Minggu, H / 05 April 2020

Memaklumi Setiap Kepergian

Kamis 16 Jan 2020 14:40 WIB

Author :M. Nurroziqi

Ilustrasi

Foto: Google pics


Oleh: M. Nurroziqi

 

ESQNews.id - "Siapa mengakui yang bukan miliknya, maka akan terbelenggulah ia lahir dan batin."

 

Kapan kita belajar merelakan? Kapan kita berusaha keras untuk bisa mengikhlaskan?


Atas dua peristiwa itu, merelakan dan mengiklaskanseringkali datang secara terlambat. Akhirnya, ada satu keterpaksaan hebat yang musti dijalani untuk sampai pada kondisi diri yang benar-benar bisa merelakan dan mengikhlaskan. Kapan itu terjadi? 


Pada saat diri benar-benar merasa kehilangan, barulah terperangah bahwa semua akan mengalami proses meninggalkan dan ditinggalkan. Apapun itu bentuknya. Pada saat diri mengalami luka yang teramat sangat dalam. Ketika diri sudah berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk benar-benar memiliki.


Di saat yang jiwa, hati, dan seluruh nurani terpenjara oleh apa-apa yang dianggap sebagai yang memilikinya, tiba-tiba terguncang hebat karena semua yang dimiliki harus pergi. Di situlah, merelakan dan mengikhlaskan dipaksakan demi mencapai titik tenang atas satu peristiwa yang sesungguhnya sangat tidak diinginkan.


Ibarat harus berpisah pada saat sayang-sayangnya. Tentu, semua akan meninggalkan bekas luka mendalam yang akan sulit disembuhkan. Kenangan-kenangan yang pernah ada akan semakin menjadikan diri terluka hebat dan sulit beranjak untuk hidup yang lebih nikmat.

<more>

Inilah satu keterlambatan belajar yang berdampak pada ketersiksaan batin yang sedemikian menghujam dan sangat sulit disembuhkan.


Sebenarnya, semua terjadi lantaran kita memposisikan diri sebagai yang terpenjara. Terpenjara atas rasa kepemilikan kita sendiri terhadap segala apa yang sejatinya hanya titipan. Jika sejak semula, semua yang ada disadari hanya sebatas titipan dari Yang Maha Menitipkan, maka hati akan menjadi sangat rileks dan santai ketika semuanya harus kembali kepada Yang Maha Menitipkan.


Tidak harus tersiksa oleh rasa kehilangan. Tidak harus terluka oleh rasa ditinggalkan. Semua hanya titipan. Dan namanya titipan, pasti akan kembali diambil olehyang menitipkan.


Ini tidak hanya tentang kekasih hati yang pergi. Tidak melulu mengenai orang-orang tercinta yang musti saling meninggalkan. Juga tidak semata tentang harta benda yang sekejap datang dan pergi begitu saja. Tetapi yang lebih utama adalah bangunan kuat pondasi diri untuk bisa ikhlas atas setiap amal perbuatan yang dikerjakan.


Kenapa kita tidak gampang ikhlas ketika bersedekah? Kenapa kita sering berpamrih ini dan itu ketika membantu sesama? Kenapa masih harus mendapatkan apa-apa ketika bertindak melakukan apa-apa? Ini tidak lain adalah ketidak-sanggupandiri menyadari bahwa semua adalah berkat perkenan Allah Swt. Semua tidak lain karena kita sendiri merasa bisa, merasa memiliki atas segala rupa yang ada.


Bandingkan, jika sejak awal kita sudah benar-benar menyadari bahwa semua bermula dari Allah Swt. Dan semua yang ada pada diri kita tidak lebih hanya titipan semata. Semua sekadar mampir lewat di dalam ruang kehidupan kita. Yang pada akhirnya, cepat ataupun lambat, semua akan mengalami proses meninggalkan dan ditinggalkan.


Semua akan kembali kepada satu tujuan. Allah Swt. Dengan kesadaran yang demikian, semua akan terjalani dengan sangat ringan dan sangat menyenangkan. Tidak akan ada beban yang memberati diri jika saatnya memang harus terjadi.


Selain tidak akan tersentuh luka dan derita ketika musti ada yang pergi meninggalkan. Maka, menyadari bahwa semua memang berasal dan kembali kepada Allah Swt akan menjadikan diri semakin terjaga dari sifat sombong dan tinggi hati. Di saat bersedekah, misalnya.


Pasti diri mensyukuri bahwa Allah Swt telah menakdirkan untuk bisa bersedekah. Dan harta yang disedekahkan adalah titipan-Nya yang mustiditashorrufkan secara benar. Karena semua diawali dari Allah Swt, maka diri tidak akan pernah berani untuk berpamrih dan merasa bisa atas segala apa yang sudah dikerjakan. Akhirnya, semua akan terjalani dengan sangat ikhlas dan menyenangkan.


Demikian pun dengan segala rupa takdir kehidupan yang musti dijalani. Atas ikhtiar yang belum pernah kesampaian. Atas keinginan diri yang belum menuai hasil. Hal-hal yang dikasihi harus datang dan pergi silih berganti. Jika semua dikembalikan kepada Allah Swt, pasti segera selesai dan menjadikan hati semakin tenang dan tentram.


Untuk itu, mari memperbaiki kembali keimanan kita kepada Allah Swt. Menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa kita sebagai manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apapuntanpa perkenan-Nya. Bahwa setiap hal yang terjadi, tidak luput dari qadha dan qadar-Nya.

 

*M. Nurroziqi. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku-buku Motivasi Islam.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA