Sabtu, H / 04 April 2020

HOS Tjokroaminoto, Guru Para Pejuang (Bagian 2)

Senin 06 May 2019 14:09 WIB

Author :Erwyn Kurniawan

Kisah Inspiratif dari Sosok HOS Tjokroaminoto

Foto: Kompasiana.com

ESQNews.id, JAKARTA - Perkembangan pesat SI lebih disebabkan citra Islam, yang menjadi magnet utamanya. Apalagi, SI adalah tempat berkumpulnya para tokoh Islam terkemuka, sebut saja KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, AM Sangadji, Mohammad Roem, Fachrudin, Abdoel Moeis, Ahmad Sjadzili, Djojosoediro, Hisamzainie, dan lain-lainnya. orang-orang besar itu sangat dikagumi dan menjadi panutan bagi sekalian rakyat.

 

Dalam memimpin, Tjokro banyak melakukan tindakan-tindakan yang seringkali membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Antusiasme rakyat terhadap SI membuat kaum kolonialis khawatir akan timbulnya perlawanan massal di kelak di kemudian hari. Tjokro pernah pula memimpin aksi buruh, membuka ruang pengaduan untuk rakyat di rumah dan di kantornya, membela kepentingan kaum kromo lewat pidato dan tulisannya di media pergerakan, mengetuai dibentuknya komite Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) untuk memertahankan kehormatan Islam, serta memantik rasa kebangsaan Indonesia dengan menggencarkan gagasan soal pemerintahan sendiri untuk orang Indonesia atau zelfbestuur.

 

Ketakutan pemerintah kolonial terhadap sepak-terjang Tjokroaminoto dan SI membuat mereka terpaksa merangkulnya untuk didudukkan sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat. Penunjukan Tjokro itu membuat beberapa golongan di internal SI, terutama dari SI Semarang yang dimotori Semaoen dan Darsono , menentang kebijakan tersebut. Mereka juga tidak sepakat dengan dukungan Tjokroaminoto terhadap rencana pembentukkan milisi bumiputera.


Baca juga: HOS Tjokroaminoto, Guru Para Pejuang (Bagian 1)

 

Tjokro juga seorang jurnalis. Ia pernah memimpin suratkabar Oetoesan Hindia yang merupakan organ internal SI sekaligus sebagai pemilik usaha percetakkan Setia Oesaha di Surabaya. Juga pernah terlibat dalam Bendera Islam bersama Agus Salim, Soekarno, Mr. Sartono, Sjahbudin Latief, Mohammad Roem, AM Sangadji, serta akitvis Islam dan nasionalis lainnya. Fadjar Asia pun terbit sebagai suratkabar pembela rakyat berkat kerja kerasnya bersama Agus Salim dan Kartosoewirjo. Tjokroaminoto pun piawai menulis buku, di antaranya adalah dua buku yang diberi judul Tarich Agama Islam serta Islam dan Sosialisme.

 

Tjokroaminoto menguasai Bahasa Jawa, Belanda, Melayu dan bahasa Inggris. Bahasa Jawa mengandung kelembutan dalam bentuk dan wujudnya, juga dalam pengucapannya. Namun, dalam kata-kata lembut itu, termuat maksud dan isi yang tajam, serta seringkali berupa kiasan atau sindiran yang tak kalah menohok, dan itulah yang sering dilakukan Tjokro untuk “Menghabisi” lawan bicaranya.

 

Tjokroaminoto wafat pada 1934 dan dimakamkan di Pakuncen, Yogyakarta. Ia tak sempat menghirup udara kemerdekaan yang diperjuangkan oleh murid-muridnya, termasuk Soekarno, yang menjadi proklamator.


Pernah diterbitkan di ESQ Magazine No. 02/V Januari 2009


Baca juga: HOS Tjokroaminoto, Guru Para Pejuang (Bagian 3)


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA