Minggu, H / 29 Januari 2023

Yugoslavia: Negara yang Hilang (bagian 1)

Senin 13 May 2019 09:58 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Josip Broz Tito

Foto: Slavorum

ESQNews.id, JAKARTA - “Akan kupersembahkan seluruh kehidupanku demi membangun kejayaan Yoguslavia, tidak saja kejayaan secara geografis tapi juga kejayaan dalam semangatnya, dan demi mempertahankan netralitas dan kedaulatannya yang telah terbentuk melalui pengorbanan sangat besar dalam perang besar yang terakhir, perang dunia II.”

Pidato berapi-api itu diucapkan lelaki bertubuh tambun, di hadapan ribuan rakyat Yoguslavia beberapa waktu seusai perang. Ucapan itu amat terkenal dan belakangan terbukti, Tito benar-benar mewujudkan janjinya itu. Yugoslavia yang identik dengan Josip Broz Tito menjadi sebuah negara yang disegani dan diperhitungkan, bahkan oleh negara adidaya: Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Bukan apa-apa tempat terhormat bagi negeri yang pernah dipimpin Raja Peter II itu diperoleh berkat kepiawaian Tito bermain di pentas politik Internasional. Ia memberi model tersendiri bagi sosialisme di negerinya, yang memungkinkan hubungan baik dengan Barat. Sebaliknya, dia ikut berperan dalam membangun jalinan hubungan yang erat dan kuat antara negara-negara di Dunia Ketiga di bawah bendera Gerakan Nonblok.

Lahir pada 7 Mei 1892 di Desa Kumrovec di wilayah Hrvatsko Zagorje, Kroasia-Slovenia. Yang pernah berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Austria-Hungaria. Nama aslinya Josip Broz, dan di kemudian hari ia menambahkan nama “Tito” di belakangnya.

Tak ada keterangan pasti mengapa ia menggunakan nama itu. Ada yang menebak, nama itu berasal dari Bahasa Kroasia: Ti bermakna “Anda” dan To berarti “itu.” Dua kata tersebut kerap digunakannya selama memimpin di masa-masa perjuangan: ia menunjuk seseorang, lalu mengeluarkan perintah untuk melakukan tugas tertentu. Versi ini disebut-sebut oleh pakar sejarah Fitzroy Maclean dalam bukunya, Eastern Approach (1949).

Penulis biografinya, Vladimir Dedijer mengungkap cerita lain. Tito adalah nama kuno dan tidak biasa di kalangan orang-orang Kroasia, tapi sangat populer di kalangan masyarakat Zagorje. Nama itu adaptasi dari nama pengarang roman asal Krosia, Titus Brezovacki. Dalam sebuah wawancara, Tito mengaku nama itu sangat populer di daerahnya, dan itu alasan utama mengapa ia menggunakannya.

Tanggal kelahirannya pun cukup kontroversial. Walau persisnya lahir tanggal 7 Mei, Tito sendiri lebih suka merayakan ulang tahunnya pada 25 Mei. Itu dilakukannya setelah menjadi presiden Yugoslavia, guna menandai kegagalan Nazi Jerman untuk melenyapkan dirinya pada 25 Mei 1944. Jerman menemukan dokumen palsu tentang tanggal kelahiran Tito, yakni 25 Mei. Mereka menyerang Tito persis pada tanggal yang diyakini sebagai hari kelahirannya!

Tito lahir dan dibesarkan dalam keluarga petani miskin. Ia berdarah campuran: ayahnya, Franjo Broz berkebangsaan Kroasia, sedangkan ibunya, Marija berdarah Slovenia. Setelah beberapa tahun menghabiskan masa kecilnya bersama kakek dari pihak ibunya di Desa Podsreda, di usia sekolah ia kembali ke Kumrovek. Di sekolah dasar empat tahun, Tito sempat tidak naik kelas, dan ia baru lulus pada 1905.

Mulai tahun 1907, Tito meninggalkan sama sekali kehidupan pedesaan. Hingga 1913, ia menjajal sejumlah pekerjaan. Awalnya, ia sempat magang sebagai masinis kereta api di kawasan Sisak. Profesi itu membuka matanya tentang gerakan buruh, dan untuk pertama kalinya ikut merayakan Hari Buruh 1 Mei. Lalu, pada 1910, ia bergabung dengan Serikat Buruh Metalurgi sekaligus anggota Partai Sosialis-Demokrat Kroasia-Slovenia. Ia juga sempat bekerja di pabrik mobil Benz, dan menjadi pengemudi bagian pengetesan di pabrik mobil Daimler, Austria.



Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA