pengaturan untuk mendistribusikan makanan buka puasa individu bagi mereka yang mengunjungi Masjidil Haram di bawah langkah-langkah ketat. Hanya air kemasan dan paket kurma yang diizinkan untuk disajikan di dalam kawasan Masjidil Haram.


Sebelum merebaknya pandemi, buka puasa massal di Masjid Nabawi selama Ramadhan dulunya digunakan untuk memberikan pengalaman spiritual yang unik tidak hanya bagi masyarakat Madinah tetapi juga bagi ratusan ribu peziarah dan pengunjung yang datang ke kota suci tersebut dari berbagai penjuru. Dunia.


<more>


Sofra berbuka puasa di Masjid Nabawi dianggap sebagai meja makan terpanjang di dunia. Kurma, roti, yoghurt, kopi Arab, dan air minum kemasan dipasok secara melimpah untuk memenuhi kebutuhan jamaah yang berbuka puasa di masjid yang terus meningkat.


Hidangan berat seperti kabsa, mandi, daging, nasi, serta buah-buahan dan jus disajikan di halaman yang teduh di sekitar masjid di mana ada bagian terpisah untuk wanita. Pengaturan besar-besaran dan rumit untuk buka puasa dilakukan di dalam dan di luar masjid dengan jamaah memenuhi semua sudutnya.


Menurut sumber, ada sekitar 30.000 sofra tersebar di masjid dan 63.000 sofra di halaman yang teduh selama bulan suci sebelum pecahnya pandemi.


Lebih dari 10.000 penduduk Madinah biasa mengatur makanan berbuka puasa di Masjid Nabawi dan halamannya. Seluruh ruang di dalam Masjidil Haram dulunya disediakan oleh penduduk Madinah untuk mengadakan acara buka puasa bersama. Beberapa dari mereka mewarisi ruang dari nenek moyang mereka yang memulai perbuatan mulia ini beberapa dekade atau bahkan berabad-abad yang lalu. (MS)


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA